Pendakian Gunung Rinjani Ditutup hingga 31 Maret 2026, demi Keselamatan Pendaki dan Masa Depan

1 month ago 101

Liputan6.com, Jakarta - Pendakian Gunung Rinjani resmi ditutup sejak 1 Januari 2026 dan akan berlaku hingga 31 Maret 2026. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menegaskan penutupa sementara wisata pendakian Gunung Rinjani bukan larangan, melainkan bentuk perlindungan keselamatan pendaki dan kelestarian kawasan.

"Penutupan sementara ini untuk keselamatan dan untuk masa depan Rinjani itu sendiri," kata Kepala Balai TNGR Budhy Kurniawan di Mataram, Selasa, 13 Januari 2026, dikutip dari Antara, Rabu (14/1/2026). Enam jalur pendakian resmi Rinjani ditutup, meliputi jalur Senaru, jalur Torean, jalur Sembalun, jalur Timbanuh, jalur Tetebatu, dan jalur pendidikan Aik Berik.

Ia mengatakan musim hujan di awal 2026 yang membawa curah hujan tinggi membuat jalur licin, kabut tebal, hingga aliran air yang menutup lintasan."Risiko hipotermia dan kecelakaan meningkat signifikan, keselamatan adalah prioritas utama," sambungnya.

Di sisi lain, ia mengatakan kawasan Gunung Rinjani dan alam juga butuh waktu beristirahat, sehingga masa penutupan memberi ruang bagi tanah dan vegetasi untuk pulih, satwa kembali tenang. "Selain itu, tekanan aktivitas manusia juga berkurang," katanya.

Selama penutupan, pihaknya akan memperbaiki jalur, memelihara fasilitas, dan mengevaluasi pengelolaan pendakian agar saat dibuka kembali, Rinjani lebih aman dan lebih siap menyambut musim pendakian dibuka kembali. "Perbaikan jalur dilakukan untuk meningkatkan keselamatan," katanya.

Ia menyebut dukungan bersama dengan menaati standar operasional prosedur (SOP), diharapkan bisa menjaga keselamatan, melindungi alam, dan merawat masa depan Gunung Rinjani. Penutupan ini merupakan bagian dari upaya pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan. "Mari bersama memahami bahwa keselamatan dan kelestarian alam adalah prioritas utama," katanya. 

Penutupan Pendakian Gunung Prau

Penutupan pendakian juga diumumkan pengelola Gunung Prau di Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Penutupan yang berlaku mulai Senin, 19 Januari 2026 itu akan berlangsung dua bulan hingga 20 Maret 2026.

"Berdasarkan surat edaran dari PT Palawi Resorsis Nomor: 1886/A.2/PAL-ABBWB/2025 tentang penutupan Gunung Prau, maka dari itu, kami selaku Forum Koordinasi Gunung Prau Indonesia (FKPI) memberitahukan bahwa seluruh basecamp pendakian Gunung Prau Resmi ditutup pada tanggal 19 Januari 2026 sampai 20 Maret 2026, dan dibuka kembali pada 21 Maret 2026," bunyi pengumuman yang disampaikan di akun Instagram @prau_mountain, 9 Januari 2026.

Dihubungi Lifestyle Liputan6.com, Senin, 12 Januari 2026, Ketua Umum FKPI Harsono menjelaskan penutupan dilakukan untuk mengantisipasi cuaca buruk serta pembenahan jalur pendakian. Enam jalur pendakian yang ditutup meliputi Patak Banteng, Dieng, Dwarawati, Kali Lembu, Igirmranak, dan Wates.

"Selama penutupan, pihak pengelola akan melaksanakan reboisasi, penanaman, serta perawatan dan berbenah jalur di masing-masing basecamp," kata Harsono.

Jenis Pohon yang Akan Ditanam di Gunung Prau

Reboisasi, sambung dia, akan dilakukan mandiri oleh masing-masing pengelola basecamp. Jenis tanamannya adalah pohon endemik Gunung Prau agar kemungkinan hidup itu mencapai 90 persen.

"Yang paling mudah pohon cemara gembel atau bintami," sebutnya. Pihaknya juga membuka kesempatan bagi pihak yang peduli untuk berdonasi bibit tanaman demi mendukung kesuksesan reboisasi Gunung Prau.

Ia kembali mengingatkan para pendaki, pegiat alam, dan wisatawan untuk mematuhi kebijakan tersebut. Seluruh proses registrasi pendakian Gunung Prau sejauh ini masih dilakukan secara offline.

Gunung Prau atau Gunung Parahu merupakan salah satu gunung di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, Indonesia memiliki ketinggian puncak 2.590 mdpl. Gunung Prau menjadi tapal batas empat kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Batang, Kabupaten Kendal, Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.

Penutupan Pendakian Merbabu

Jalur pendakian Gunung Merbabu juga ditutup yang berlaku berlaku mulai 1 Januari hingga 28 Februari 2026. Alasan yang dikemukakan adalah kondisi cuaca ekstrem dan demi melindungi para pendaki.

Dalam surat tertanggal 29 Desember 2025, pihak balai mengutip penjelasan BMKG bahwa  wilayah Jawa Tengah dan kawasan pegunungan berpotensi mengalami perubahan cuaca secara tiba-tiba, hujan lebat dengan durasi singkat, angin kencang hingga puting beliung, serta kilat dan petir.

"Kondisi itu berisiko bagi keselamatan pendaki," kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Anggit Haryoso dikutip dari akun Instagram @btn_gn_merbabu, Rabu, 31 Desember 2025.

Terlebih, insiden mematikan terjadi pada Kamis, 25 Desember 2025, yang menimpa pendaki bernama Mella Irawanti Kusuma yang mendaki via rute Suwanting. Ia tewas tersambar petir.

"Bagi #SobatMerbabu yang sudah melakukan booking, kami mohon tidak khawatir.👉 Tersedia opsi reschedule atau refund sesuai ketentuan yang berlaku," bunyi pernyataan di akun Instagram tersebut.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |