Pesan Kesehatan Sambut 2026, Dokter: Tidak Boleh Reaktif tapi Antisipatif dan Adaptif

8 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Menutup tahun 2025 dan menyambut 2026, epidemiolog sekaligus ahli kesehatan lingkungan, dr. Dicky Budiman, M.Sc.PH., memberikan pesan kesehatan.

Dicky mengatakan pesan utama pada 2025 kesehatan bukan sekadar layanan tapi ketahanan. "Tahun 2025 bisa kita baca sebagai tahun transisi dari respons menuju ketahanan atau resilience,” kata Dicky kepada Health Liputan6.com melalui pesan suara dikutip pada Kamis, (1/1/2026).

Dunia termasuk Indonesia tidak lagi berada dalam fase krisis pandemi tapi sebetulnya belum sepenuhnya aman dari guncangan kesehatan baru atau ancaman kesehatan baru.

“Jadi pesan kesehatan yang paling relevan untuk menutup tahun 2025 ini adalah kesehatan publik tidak boleh reaktif harus antisipatif, adaptif, dan adil. Pesan ini penting sebagai cermin evaluasi baik bagi masyarakat maupun pemerintah,” katanya.

Kedua, evaluasi dari perspektif masyarakat, menurut Dicky sepanjang 2025 terlihat jelas fenomena di mana masyarakat terbiasa hidup berdampingan dengan risiko. Baik risiko penyakit infeksi, polusi, atau cuaca ekstrem.

Sementara, kepatuhan terhadap protokol kesehatan di tengah masyarakat cenderung bersifat situasional. Menurut Dicky, ini merugikan karena menunjukkan perilaku hidup bersih sehat yang dibangun belum melekat dan belum menjadi budaya.

“Seperti kebiasaan mencuci tangan, memakai masker ketika sakit atau saat ada di kerumunan. Artinya perilaku yang dibangun bukan atas kesadaran risiko jangka panjang, ini yang harus diubah,” ujarnya.

“Evaluasi pentingnya adalah literasi masyarakat itu masih dominan event driven (tergantung situasi), jadi belum risk base thinking (berdasarkan risiko).”

Informasi Kesehatan Lebih Cepat tapi Tidak Selalu Benar

Dicky juga menilai, selama 2025, informasi kesehatan semakin cepat tapi tidak selalu semakin benar.

Influencer lebih sering dipercaya dibanding tenaga kesehatan atau ahli yang asli dan otoritas ilmiah. Dan ini memberi pesan penting di 2025 bahwa akses informasi tanpa kemampuan memilah justru meningkatkan kerentanan kesehatan,” kata Dicky.

Dia menambahkan, di 2025, masyarakat cenderung melihat kesehatan sebagai urusan pribadi, bukan kolektif.

“Jadi, banyak masyarakat memandang kesehatan hanya sebagai tanggung jawab individu dalam hal ini diet, olahraga, atau obat. Jadi mereka, masyarakat, sebagian ya, bukan melihat kesehatan sebagai isu lingkungan atau sistem kebijakan publik dan ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat kita memiliki kesadaran sosial yang masih rendah.”

Evaluasi untuk Pemerintah yang Masih Fokus pada Kuratif

Sedangkan, evaluasi untuk pemerintah menurut Dicky adalah sistem kesehatan Indonesia masih kuratif dan sentris. Dimana anggaran dan perhatian masih dititikberatkan terkait pembangunan rumah sakit dan pengadaan alat kesehatan.

"Namun, investasi pencegahan jauh. Padahal, investasi pencegahan, jauh lebih murah dibanding biaya krisis tapi ternyata belum menjadi arus utama kebijakan.”

Di sisi lain, sambungnya, kesiapsiagaan kesehatan Indonesia masih fragmentatif (terbagi-bagi). Data kesehatan belum sepenuhnya terintegrasi lintas sektor, respons bencana kesehatan juga sering bersifat sektoral.

“Jadi kesehatan saja misalnya tanpa lingkungan, tanpa sosial, tanpa ekonomi. Padahal pesan pentingnya sebetulnya pendekatan One Health dan planetary health itu sudah menjadi rekomendasi global atau badan kesehatan dunia yang sebetulnya harus mulai kita lakukan dan kembangkan.”

Komunikasi Risiko Belum Konsisten

Selain itu, kata Dicky, catatan di 2025, komunikasi risikonya belum konsisten. Pesan kesehatan sering berubah tanpa narasi penjelasan yang memadai, kemudian masih simpang siur, masih belum kuat berbasis data ter-update dan transparansi masih kurang. Lalu, belum based on science.

Hal ini dapat menurunkan kepercayaan publik jangka panjang. Padahal, kepercayaan publik adalah aset yang sangat mahal dan mudah rusak.

“Jadi, kalau bicara pesan penutup secara ringkas dan strategis untuk tahun 2025, ya untuk masyarakat kita pesanan hidup sehat bukan hanya soal gaya hidup, tapi tentang memahami risiko dan melindungi sesama.”

“Dan untuk pemerintah, ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tapi jauh sebelum krisis datang,” pungkasnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |