Boneka Barbie Autis Dirilis, Matanya Bisa Melirik ke Samping dan Dilengkapi Pereda Stres

1 month ago 63

Liputan6.com, Jakarta - Mattel baru saja merilis Barbie autis. Produk terbaru itu dirancang bersama Autistic Self-Advocacy Network (ASAN), organisasi hak-hak penyandang disabilitas yang berupaya mendapatkan hak yang setara dan visibilitas lebih besar bagi penyandang autisme.

Mattel mengatakan produk itu dibuat untuk memungkinkan lebih banyak anak 'melihat diri mereka sendiri' lewat boneka plastik ikonis tersebut. Karena itu, boneka itu dirancang 'untuk mewakili cara-cara umum penyandang autisme mengalami, memproses, dan berkomunikasi dengan dunia'.

Mengutip AFP, Selasa (13/1/2026), tidak seperti Barbie konvensional, boneka baru ini memiliki sendi siku dan pergelangan tangan. Hal itu, kata Mattel, memungkinkannya untuk membuat gerakan yang digunakan beberapa orang autis untuk memproses informasi sensorik atau mengekspresikan kegembiraan.

Boneka ini juga dirancang dengan mata yang sedikit melirik ke samping, 'yang mencerminkan bagaimana beberapa anggota komunitas autis mungkin menghindari kontak mata langsung'. Perusahaan AS yang berbasis di El Segundo, California itu juga melengkapi Barbie autis dengan mainan pereda stres sensorik, headphone peredam bising, dan tablet.

Bahkan, pakaian yang digunakannya dirancang sensitif terhadap rangsangan sensorik. Tujuannya untuk meminimalkan kontak kain dengan kulit. Seiring perilisan boneka tersebut, Mattel berjanji menyumbangkan 1.000 boneka ke rumah sakit anak di AS yang khusus menangani perawatan austime.

Sementara, autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang kompleks dan luas. Gangguan ini memiliki banyak asal usul, terutama terkait dengan kombinasi faktor genetik dan lingkungan.

Barbie Penyandang Diabetes Tipe 1

Barbie autis menambah daftar lini boneka dengan disabilitas yang diluncurkan sejak 2019. Pada 2025, Mattel menggandeng Lila Moss, putri dari supermodel Kate Moss, dalam peluncuran boneka Barbie pertama yang mewakili penyandang diabetes tipe 1.

Kemitraan dengan Moss lantaran model yang berusia 22 tahun saat itu tidak hanya dikenal sebagai panutan global untuk diabetes tipe 1, tetapi juga sebagai ikon mode yang berani. Dengan peluncuran boneka ini, ia berharap dapat meningkatkan kesadaran dan menginspirasi anak-anak yang hidup dengan kondisi serupa.

"Saya bangga menggunakan platform saya untuk mengedukasi seputar diabetes tipe 1 dan menunjukkan bahwa menjadi berbeda itu keren," ujar Lila dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Euronews, Kamis, 10 Juli 2025.

Boneka Barbie terbaru ini adalah hasil dari kolaborasi antara Mattel dan Breakthrough T1D (sebelumnya dikenal sebagai JDRF), sebuah organisasi yang berdedikasi untuk mendukung penelitian dan kegiatan bagi penderita diabetes tipe 1. Barbie ini tidak hanya tampil stylish dengan pakaian polkadot, tetapi juga dilengkapi dengan aksesori medis seperti monitor glukosa kontinu (CGM) dan pompa insulin, yang sangat dikenal oleh anak-anak dengan diabetes tipe 1.

Mengenal Diabetes Tipe 1

Diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun kronis di mana tubuh berhenti memproduksi insulin, hormon yang penting untuk mengatur kadar gula darah. Penyakit ini memerlukan pemantauan dan pengobatan insulin setiap hari, dan dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan baik.

Berlawanan dengan kepercayaan umum, diabetes tipe 1 bukanlah akibat dari pola makan atau gaya hidup yang buruk, penyebab pastinya masih belum sepenuhnya dipahami. Meskipun sering didiagnosis pada anak-anak dan remaja, penyakit ini juga semakin banyak ditemukan pada orang dewasa.

Setengah dari kasus baru terjadi pada orang berusia di atas 18 tahun. Karena itu, representasi yang akurat dan inklusif dalam mainan anak-anak menjadi semakin penting untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan.

Peluncuran boneka ini disambut dengan antusias oleh komunitas diabetes tipe 1. Mattel juga memberi penghargaan kepada instruktur kebugaran Robin Arzón atas advokasinya terhadap diabetes, dengan membuat boneka Barbie unik yang menyerupai dirinya, lengkap dengan detail medis. 

Orang Autis atau Orang dengan Autis, Mana yang Pas?

Sementara itu, penyebutan seseorang yang mengalami autis masih menuai pro kontra. Ada yang menganggap penyebutan orang dengan autisme adalah yang lebih sopan dibandingkan dengan orang autis. Faktanya, penyebutan orang autis dipandang lebih tepat.

Menurut Autism Self-Advocacy Network (ASAN), menyebut seseorang sebagai 'orang dengan autisme' secara tidak langsung menyiratkan bahwa autisme adalah sesuatu yang buruk atau tidak diinginkan. Seolah-olah seseorang akan 'lebih baik' jika tidak autis.

Sebaliknya, ketika kita mengatakan 'orang autis', kita mengakui bahwa autisme adalah bagian yang sah dari identitas seseorang. Kita tidak memisahkan individu dari autisme-nya, melainkan menerima bahwa keduanya adalah satu kesatuan yang tidak perlu disembunyikan.

Bukan sekadar soal tata bahasa, melainkan tentang cara pandang terhadap kondisi tersebut. Apakah autisme dilihat sebagai penyakit yang perlu disembuhkan, atau sebagai bagian dari identitas seseorang. Karena itu, kini semakin banyak orang dalam komunitas autisme yang lebih memilih disebut sebagai 'orang autis' ketimbang 'orang dengan autisme'.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |