Liputan6.com, Jakarta - Kota Tua Jakarta, yang juga dikenal sebagai Batavia Lama atau Oud Batavia, adalah sebuah kawasan bersejarah yang memukau di jantung ibu kota Indonesia. Wilayah ini membentang seluas sekitar 1,3 kilometer persegi, meliputi area Pinangsia, Taman Sari, dan Roa Malaka di Jakarta Utara serta Jakarta Barat. Kawasan ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban, mulai dari era kerajaan lokal hingga dominasi kolonial Belanda, yang kini berpadu harmonis dengan denyut modernisasi kota.
Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan, Kota Tua Jakarta tidak hanya menawarkan pemandangan bangunan-bangunan kuno yang megah, tetapi juga sebuah perjalanan edukatif melintasi waktu. Pengunjung dapat merasakan atmosfer masa lalu yang kental sembari menikmati berbagai fasilitas dan aktivitas yang telah direvitalisasi. Keberadaan kawasan ini menjadi pengingat penting akan kekayaan sejarah dan budaya yang dimiliki Indonesia.
Dari jejak penaklukan Fatahillah hingga pembangunan kembali oleh VOC, setiap sudut Kota Tua menyimpan cerita yang menarik untuk digali. Upaya pelestarian dan revitalisasi yang berkelanjutan telah mengubahnya menjadi sebuah ruang publik yang dinamis, menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara. Kawasan ini merupakan perpaduan unik antara warisan kolonial dan semangat urban kontemporer.
Berikut ulasan selengkapnya.
Latar Belakang Sejarah Kota Tua Jakarta
Sejarah Kota Tua Jakarta berawal pada tahun 1526, ketika Fatahillah, seorang utusan dari Kesultanan Demak, berhasil menaklukkan Pelabuhan Sunda Kelapa yang saat itu di bawah kekuasaan Kerajaan Hindu Pajajaran. Kemenangan ini menandai pergantian nama wilayah tersebut menjadi Jayakarta, sebuah tonggak penting dalam sejarah awal kota. Peristiwa ini menjadi fondasi bagi perkembangan wilayah yang kelak menjadi pusat perdagangan dan kekuasaan.
Era kolonial Belanda dimulai pada tahun 1619, saat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen, menyerang dan menghancurkan Jayakarta. Setahun kemudian, VOC membangun kembali kota tersebut di atas reruntuhan Jayakarta dan menamainya Batavia, sebagai penghormatan kepada Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Batavia dirancang dengan gaya Eropa, lengkap dengan benteng Kasteel Batavia, dinding kota, dan kanal-kanal yang menjadi ciri khasnya.
Batavia kemudian berfungsi sebagai kantor pusat VOC di Hindia Timur dan menjadi pusat perdagangan Asia yang sangat vital. Nama Batavia digunakan secara resmi dari tahun 1621 hingga 1942, meninggalkan jejak budaya yang mendalam. Penduduk Batavia, yang dikenal sebagai "Batavianen" dan kemudian menjadi cikal bakal suku Betawi, merupakan perpaduan beragam etnis yang menetap di kota ini.
Pentingnya pelestarian sejarah Kota Tua semakin diakui pada tahun 1972, ketika Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengeluarkan dekret yang menetapkan kawasan ini sebagai situs warisan. Keputusan ini bertujuan untuk melindungi warisan arsitektur dan bangunan bersejarah yang tersisa. Selanjutnya, pada tahun 1975, Kota Tua ditetapkan sebagai 'area restorasi', dengan banyak bangunan bersejarah yang diubah fungsinya menjadi museum, memastikan kisah masa lalu tetap hidup.
Warisan Arsitektur Kolonial yang Memukau
Bangunan-bangunan di Kota Tua Jakarta menampilkan gaya arsitektur Eropa, khususnya Barok dan Neoklasik, yang telah mengalami akulturasi dengan budaya serta kondisi geografis tropis Indonesia. Adaptasi ini melahirkan gaya arsitektur khas yang dikenal sebagai Indis, sebuah perpaduan unik antara Barat dan Timur. Ciri khas gaya Indis meliputi jendela besar untuk sirkulasi udara, atap tinggi, serta beranda luas yang berfungsi melindungi dari panas dan hujan tropis.
Salah satu ikon utama adalah Taman Fatahillah, sebuah alun-alun luas yang kini menjadi pusat aktivitas wisatawan dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah. Di sekeliling taman ini berdiri megah Museum Fatahillah, yang dulunya merupakan Balai Kota Batavia (Stadhuis) yang dibangun pada tahun 1707 dan diresmikan pada 1710. Museum ini menyimpan koleksi berharga dari masa prasejarah kota, pendirian Jayakarta, hingga era kolonial Belanda dan kemerdekaan, termasuk peta kuno, meriam, dan alat eksekusi, bahkan penjara bawah tanah.
Selain Museum Fatahillah, beberapa bangunan ikonik lainnya turut memperkaya pesona Kota Tua. Ada Museum Wayang yang menampilkan koleksi wayang dari berbagai daerah serta makam Jan Pieterszoon Coen, dan Toko Merah yang dibangun pada 1730 dengan warna merah menyala serta fasad khas Belanda, dulunya kediaman Gubernur Jenderal VOC. Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bank Indonesia yang dulunya De Javasche Bank, serta Museum Bahari di gudang VOC abad ke-17 juga menjadi daya tarik utama.
Kawasan ini juga memiliki Stasiun Jakarta Kota, salah satu stasiun kereta api tertua di Jakarta yang masih beroperasi dengan arsitektur Eropa, serta Jembatan Kota Intan, jembatan tertua yang dibangun VOC. Kali Besar yang telah direvitalisasi kini menawarkan area promenade yang indah. Tempat menarik lainnya termasuk Gereja Sion, Gedung Arsip Nasional, Gedung Chandranaya, Vihara Jin De Yuan, Petak Sembilan, dan Pecinan Glodok, yang semuanya menambah kekayaan sejarah dan budaya Kota Tua.
Signifikansi Budaya dan Edukasi di Kota Tua
Kota Tua Jakarta bukan sekadar destinasi wisata untuk berfoto, melainkan sebuah pusat warisan dan edukasi sejarah yang hidup, menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan masa depan. Kawasan ini menawarkan pengalaman belajar yang imersif bagi pengunjung dari berbagai usia. Melalui bangunan, museum, dan cerita yang melekat di setiap sudutnya, Kota Tua menjadi jendela untuk memahami akar sejarah bangsa.
Sebagai destinasi wisata budaya, Kota Tua menyajikan pengalaman yang kaya dengan bangunan kolonial yang terpelihara, beragam museum, kafe-kafe yang nyaman, dan pasar seni yang ramai. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan seni jalanan, berinteraksi dengan seniman lokal, atau sekadar menikmati suasana unik yang ditawarkan. Ini adalah tempat di mana sejarah dan kreativitas bertemu dalam harmoni.
Kawasan ini juga memiliki warisan tak berwujud yang kompleks dan multikultural, salah satunya adalah musik Keroncong yang dipengaruhi Portugis, menunjukkan perpaduan budaya yang telah terjadi sejak lama. Keberagaman ini tercermin dalam arsitektur, kuliner, dan tradisi yang masih dapat ditemukan di sekitar Kota Tua. Ini membuktikan betapa dinamisnya interaksi budaya di masa lalu.
Tidak jauh dari pusat Kota Tua, terdapat Pelabuhan Sunda Kelapa yang masih berfungsi dan menjadi rumah bagi warisan pelayaran yang kaya, dengan kapal-kapal tradisional Phinisi yang megah. Pelabuhan ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi maritim Indonesia terus hidup dan berkembang. Keberadaan pelabuhan ini melengkapi narasi sejarah Kota Tua sebagai pusat perdagangan penting di masa lampau.
Revitalisasi dan Integrasi Modern Kota Tua
Upaya revitalisasi Kota Tua Jakarta telah berlangsung secara berkelanjutan, dimulai sejak Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mengeluarkan dekret perlindungan pada tahun 1972. Program ini terus berlanjut hingga saat ini dengan tujuan mengembalikan kejayaan kawasan sebagai destinasi wisata bersejarah yang nyaman dan menarik. Pada tahun 2014, PT Pembangunan Kota Tua Jakarta (JOTRC) ditunjuk sebagai pelaksana pengembangan Kota Tua sebagai Zona Ekonomi Khusus, menunjukkan komitmen serius pemerintah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp102 miliar untuk proyek revitalisasi ini, yang juga mengintegrasikannya dengan sistem transportasi umum modern. Revitalisasi ini mencakup penataan jalan bersejarah menjadi area pedestrian yang nyaman, menciptakan ruang publik baru yang lebih ramah pengunjung, membersihkan kanal-kanal, serta menata pedagang kaki lima agar lebih teratur. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dan pengalaman wisatawan.
Kota Tua kini sangat mudah dijangkau melalui berbagai moda transportasi umum, seperti bus Transjakarta, KRL Commuter Line, dan MRT Jakarta, yang semakin memudahkan akses bagi pengunjung. Kawasan ini juga telah menerapkan zona rendah emisi (LEZ) untuk mengurangi polusi dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Integrasi ini menjadikan Kota Tua sebagai contoh sukses pengembangan kawasan bersejarah yang berkelanjutan.
Revitalisasi Kota Tua merupakan bagian dari strategi besar menuju perayaan 500 Tahun Jakarta pada tahun 2027, dengan tujuan memperkuat posisinya sebagai pusat budaya, seni, dan ekonomi kreatif berkelas dunia. Banyak komunitas seni dan budaya memanfaatkan ruang publik di area ini untuk berbagai aktivitas, menghidupkan kembali semangat kreatif. Meskipun menghadapi tantangan seperti kondisi bangunan yang buruk atau masalah sanitasi di masa lalu, revitalisasi telah berhasil mengubah Kota Tua menjadi destinasi yang memadukan nuansa masa lalu dengan kehidupan urban yang dinamis dan prospektif.
Pertanyaan Umum yang Sering Diajukan
Apa itu Kota Tua Jakarta?
Kota Tua Jakarta, dikenal juga sebagai Batavia Lama, adalah kawasan bersejarah seluas 1,3 km persegi di Jakarta Utara dan Barat yang menyimpan jejak peradaban kolonial Belanda dan kini menjadi pusat wisata budaya.
Bagaimana sejarah singkat Kota Tua Jakarta?
Sejarahnya dimulai dari penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah yang menjadi Jayakarta, lalu dihancurkan VOC pada 1619 dan dibangun kembali sebagai Batavia, pusat perdagangan kolonial Belanda hingga 1942.
Apa saja bangunan ikonik yang dapat ditemukan di Kota Tua Jakarta?
Beberapa bangunan ikonik meliputi Taman Fatahillah, Museum Fatahillah (bekas Balai Kota Batavia), Museum Wayang, Toko Merah, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Bank Indonesia, dan Stasiun Jakarta Kota.
Mengapa Kota Tua Jakarta penting secara budaya dan edukasi?
Kota Tua berfungsi sebagai pusat warisan dan edukasi sejarah yang hidup, menawarkan pengalaman budaya kaya, serta merefleksikan warisan multikultural dan tradisi maritim Indonesia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa.
Bagaimana upaya revitalisasi telah mengubah Kota Tua Jakarta?
Revitalisasi berkelanjutan sejak 1972 telah menata kawasan menjadi area pedestrian, membersihkan kanal, menata PKL, mengintegrasikannya dengan transportasi modern, dan menjadikannya pusat ekonomi kreatif berkelas dunia.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5130499/original/005554400_1739345568-pexels-nicole-michalou-5779170.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429496/original/011233600_1764589725-ayam_saus_mentai_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511769/original/028505300_1771917729-Screenshot_2026-02-24_142134.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509414/original/041345000_1771703553-Makaka_Jepang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5512080/original/016445900_1771923711-kue_lebarann.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511831/original/025134400_1771918493-Untitled_design__24_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4738398/original/020078100_1707408683-photo__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510843/original/056004200_1771840658-unnamed__40_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511957/original/024038900_1771921564-029562400_1459142452-gpkoner.blgspt.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511418/original/091460800_1771908931-WhatsApp_Image_2026-02-24_at_10.25.08.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2245764/original/016454800_1528682890-resep-sajian-lebaran-kacang-bawang-gurih-renyah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511514/original/054638900_1771911407-Gemini_Generated_Image_rs1qzars1qzars1q_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511593/original/049957300_1771913773-kuker_lebaran.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511442/original/034571700_1771909343-unnamed__50_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500436/original/032525300_1770865507-gambar__39_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5451990/original/029203300_1766381780-000_33E94V7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5466498/original/025557700_1767846169-kue_sus.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5510238/original/099026900_1771823188-Untitled_design__11_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4040914/original/012982000_1654183386-Susu_pada_Makanan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511414/original/007391200_1771908561-cropped-a22d6a28-37f5-4dfd-8587-e755d804a17b.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414818/original/029407400_1763352077-ATK_BOLA_Byon_Combat_Showbiz_6.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5355547/original/062886800_1758342840-Poster___Apple_Artwork_-_VOS_Jalinan_Terlarang_-_Poster_PertamaLandscape.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,45,600,0)/kly-media-production/medias/5405283/original/043379500_1762433088-Rinanda_Aprillya_Maharani__3_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5215693/original/086342600_1746867749-Sambel_Welut_Pak_Sabar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5161764/original/086600400_1741847570-1741841423969_salah-satu-faktor-eksternal-penyebab-pelanggaran-ham-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5286401/original/022817500_1752741530-pexels-nadin-sh-78971847-12288356.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3530051/original/024008300_1628001054-IG_apriantytami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5406457/original/028571800_1762575042-unnamed__5_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5026230/original/046873100_1732754084-Snapinsta.app_468168073_18476665273027981_2711124918470699632_n_1080.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394674/original/094497400_1761637984-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1012480/original/049316100_1444188702-Ikon-Tugu-Jogja.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5398431/original/035327100_1761884719-ATK_BOLA_LALIGA_MW_11.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5335120/original/005264300_1756787602-____________-_-_-_______6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5419406/original/066046400_1763694256-miss_universe_final.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403047/original/003383500_1762315384-ATK_BOLANET_HSS_Series_6_GENERAL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424599/original/031115100_1764148660-SUGAR_BABY_-_SCREEN_BACKDROP.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1256728/original/bcfc6c770a11d6e0dbef2bd76510ecedtong.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3134973/original/008613900_1590134592-cara-membuat-bakso-sapi.jpg.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5404922/original/033017100_1762419560-Depositphotos_609549356_L.jpg)