Korea Selatan Targetkan 30 Juta Kunjungan Wisman pada 2028, Wisata Kecantikan Bakal Digenjot

4 days ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi Pariwisata Korea Selatan (KTO) menargetkan bisa meraih 30 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dua tahun lebih awal dari target pemerintah semula. Hal itu untuk mengejar ketertinggalan dengan negara tetangganya, terutama Jepang, yang pada 2025 mencetak rekor kunjungan wisman 42,7 juta pengunjung.

"Tahun 2030 sudah terlambat. Kami akan mencapai tonggak 30 juta pengunjung pada 2028," kata Presiden KTO Park Sung Hyeuck yang baru dilantik pada Senin, 2 Februari 2026, kepada wartawan dalam acara media di Pusat Pers Korea, dikutip dari Korea Times, Selasa, 3 Februari 2026.

Park yang merupakan seorang spesialis pemasaran yang direkrut dari Cheil Worldwide, divisi periklanan Samsung Group itu mencatat Korea Selatan mencatat rekor 18,9 juta kunjungan wisman pada tahun lalu. Angka itu meningkat 15,7 persen dari tahun sebelumnya dan naik 8,2 persen dibandingkan puncak pra-pandemi pada 2019.

Mencapai 30 juta pengunjung pada 2028 akan membutuhkan pertumbuhan tahunan lebih dari 16 persen, laju yang digambarkan Park sebagai 'berani tetapi perlu'. Untuk itu, pihaknya menetapkan 2026 sebagai tahun aksi untuk transformasi komprehensif yang dibangun di sekitar tiga pilar: menarik pengunjung, memperpanjang masa tinggal, dan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI).

Bukan sekadar volume, Park menekankan soal kualitas dengan menargetkan sektor premium, termasuk kesehatan medis, wisata kecantikan, dan konferensi internasional besar.

"Volume itu penting, tetapi berapa lama pengunjung tinggal dan berapa banyak yang mereka konsumsi menentukan keberhasilan sejati," katanya.

Strategi KTO Gaet Pasar-pasar Berbeda

KTO akan mengejar strategi khusus pasar yang disesuaikan dengan karakteristik regional. Untuk China, Jepang, dan Taiwan—pasar inti Korea—fokus bergeser ke pariwisata kota sekunder dan kunjungan berulang.

Sementara, pasar Asia Tenggara dan Timur Tengah akan ditargetkan melalui produk yang terkait dengan budaya Korea. Di sisi lain, pasar Amerika Utara dan Eropa akan melihat perluasan titik kontak daring dan luring untuk menangkap permintaan baru.

Park menguraikan 10 inisiatif unggulan untuk 2026, termasuk mentransformasikan sistem panduan pariwisata Korea menjadi platform tunggal yang terintegrasi dengan AI pada 2028. KTO akan mengkonsolidasikan 13 situs web yang terfragmentasi menjadi pusat "Visit Korea", mengembangkan asisten perjalanan AI yang menawarkan dukungan multibahasa, dan memperkenalkan kartu pariwisata dan transportasi terintegrasi untuk pengunjung internasional.

Targetkan Pariwisata 3 Besar Kontributor Ekspor Korea Selatan

Park juga berjanji untuk melampaui negosiasi tingkat cabang untuk menjalin "kemitraan yang berani" dengan jaringan hotel global, seperti Hilton dan Marriott, serta agen perjalanan daring utama di tingkat kantor pusat perusahaan, memanfaatkan efek domino untuk memperluas jangkauan Korea di pasar internasional.

Di dalam negeri, KTO akan menguji coba program liburan regional yang menawarkan pengembalian dana 50 persen untuk biaya perjalanan kepada komunitas pedesaan yang mengalami penurunan populasi di 20 wilayah yang ditentukan. Hal itu untuk mengatasi tantangan distribusi pariwisata dan demografi.

"Tahun 2026 akan menjadi tahun transformasi di mana kita akan bertindak berdasarkan data dan menciptakan hasil nyata yang dirasakan masyarakat di lapangan," kata Park.

"Sama seperti industri pariwisata Jepang yang menempati peringkat kedua (di sektor ekspor Jepang), kami akan mengangkat pariwisata Korea menjadi salah satu dari tiga industri ekspor utama kami dalam tiga tahun ke depan," katanya, merujuk pada otomotif dan semikonduktor sebagai industri ekspor utama negara tersebut.

Rekor Kunjungan Wisman ke Jepang

Terpisah, Jepang memperkirakan angka kunjungan wisman pada 2025 akan menembus 42,7 juta orang.  Seiring peningkatan itu, tingkat pengeluaran turis asing di Jepang juga mencapai rekor tertinggi baru sepanjang masa, yakni sebesar 9,5 triliun yen (sekitar Rp1.020 triliun). Pencapaian itu didorong oleh pelemahan yen dan peningkatan penerbangan ke Jepang.

Di sisi lain, jumlah wisatawan China yang berkunjung ke Jepang menurun 45 persen pada Desember 2024 menjadi 330 ribu orang, kata Menteri Pariwisata Jepang Yasushi Kaneko dalam jumpa pers. Penurunan ini menunjukkan aksi boikot China terhadap Jepang berdampak nyata.

Seruan boikot itu menyusul konflik yang sedang berlangsung antara Jepang dan Tiongkok. Mengutip Kyodo News, Selasa, 20 januari 2026, hal itu diyakini masih akan terus berlangsung dan membebani tren perjalanan masuk pada 2026.

Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata menyatakan bahwa penurunan jumlah wisatawan China itu adalah penurunan pertama sejak Januari 2022 selama pandemi COVID-19. Hingga kini, sambung dia, pemerintah masih memantau situasi seputar wisatawan Tiongkok.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |