80 Persen Pemain Ski Asing di Hokkaido Repotkan Tim Penyelamat, Warga Jepang Geram

17 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai prefektur paling utara, terdingin, dan bersalju di Jepang, Hokkaido menjadi salah satu destinasi wisata ski dan seluncur salju kelas dunia. Para pemain ski dari seluruh dunia pun berdatangan menjajal lereng ski yang ada. Sayangnya, banyak dari mereka yang berulah hingga merepotkan tim penyelamat.

Mengutip Japan Today, Kamis (12/2/2026), lebih dari 80 persen pemain ski/seluncur salju yang membutuhkan pertolongan di Hokkaido musim ini adalah warga negara asing. Antara akhir November 2025--2 Februari 2026, total 58 pemain ski/snowboarder di luar jalur resmi (backcountry/off-piste) perlu diselamatkan, dengan 48 di antaranya, atau 82,8 persen dari total, adalah warga negara asing, menurut Kepolisian Prefektur Hokkaido.

Statistik ini tidak diterima dengan baik oleh publik Jepang, karena beberapa alasan. Pertama, hal ini terjadi setelah serangkaian kejadian penting tahun lalu di mana pendaki asing perlu diselamatkan dari Gunung Fuji (dengan seorang pria membutuhkan bantuan darurat dua kali dalam minggu yang sama) selama periode ketika jalur resmi ditutup untuk pendaki.

Ada juga persepsi bahwa restoran, hotel, dan fasilitas lain di dalam dan sekitar area ski telah menaikkan harga mereka karena mereka melayani wisatawan asing yang kaya raya, sehingga penduduk lokal yang tidak memiliki nilai tukar mata uang yang menguntungkan terpaksa berada dalam situasi sulit, baik secara kiasan maupun meteorologis.

Melihat uang pajak digunakan untuk menyelamatkan orang-orang yang mengabaikan aturan sudah cukup buruk, tetapi ketika orang-orang yang diselamatkan juga dianggap berkontribusi pada kenaikan harga konsumen yang pesat, itu adalah dua kali lipat rasa frustrasi.

Kecaman Warga Jepang

Seringkali, polisi atau petugas pemadam kebakaran setempat dikerahkan untuk menyelamatkan para pemain ski yang tersesat di luar jalur. Bantuan itu biasanya tidak dipungut biaya alias gratis. 

Padahal, biaya tersebut umumnya harus ditanggung pemerintah daerah, menciptakan tekanan anggaran untuk memangkas pendanaan untuk layanan lain atau untuk meningkatkan pajak penduduk setempat. Jadi, tidak mengherankan jika para komentator online di Jepang cukup marah tentang pemain ski asing yang bermain di luar jalur resmi.

"Pemborosan uang pajak yang sia-sia. Seharusnya mereka membebankan biaya kepada orang yang membutuhkan penyelamatan."

"Uang yang telah susah payah diperoleh semua orang digunakan untuk menyelamatkan orang asing yang tidak bertanggung jawab," imbuh yang lain.

"Seharusnya ada pajak tambahan untuk orang asing," tulis warganet berbeda.

Layanan Penyelamatan Darurat Berbayar

Untuk itu, dalam beberapa kasus, sejumlah resor ski mempekerjakan patroli ski sipil untuk mencari pemain ski yang hilang. Layanan mereka pun tidak murah.

Di sebuah resor di kota Furano, Hokkaido, biaya penyelamatan termasuk 20.000 yen (sekitar Rp2,2 juta) per jam kerja dan tambahan 50.000 yen (sekitar Rp5,5 juta) per jam jika diperlukan mobil salju. Sebuah penyelamatan larut malam baru-baru ini, yang memakan waktu tiga jam untuk diselesaikan, berakhir dengan tagihan untuk pemain ski yang hilang lebih dari satu juta yen.

Beberapa kota juga memiliki sistem hibrida, yakni otoritas lokal berkoordinasi dengan organisasi penyelamatan sipil, dan dalam kasus tersebut juga, organisasi non-pemerintah perlu dibayar.

"Seharusnya mereka mewajibkan siapa pun yang bermain ski di daerah tersebut untuk memiliki asuransi, dan mendenda mereka jika tersesat dan ternyata mereka tidak memilikinya," kata warganet Jepang.

"Bebankan biaya 100 juta yen kepada orang asing yang membutuhkan penyelamatan, dan tahan mereka sampai mereka membayar jumlah tersebut sepenuhnya," ungkapan kesal warganet Jepang lainnya.

Tambah Daftar Masalah Akibat Overtourism

Pemain ski berulah menambah daftar panjang efek negatif pariwisata pada negara itu. Sebelumnya, festival bunga sakura yang digelar di sebuah kota di kaki Gunung Fuji batal digelar tahun ini gara-gara overtourism.

Dalam pengumuman yang disampaikan pada Selasa, 3 Februari 2026 itu, disampaikan bahwa festival yang berusia satu dekade itu dibatalkan karena 'kehidupan tenang penduduk setempat terancam'.

"Di balik pemandangan indah (Gunung Fuji) terdapat kenyataan bahwa kehidupan tenang warga terancam. Kami merasakan krisis yang kuat," kata Shigeru Horiuchi, Wali Kota Fujiyoshida, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari AFP, Jumat, 6 Februari 2026.

Festival bunga sakura itu berlangsung selama beberapa minggu dan bisa menarik sekitar 200 ribu wisatawan ke Fujiyoshida. Masuknya wisatawan asing ke Fujiyoshida menyebabkan kemacetan lalu lintas yang luar biasa dan sampah puntung rokok yang berserakan di seantero kota. Pemerintah kota juga mendapat laporan warga terkait pelanggaran batas hingga ada yang buang air besar di kebun pribadi.

"Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga kami, kami telah memutuskan untuk mengakhiri festival yang telah berlangsung selama 10 tahun ini," sambung Horiuchi.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |