Makin Banyak Salon Rambut di Jepang yang Bangkrut, Krisis di Timur Tengah Ikut Memengaruhi

8 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Bisnis salon rambut di Jepang sedang tak baik-baik saja. Banyak pemilik yang mengajukan kebangkrutan. Tercatat pada tahun lalu, jumlah salon yang mengajukan kebangkrutan mencapai 235, menjadikannya rekor tertinggi sepanjang masa, lebih tinggi dari tahun 2024 dengan 215 salon rambut yang bangkrut.

Hal itu juga berdampak pada rata-rata umur salon yang diperkirakan akan bertahan selama 13 tahun pada 2025, turun dari 14,1 tahun pada 2024. Dari salon yang saat ini aktif, 49 persen berusia kurang dari 10 tahun.

Mengutip Japan Today, Rabu (6/5/2026), situasi ini jauh lebih buruk daripada selama pandemi COVID, sebagian karena bisnis-bisnis tersebut didukung selama periode tersebut oleh berbagai subsidi dan pinjaman tanpa bunga. Saat itu, kebangkrutan tahunan pada 2021 justru mencapai rekor terendah, hanya dengan 68 kasus.

Situasi saat ini dinilai lebih mirip dengan apa yang terjadi selama krisis keuangan global 2008. Padahal sebelum 2008, salon rambut dianggap sebagai bisnis yang cukup stabil karena sebagian besar orang selalu membutuhkan potong rambut.

Namun, selama krisis, orang-orang mulai mencari cara untuk memangkas biaya sebanyak mungkin. Sekitar waktu yang sama, tempat potong rambut diskon seperti QB House muncul, menyebabkan gangguan luas di pasar, dan menyulitkan salon-salon yang sudah mapan untuk mempertahankan harga mereka yang relatif tinggi. Akibatnya, kebangkrutan meningkat hingga lebih dari 100.

Sekarang, dengan inflasi dan krisis minyak yang mengancam, orang-orang sekali lagi mencari cara yang lebih murah untuk menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Kali ini, tekanan harga diperparah oleh kenaikan biaya hampir semua hal, mulai dari listrik hingga produk rambut, sehingga hampir tidak mungkin untuk menurunkan harga guna memenuhi kebutuhan pelanggan.

Salon-salon Kecil Paling Terdampak

Lebih buruk lagi, banyak salon bahkan tidak dapat menemukan cukup staf untuk beroperasi. Penata rambut seringkali tertarik pada upah dan keamanan di jaringan besar dan salon dengan reputasi yang kuat, sehingga salon kecil hingga menengah hanya memiliki sedikit pilihan.

Bisnis-bisnis kecil ini cenderung merekrut langsung dari sekolah kecantikan, tetapi banyak dari lulusan baru tersebut bermimpi membuka salon sendiri dan akhirnya berhenti tak lama setelah dipekerjakan. Hal itu juga tergambar dari tanggapan warganet yang bersepakat bahwa pendorong utama kebangkrutan bisnis salon adalah karena pasar yang jenuh.

"Terlalu banyak salon," kata warganet. "Saya melihat begitu banyak penata rambut yang tidak kompeten di salon-salon akhir-akhir ini," imbuh yang lain.

"Saya tidak sering pergi ke salon setelah mencukur rambut, tetapi saya pergi setahun sekali untuk mengganti warna rambut," tulis warganet berbeda.

Meskipun terjadi rekor kebangkrutan, hal itu masih belum mengurangi sekitar 250.000 salon yang beroperasi di seluruh negeri. Jumlah itu masih lebih banyak dari jumlah lalu lintas yang terpasang di Jepang, yakni sekitar 210.000 titik. 

Bisnis Pemandian Umum di Jepang Juga Terancam Bangkrut

Nasib mirip juga dialami pemilik usaha sento -tempat pemandian umum tradisional di Jepang. Mereka ketar-ketir menghadapi kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu gangguan pasokan minyak Timur Tengah.

Mengutip Kyodo News, Senin, 27 April 2026, kondisi tersebut semakin memperparah situasi yang dihadapi sento yang mengalami penurunan jumlah pelanggan signifikan hingga pemilik yang semakin menua dan tanpa penerus. Belum lagi penetapan harga yang diatur sehingga sulit membebankan kenaikan biaya kepada pelanggan.

Salah satu yang terdampak adalah Ikesu Onsen, sebuah sento yang dikelola keluarga yang didirikan pada 1919 di Tsushima, Prefektur Aichi, Jepang tengah. Sento tersebut telah lama menjadi pusat sosial lingkungan sekitar.

Namun baru-baru ini, sento tersebut terpaksa memundurkan jam bukanya sekitar satu jam sejak akhir Maret 2026 karena pasokan bahan bakar minyak yang tidak stabil. Pengiriman bulanan itu berkurang hingga setengahnya dari sekitar satu ton yang menyebabkan penurunan sekitar 10 pelanggan per hari. 

"Ini pukulan besar," kata Atsuko Matsui, (57), yang mengelola pemandian umum tersebut. "Jika kami diberi tahu (oleh pemasok) 'jumlah ini dengan harga ini', kami tidak punya pilihan selain menerimanya."

Jumlah Pemandian Umum Sento Terus Menurun

Nasib lebih mengenaskan dialami Katsuragi Onsen yang berlokasi di Aomori, di timur laut Jepang. Pengelola memutuskan untuk tutup pada akhir Mei 2026 karena biaya bahan bakar menambah beban pemeliharaan fasilitas pemandian umum yang sudah tua tersebut.

"Harga bahan bakar minyak naik setiap minggu dan tidak menunjukkan tanda-tanda stabil," kata Masayoshi Yamaguchi (57), kepala pemandian umum tersebut. "Kami memiliki banyak pelanggan, tetapi dengan laju seperti ini, kami tidak dapat bertahan."

Menurut Asosiasi Sento Nasional Jepang, sekitar 30 persen pemandian umum (sento) di Jepang menggunakan boiler berbahan bakar minyak. Jumlah pemandian umum telah menurun hingga sekitar seperduabelas dari puncaknya hampir 60 tahun yang lalu, menurut perhitungan asosiasi tersebut.

Di Jepang, biaya masuk sento dibatasi oleh gubernur prefektur di bawah kontrol anti-inflasi yang diperkenalkan segera setelah Perang Dunia II, sehingga operator hanya memiliki sedikit ruang untuk menyesuaikan harga. Pasokan bahan bakar di Jepang terganggu oleh krisis Timur Tengah yang dipicu serangan AS-Israel terhadap Iran. 

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |