Saat Klinik Kecantikan Jadi Pendukung Semangat Belajar Anak-Anak NTT

1 day ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Melampaui semata niat baik, kepedulian melalui aksi ditunjukan ZAP Clinic dalam kolaborasi teranyar bersama Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dan LEE Management. Klinik kecantikan itu turut terlibat dalam mendukung anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terus merawat semangat mengenyam pendidikan di tengah banyak keterbatasan.

Urgensi kolaborasi ini terlihat jelas dari kondisi di lapangan. NTT mencatat persentase tertinggi sekolah dalam kondisi rusak di Indonesia, yakni mencapai 29,93 persen, menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Di sejumlah wilayah, ruang belajar dengan dinding kayu seadanya, atap bocor, bahkan berlantai tanah masih ditemukan. Bahkan, tidak sedikit sekolah berada di wilayah rawan bencana yang meningkatkan risiko keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Situasi ini menunjukkan tantangan serius infrastruktur pendidikan yang berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan rasa aman anak-anak. "Kondisinya miris, fasilitasnya tidak memadai," ucap Brand Ambassador ZAP, Wulan Guritno, di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.

Ia adalah salah satu figur publik yang mengikuti voluntrip hasil kolaborasi ini pada 3─4 Februari 2026. Kegiatan ini meliputi renovasi ruang kelas, pembangunan fasilitas sanitasi ramah anak perempuan, serta edukasi kesehatan dan air bersih bagi siswa, guru, dan orangtua.

"Secara khusus, ini sangat tidak memadai untuk anak perempuan yang butuh fasilitas sanitasi, ruang privat, saat ia sedang datang bulan. Saya ngobrol dengan anak-anak perempuan di sana, mereka jadi tidak sekolah saat datang bulan. Bayangkan berapa hari mereka harus ketinggalan pelajaran," ia menambahkan.

Jadi Orangtua Asuh

Sementara itu, duta merek ZAP lainnya, Winky Wiryawan, sudah lebih dulu melibatkan diri dalam aksi baik. "Di mal, saya ketemu, tim Plan (Indonesia) dan dikasih tahu informasi tentang sponsor anak ini," ungkapnya di kesempatan yang sama.

"Tiga menit setelahnya, saya tanya ini-itu, langsung mau (jadi sponsor anak) tanpa bilang Kenes (Andari, istrinya). Pulang-pulang bilang ke dia, 'Kita sudah punya anak.' Kaget dia," ia menambahkan.

Saat ikut voluntrip, bulan lalu, mereka akhirnya berkesempatan bertemu langsung dengan anak asuh mereka, tiga tahun setelah mensponsorinya. "Saya nangis, terharu banget," Kenes melanjutkan. "Terharunya karena matanya terlihat polos sekali. Langsung nangis yang sampe kayak ... (karena) mata orang polos melihat kita dengan tulus."

Menyuarakan Isu-Isu Berdampak

Sepulangnya dari NTT, pasangan ini memutuskan untuk mengasuh satu anak lagi. "Sekarang kami punya dua anak asuh," sebut Kenes.

Selain ketiganya, figur publik lainnya yang ikut dalam kegiatan tersebut adalah Joe Taslim, Shalom Razade, Gerin Nathanael, dan Ida Rhijnsberger. Managing Director Lee Management, Bucie Lee, menyampaikan, keterlibatan para talent dalam program voluntrip ini berangkat dari kesadaran bahwa pengaruh publik dapat menjadi jembatan untuk menyuarakan isu-isu yang berdampak luas.

"Kehadiran langsung di lapangan memberi ruang untuk belajar, mendengar, dan memahami realitas yang dihadapi anak-anak dan masyarakat," katanya. Menyambung itu, Joe Taslim mengungkap bahwa pengalaman ini membuka pandangannya tentang tantangan akses air bersih.

Melihat Langsung Kondisi Lapangan

Joe berkata, "Ini kali kedua saya ikut trip relawan bersama Plan Indonesia, dan setiap kunjungan selalu membuka mata saya. Masih banyak anak-anak yang belum memiliki akses belajar yang memadai dan aman, bahkan untuk kebutuhan dasar seperti air bersih pun masih terbatas."

"Ketika melihat langsung kondisi itu, rasanya sulit untuk hanya diam. Pengalaman ini yang terus mendorong saya untuk ikut terlibat, membantu menyuarakan isu ini, dan mengajak lebih banyak orang untuk peduli agar perubahan yang kita harapkan benar-benar terjadi."

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menegaskan, akses terhadap pendidikan yang aman, sanitasi layak, dan air bersih bukan sekadar aspirasi, melainkan hak dasar setiap anak. "Di banyak wilayah terpencil, tantangan akses air bersih dan sanitasi aman masih nyata," sebutnya.

"Ketika fasilitas dasar belum terpenuhi, anak-anak, terutama perempuan, menghadapi risiko lebih besar terhadap masalah kesehatan dan ketidaksetaraan pendidikan. Kolaborasi lintas sektor memperkuat pesan sekaligus menghadirkan aksi nyata," ujar Dini.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |