Cerita Penumpang Kereta Terjebak Banjir Pantura, Perjalanan 12 Jam Berubah Jadi 2 Hari

1 month ago 55

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan kereta api yang semestinya nyaman berubah menjadi ujian kesabaran bagi ribuan penumpang KAI setelah banjir besar melumpuhkan jalur Pantura. Itu yang dirasakan Nurul Adinda Maulinda Nainggolan saat terjebak di gerbong Kereta Majapahit jurusan Malang-Pasar Senen sejak Sabtu, 17 Januari 2026.

Nurul menceritakan kereta yang ditumpanginya berangkat tepat waktu, pukul 17.45 WIB, tetapi mulai tersendat saat memasuki wilayah Weleri. "Awalnya diinfokan kondektur katanya mengalami keterlambatan kurang lebih dua jam, yang ternyata malah empat jam," katanya kepada Lifestyle Liputan6.com, Selasa, 20 Januari 2026. 

"Kereta harus berhenti di setiap stasiun kecil untuk mengantri masuk ke Stasiun Pekalongan yang terendam banjir, sebuah situasi yang jarang terjadi pada perjalanan kereta api kelas ekspres,” sambungnya.

Saat mengetahui perjalanan terhenti, rasa marah sempat muncul karena jadwal yang berantakan. "Pasti kesal dan marah, sempat nanya beberapa kru mereka bilang untuk sabar dan menunggu info selanjutnya," tuturnya.

Selama masa penantian yang panjang, banyak penumpang kereta lain akhirnya menyerah dan memilih turun di stasiun-stasiun kecil, seperti Stasiun Pelabuhan, untuk mencari moda transportasi alternatif seperti ojek atau travel warga sekitar menuju terminal terdekat. Nurul memilih bertahan di gerbong kereta.

Akibatnya, perjalanan yang biasanya memakan waktu 12 jam membengkak hingga 21,5 jam. Ia baru bisa menginjakkan kaki di Stasiun Pasar Senen pada Senin dini hari, 19 Januari 2026, sekitar pukul 03.30 WIB.

Tantangan Berat di dalam Gerbong

Masa menunggu di dalam gerbong begitu menantang. "Toilet dan makanan sih tantangannya. Resto kereta sudah habis stok, lalu toilet kereta sudah habis air jadi bau dan kotor sekali," jelas Nurul.

Solusi darurat yang ditawarkan pihak KAI adalah mengarahkan penumpang menggunakan fasilitas toilet di stasiun-stasiun kecil tempat kereta berhenti sementara. Meskipun harus mengantre panjang dengan penumpang lain, hal ini menjadi satu-satunya cara untuk menjaga kebersihan diri di tengah keterbatasan armada.

Beruntung, di tengah kesulitan tersebut, solidaritas warga lokal menjadi penyelamat bagi perut para penumpang yang kelaparan. Warga di sekitar stasiun pemberhentian, seperti di daerah Batang dan Pekalongan, sangat antusias menawarkan makanan atau sekadar jasa pesan antar dari warung sekitar. Penumpang tersebut mengenang momen haru saat berinteraksi dengan warga.

"Aku sangat senang, mereka menyambut kita dengan baik. Ada ibu-ibu yang menawarkan sekotak pop mie. Di situ kayak oh dari musibah ini ada rezeki buat orang lain," kenangnya. Keramahan warga lokal ini sedikit banyak mengobati rasa lelah dan lapar para penumpang yang tidak sempat membawa perbekalan lebih untuk perjalanan yang molor hingga dua hari tersebut.

Rasa Senasib Sepenanggungan Penghuni Gerbong Kereta

Meski secara fisik sangat melelahkan, durasi penantian yang sangat lama ternyata melahirkan kedekatan emosional antar-penumpang. Ruang gerbong yang semula kaku berubah menjadi ruang diskusi dan kebersamaan.

"Awalnya kesal, tapi lama kelamaan enjoy saja, seru juga dan bisa banyak ngobrol sama penumpang lain. Kebetulan di gerbong aku kebanyakan ibu-ibu dan bapak-bapak, mereka sangat welcome dan sabar, malah kita sempat makan bareng dan ngobrol," kisahnya.

Berkurangnya jumlah penumpang karena banyak yang memilih turun lebih awal memberikan sedikit ruang lega bagi mereka yang bertahan. Kursi-kursi kosong dimanfaatkan untuk sekadar selonjoran badan guna mengurangi rasa pegal dan kebas akibat terlalu lama duduk.

Di balik musibah banjir ini, ada keindahan tak terduga yang bisa dinikmati oleh para penumpang. Karena kereta tertahan di jalur yang bersinggungan langsung dengan bibir pantai, penumpang disuguhi pemandangan laut yang jarang terlihat jelas pada perjalanan normal yang biasanya dilewati saat gelap atau dengan kecepatan tinggi.

"Yang buat bersyukur itu karena biasanya kalau di kereta itu tidur, nah kita karena ngelewatin pelabuhan yang posisinya dekat banget sama laut jadi kelihatan pemandangannya, keren banget," tuturnya.

Evaluasi Mitigasi KAI dan Harapan Penanganan Khusus Balita

Pihak KAI memberikan kompensasi dengan memberikan bantuan makanan sebanyak tiga kali dan snack kepada penumpang yang bertahan hingga stasiun tujuan. Mereka juga memberikan opsi refund tiket sebesar 100 persen bagi penumpang yang ingin berganti moda transportasi di tengah jalan.

Meski demikian, ada beberapa catatan penting untuk perbaikan ke depannya, terutama terkait penanganan kategori penumpang rentan. "Untuk yang membawa anak sepertinya masih kurang penanganannya. Balita punya makanan dan perlengkapan khusus, KAI harus menyiapkan beberapa kebutuhan untuk anak-anak kecil," saran Nurul sebagai bahan evaluasi manajemen krisis di masa depan.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi banyak pihak, baik penumpang maupun penyedia layanan. Mitigasi banjir di titik-titik krusial seperti Pekalongan perlu ditingkatkan agar transportasi publik tidak lumpuh total saat cuaca ekstrem melanda. Penumpang juga diharapkan lebih proaktif memantau informasi cuaca melalui media sosial sebelum memutuskan bepergian.

"Harapannya jika terulang berarti ada sistem yang harus diubah, KAI harus mulai bisa bekerja sama dengan pemerintah kota untuk menanggulangi daerah tertentu. KAI harus mulai mitigasi agar hal seperti ini tidak terulang lagi," tutupnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |