Gara-gara Wabah Chikungunya, Pulau Cantik di Samudra Hindia Dapat Peringatan Perjalanan dari AS

15 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) kembali merilis peringatan perjalanan tingkat dua bagi warganya yang hendak melancong ke Seychelles, sekelompok pulau cantik di Samudra Hindia. Destinasi wisata itu saat ini sedang menhadapi wabah chikungunya.

"Ada wabah chikungunya di Seychelles. Anda dapat melindungi diri dengan mencegah gigitan nyamuk," bunyi peringatan tersebut, dikutip dari NY Post, Kamis (12/2/2026).

Menurut CDC, gejala umum chikungunya adalah demam dan nyeri sendi yang dimulai tiga hingga tujuh hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi. Sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan sendi, atau ruam adalah gejala lain — dengan sebagian besar orang pulih dalam waktu seminggu.

"Beberapa orang dapat mengalami nyeri sendi yang parah selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah penyakit akut," kata situs CDC. "Kematian akibat chikungunya jarang terjadi."

CDC merekomendasikan agar wisatawan mendapatkan vaksin chikungunya dan mengambil tindakan pencegahan untuk mencegah gigitan nyamuk. Para pelancong disarankan untuk 'menggunakan obat anti serangga, mengenakan kemeja dan celana lengan panjang, dan tinggal di tempat-tempat ber-AC atau yang memiliki kasa pada jendela dan pintu'.

Seychelles merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 115 pulau di lepas pantai Afrika Timur. Sebanyak 354.034 wisatawan yang berkunjung dari Januari hingga November tahun lalu, menurut data pemerintah.

Taman nasional Vallée de Mai adalah salah satu situs Warisan Dunia UNESCO terkecil di dunia. Taman ini merupakan rumah bagi banyak spesies hutan yang unik. Situs UNESCO lainnya adalah Pulau Aldabra, yang merupakan salah satu atol karang terangkat terbesar di dunia.

Keluarkan Peringatan Serupa untuk China

Sekitar enam bulan lalu, CDC juga mengeluarkan peringatan perjalanan level 2 bagi para pelancong yang hendak berangkat ke China. Mereka diminta menerapkan 'tindakan pencegahan ekstra' selama berada di negeri tirai bambu itu terkait peningkatan kasus chikungunya.

Dalam beberapa pekan, wilayah yang berdekatan dengan Hong Kong itu mencatat lebih dari 7.000 kasus chikungunya. Dilansir dari CBS News, wabah kali ini berkembang setelah wilayah selatan China dilanda hujan lebat yang disebut sebagai fenomena sekali dalam satu abad.

CDC menjelaskan bahwa orang yang paling berisiko mengalami gejala parah akibat chikungunya adalah bayi yang baru lahir yang terinfeksi saat atau menjelang kelahiran, lansia berusia 65 tahun ke atas, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes dan gangguan jantung. Wanita hamil juga diminta mempertimbangkan ulang perjalanan ke wilayah terdampak karena virus ini dapat menular ke janin sebelum lahir.

Gejala Umum Chikungunya

Chikungunya berasal dari bahasa Makonde Afrika, berarti 'membungkuk kesakitan', sebuah nama yang sangat menggambarkan gejala khas dari penyakit ini berupa nyeri sendi parah. Virus Chikungunya ditularkan oleh nyamuk betina yang terinfeksi, paling umum nyamuk yang menjadi vektor adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus

Kedua jenis nyamuk itu juga dapat menularkan virus dengue dan Zika. Nyamuk-nyamuk ini menggigit terutama pada siang hari.

Pada pasien yang bergejala, penyakit Chikungunya biasanya muncul 4--8 hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi. Penyakit ini ditandai dengan demam yang tiba-tiba, seringkali disertai nyeri sendi yang parah. Nyeri sendi seringkali melemahkan dan biasanya berlangsung selama beberapa hari, tetapi dapat juga berkepanjangan, hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun.

Tanda dan gejala umum dari chikungunya meliputi:

  • pembengkakan sendi
  • nyeri otot
  • sakit kepala
  • mual
  • kelelahan
  • ruam

"Karena gejala-gejala ini tumpang tindih dengan infeksi lain, termasuk infeksi virus dengue dan Zika, kasus-kasus dapat salah didiagnosis," tulis WHO.

Eropa Juga Sempat Waspadai Chikungunya

Sebelumnya, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (European Centre for Disease Prevention and Control/ECDC) melaporkan adanya kenaikan kasus virus West Nile (WNV) dan chikungunya, yang keduanya sama-sama ditularkan oleh nyamuk. Meluasnya penyebaran penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk membuat ECDC menyebut kondisi ini sebagai normal baru. 

Bekembangnya nyamuk di negara tersebut didukung oleh naiknya suhu, musim panas yang lebih panjang, serta musim dingin yang lebih hangat. Kondisi suhu seperti ini yang membuat nyamuk nyaman untuk berkembang biak. Sebut saja nyamuk pembawa penyakit chikungunya, yakni Aedes albopictus

Chikungunya kini telah tersebar ke 16 negara dan juga 369 wilayah Eropa. Jumlah tersebut meningkat secara signifikan dibandingkan satu dekade lalu, dengan nyamuk penyebab chikungunya hanya tersebar di 114 wilayah. ECDC menggambarkan penyebaran nyamuk penbawa virus di Eropa di masa kini 'lebih panjang dan lebih intensif'.

"Eropa sedang memasuki fase baru—di mana penularan penyakit yang ditularkan nyamuk berlangsung lebih lama, lebih luas, dan lebih intens, menjadi normal baru,” kata Direktur ECDC, dokter Pamela Rendi-Wagner, mengutip The Sun, 24 Agustus 2025.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |