Cara Mengolah Batang Lompong Agar Tidak Gatal dan Aman Dikonsumsi

4 days ago 28

Liputan6.com, Jakarta - Batang lompong atau batang talas merupakan salah satu bahan pangan tradisional yang sejak lama dikenal dan dimanfaatkan masyarakat Indonesia. Di berbagai daerah, lompong diolah menjadi sayur berkuah santan, lodeh, atau tumisan sederhana yang menggugah selera. Meski tampilannya sederhana, bahan ini menyimpan cita rasa khas dan nilai gizi yang cukup baik jika diolah dengan benar.

Namun, tidak sedikit orang yang enggan mengolah batang lompong karena pengalaman tidak menyenangkan berupa rasa gatal, panas, atau perih di mulut dan tenggorokan setelah mengonsumsinya. Sensasi tersebut kerap menimbulkan anggapan bahwa lompong berbahaya, padahal masalahnya terletak pada teknik pengolahan yang kurang tepat, bukan pada bahan itu sendiri.

Menurut berbagai sumber pertanian dan pangan, termasuk Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, rasa gatal pada talas, baik umbi, daun, maupun batangnya, disebabkan oleh kandungan kalsium oksalat. Senyawa antinutrisi ini berbentuk kristal tajam menyerupai jarum yang dapat mengiritasi kulit dan jaringan lunak. Oleh karena itu, memahami cara mengolah batang lompong agar tidak gatal menjadi kunci agar bahan tradisional ini aman dan lezat dikonsumsi. Berikut ulasan Liputan6.com, Kamis (29/1/2026).

1. Mengupas Kulit Luar Batang Lompong

Batang lompong memiliki lapisan luar yang berserat dan lebih banyak mengandung getah. Kupas kulit luarnya hingga terlihat bagian dalam yang lebih pucat dan lunak. Proses ini penting untuk mengurangi jumlah getah dan kristal oksalat yang menempel.

2. Mencuci dan Meremas dengan Garam

Setelah dikupas dan dipotong sesuai selera, cuci batang lompong hingga bersih. Selanjutnya, taburi dengan garam dapur secukupnya, lalu remas-remas batang lompong hingga agak layu. Garam membantu menarik getah dan sebagian senyawa oksalat keluar dari jaringan batang. Diamkan beberapa menit, kemudian bilas kembali dengan air bersih.

3. Merebus atau Memasukkan ke Air Mendidih

Salah satu cara paling efektif menurunkan oksalat terlarut adalah perebusan. Masukkan batang lompong ke dalam air yang sudah benar-benar mendidih, bukan air dingin. Teknik ini banyak dipraktikkan secara tradisional dan terbukti efektif mengurangi rasa gatal. Rebus selama 5–10 menit hingga batang lompong layu, lalu buang air rebusannya.

Menurut BBPP Lembang, oksalat larut air akan ikut terbuang bersama air rebusan, sehingga tahap ini sangat krusial.

4. Mengolah dengan Bumbu dan Proses Masak Sempurna

Setelah direbus, batang lompong siap dimasak menjadi berbagai hidangan. Tumis bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai, lengkuas, dan daun salam hingga harum. Tambahkan air atau santan, didihkan, lalu masukkan batang lompong. Pastikan proses memasak berlangsung cukup lama hingga lompong benar-benar empuk dan matang sempurna.

Batang lompong wajib dimasak, sebagaimana juga ditegaskan dalam literatur internasional tentang taro stems. Proses pemanasan membantu merusak struktur kalsium oksalat sehingga tidak lagi menimbulkan iritasi.

5. Hindari Metode Masak yang Tidak Tepat

Pemanggangan atau pengolahan kering tanpa air tidak disarankan untuk lompong. Metode ini justru dapat mengakumulasi oksalat karena tidak ada media air untuk melarutkannya. Oleh sebab itu, olahan berkuah seperti sayur santan, lodeh, atau sup lebih dianjurkan.

Nilai Gizi dan Manfaat Batang Lompong

Selain aman jika diolah dengan benar, batang lompong juga memiliki nilai gizi yang cukup baik. Berdasarkan referensi Specialty Produce, batang talas kaya serat, mengandung beta karoten, kalsium, zat besi, serta vitamin A dan C. Kandungan seratnya membantu pencernaan, sementara teksturnya yang sedikit berlendir justru disukai dalam banyak masakan Asia Tenggara.

Dalam konteks pangan tradisional dan diversifikasi pangan, pemanfaatan batang talas juga mendukung prinsip mengolah seluruh bagian tanaman agar tidak terbuang sia-sia.

Kalium Oksalat yang Menyebabkan Gatal pada Talas

Batang lompong berasal dari tanaman talas (Colocasia esculenta), anggota keluarga Araceae. Tanaman ini diketahui mengandung beberapa zat antinutrisi, terutama kalsium oksalat dan asam oksalat. Berdasarkan kajian BBPP Lembang, kalsium oksalat merupakan penyebab utama sensasi gatal, panas, dan iritasi pada mulut, tenggorokan, bahkan saluran pencernaan jika talas dikonsumsi tanpa pengolahan yang tepat.

Kalsium oksalat berbentuk kristal mikroskopis seperti jarum. Saat batang talas dikunyah atau disentuh dalam kondisi mentah atau setengah matang, kristal ini dapat menembus jaringan kulit dan mukosa, menimbulkan rasa perih dan gatal. Selain itu, talas juga mengandung getah (gum) yang memperparah sensasi tidak nyaman tersebut.

Menariknya, oksalat pada talas tidak tersebar merata. Kadar oksalat dapat berbeda tergantung varietas, umur tanaman, serta kondisi lingkungan tempat tumbuhnya. Meski demikian, hampir semua batang talas tetap memerlukan perlakuan khusus sebelum dimasak untuk menurunkan atau menghilangkan senyawa penyebab gatal tersebut.

FAQ Seputar Lompong 

1. Apakah batang lompong bisa dimakan mentah?

Tidak. Batang lompong tidak boleh dimakan mentah karena mengandung kalsium oksalat yang dapat menyebabkan iritasi dan gatal.

2. Apakah semua jenis talas memiliki batang yang bisa dimakan?

Sebagian besar bisa dimakan, tetapi kadar oksalatnya berbeda-beda tergantung varietas dan umur tanaman.

3. Kenapa lompong harus dimasukkan ke air mendidih?

Air mendidih membantu melarutkan oksalat terlarut dengan cepat dan mencegah rasa gatal saat dikonsumsi.

4. Apakah perendaman saja cukup tanpa direbus?

Tidak cukup. Perendaman membantu, tetapi perebusan tetap diperlukan untuk hasil yang aman.

5. Bagaimana cara menyimpan lompong sebelum dimasak?

Simpan di tempat sejuk dan kering atau dalam lemari es, dan sebaiknya segera diolah agar tidak cepat rusak.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |