Hutan Bambu di Tempat Wisata Populer Jepang Jadi Korban Vandalisme, Mayoritas Pelakunya Turis Asing

1 month ago 48

Liputan6.com, Jakarta - Kuil Fushimi Inari, salah satu tempat wisata terindah di Kyoto, Jepang, dihantui vandalisme. Pohon-pohon bambu di hutan dekat kuil yang berdiri di kanan kiri jalan setapak dirusak keindahannya oleh orang-orang yang mengukir inisial atau bahkan nama depan mereka.

Dalam sebuah liputan media setempat, terlihat semakin banyak pohon bambu di daerah itu diukir dengan nama dan inisial tertentu. Sebagian besar pelakunya diyakini turis asing, dilihat dari nama dan tulisan yang bukan berbahasa Jepang. Banyak pelaku vandalisme juga mengukir tanda hati atau tanggal di pohon-pohon bambut yang tampaknya untuk menandai hari kedatangan mereka di sana.

Mengutip SoraNews24, Senin, 12 Januari 2026, vandalisme terparah terjadi di dekat Fushimi Kandara, sebuah anak kuil yang terletak di tengah gunung. Akira Nakamura, seorang warga setempat yang memiliki sebidang tanah di dekat jalan setapak yang warisan keluarganya selama beberapa generasi, mengatakan bahwa lebih dari 100 pohon telah rusak.

Selain merusak pemandangan, ukiran tersebut dapat merusak pohon itu sendiri. Pohon bisa layu, membusuk, dan bahkan tumbang tergantung pada seberapa parah pemotongan dan pengikisan yang dilakukan.

Itu bukan satu-satunya tempat terkenal di Kyoto yang pengunjungnya telah merusak tanaman lokal untuk kesenangan mereka sendiri. Di sisi kota yang berlawanan dari Fushimi Inari adalah distrik Arashiyama Kyoto, yang terkenal dengan hutan bambunya. Tahun lalu, sekitar 350 pohon Arashiyama diukir.

Solusi Atasi Vandalisme Gagal

Aksi vandalisme itu membuat pemandangan alam jadi tidak enak dipandang. Selain itu, aksi tersebut diyakini memicu turis lain yang tak kuat iman untuk beraksi serupa. 

Untuk mencegah hal itu, pihak berwenang kemudian memasang pita hijau di atas ukuran. Dalam kasus yang drastis, sebagian besar pohon bambu di sekitar area yang bisa dijangkau dari jalur pejalan kaki ditebang. 

Namun, tidak satu pun dari solusi ini yang ideal, karena keduanya melibatkan pengurangan lingkungan alam yang rimbun dan lebat yang membuat Arashiyama dan jalur pejalan kaki Fushimi Inari begitu memikat dan tak terlupakan. Khusus dalam kasus Fushimi Inari, tindakan pencegahan skala besar sulit dikoordinasikan, karena vandalisme bambu tersebar di lahan-lahan kecil yang dimiliki oleh orang-orang yang berbeda.

Perlu dicatat bahwa tidak semua ukiran berasal dari turis asing, karena wartawan juga menemukan vandalisme berbahasa Jepang. Meskipun demikian, video tersebut menunjukkan bahwa kasus itu menjadi salah satu contoh terjelas dari destinasi wisata internasional yang terdampak negatif kunjungan manusia.

Kota Kecil di Hokkaido Alami Overtourism Gara-gara Pohon

Beda lagi masalah yang dihadapi kota kecil Biei di Hokkaido, Jepang utara. Turis berbondong-bondong datang sejak beberapa tahun lalu demi bisa berfoto berlatar deretan pohon birch putih yang fotogenik. Warga lokal pun terganggu dengan kehadiran mereka.

Mengutip Kyodo, Senin, 5 Januari 2025, para pemangku kepentingan lokal akhirnya menebang pohon-pohon tersebut pada Januari tahun lalu dengan persetujuan kota. Solusi itu sementara berhasil menurunkan arus pengunjung di sekitar area tersebut sampai batas tertentu.

Namun, upaya itu tak lagi mempan karena minat wisatawan mendatangi kota yang berpenduduk sekitar 9.000 jiwa itu kembali meningkat. Sekitar waktu makan siang pada 6 Desember 2025, wisatawan yang tiba dengan bus di tempat parkir terdekat tidak terlalu memperhatikan tunggul pohon yang ditebang yang tertutup salju.

Mereka langsung menuju ke Pohon Tujuh Bintang, pohon terkenal yang ditampilkan pada kemasan merek rokok, untuk mengambil foto dan meninggalkan area tersebut setelah sekitar 10 menit. Mereka tak jarang menerobos masuk ke ladang pertanian di sekitarnya untuk mengambil foto.

Solusi Belum Berhasil

Di bagian kota lain pada hari yang sama, tempat wisata populer yang menampilkan Pohon Natal sama ramainya seperti sebelumnya, dengan suara peluit yang memekakkan telinga saat petugas keamanan berusaha mengendalikan lalu lintas. Banyak wisatawan yang berjalan kaki dari stasiun terdekat untuk sampai ke sana seringkali menginjak-injak lahan pertanian di sepanjang jalan dan menyebabkan kerusakan, menurut Asosiasi Pariwisata Biei.

Untuk mengatasi masalah ini, pihak asosiasi meluncurkan operasi percontohan bus antar-jemput antara pohon dan Stasiun JR Biei bulan lalu. Mereka juga telah meningkatkan jumlah petugas keamanan musim dingin ini.

Namun demikian, "akan sulit untuk menyelesaikan masalah ini secara mendasar tanpa membatasi jumlah bus dan mobil," kata Takeo Izumi, wakil sekretaris jenderal asosiasi tersebut. Pada 2024, jumlah wisatawan ke Biei, termasuk dari luar negeri, mencapai sekitar 2,68 juta orang.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |