Komunitas di Bogor Ingin Bergabung Jadi Kota Gastronomi UCCN, Apa Modalnya?

5 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Bogor ternyata berminat bergabung dalam jaringan kota kreatif UNESCO (UCCN), khususnya menjadi Kota Gastronomi. Hal itu disampaikan Forum Bogor Kota Gastronomi saat beraudiensi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ketua Forum Bogor Kota Gastronomi Hadhar Wurjanto menyatakan bahwa Bogor memiliki ekosistem gastronomi yang lengkap, mulai dari sumber bahan baku, tradisi kuliner, hingga dukungan akademik dan komunitas kreatif. Pihaknya meyakini bahwa pengembangan identitas gastronomi dapat memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) di Kota Bogor.

Lewat predikat Kota Gastronomi, ia juga meyakini bisa memperkenalkan kekayaan kuliner Sunda ke panggung global. Forum itu sendiri baru dibentuk pada 4 Februari 2026 untuk mempresentasikan kekuatan ekosistem kuliner Bogor yang tidak hanya bertumpu pada ragam makanan, tapi juga sejarah, budaya, hingga sistem pengetahuan tradisional masyarakat Sunda yang berkembang selama ratusan tahun.

"Berdasarkan kajian yang dilakukan forum, praktik gastronomi di Bogor memiliki jejak historis panjang, termasuk dokumentasi metode memasak dan budaya pangan yang sudah tercatat sejak abad ke-15," kata Haidhar.

Namun, pihaknya mengharapkan arahan dari Kemenekraf untuk memperbaiki administrasi dan koordinasi teknis yang akan dilakukan ke depan.

"Harapan kami, bimbingan seperti mengerjakan proses teknis sehingga bisa belajar dengan kota-kota lain menuju UCCN. Kami tetap melihat optimis serta positif untuk bersaing dengan sehat sehingga pertumbuhan serta kualitas kuliner semakin meningkat setiap tahun sehingga bisa meningkatkan jumlah wisatawan di Bogor," sambungnya.

Dilema Antara Kota Gastronomi atau Seni Pertunjukan

Menanggapi permintaan forum, Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya menekankan soal urgensi penguatan kuliner yang ada di Bogor supaya semakin dikenal ke tingkat nasional hingga internasional.

"Tentu positioning atau upaya Kota Bogor menjadi Kota Gastronomi di bawah UCCN itu patut diperjuangkan. Tinggal rapor yang disyaratkan oleh UNESCO harus disesuaikan standar-standar atau dipenuhi kriteria penetapannya," kata Riefky, dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com.

Ia menyatakan sebelumnya Pemkot Bogor sudah pernah mengajukan usulan kota kreatif UCCN tersebut, tetapi untuk kategori seni pertunjukan, bukan kuliner. Hal itu berdasarkan keputusan pada 26 November 2025 yang dimuat dalam Berita Acara Hasil Uji Petik Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) dan ditandatangani oleh Wali Kota Bogor, perwakilan pegiat ekraf, akademisi, komunitas, dan media Kota Bogor.

"Kalaupun Pemda sudah pernah mengajukan subsektor unggulan sebelumnya, maka bisa saja dilakukan re-assessment atau repositioning potensi pergeseran fokus dari seni pertunjukan ke kuliner. Coba dimusyawarahkan lagi kepada Pemerintah Daerah Bogor mau menggeser ke subsektor gastronomi atau tetap seni pertunjukan," saran Riefky.

Langkah-langkah Jadi Jaringan Kota Kreatif UNESCO

Menekraf menegaskan jika subsektor kuliner terpilih, pihaknya siap mendukung proses pendampingan agar potensi subsektor kuliner di Bogor bisa mendapat penguatan ekosistem dan kolaborasi yang tepat. "Selain itu, peluang untuk maju ke jejaring kota kreatif dunia akan semakin terbuka," ujarnya.

Sementara, Staf Khusus Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga Kementerian Ekraf Rian Syaf menambahkan bahwa Kemenekraf senantiasa mengidentifikasi potensi subsektor unggulan daerah melalui Kegiatan Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I). Menurutnya, proses menuju pengakuan internasional memerlukan tahapan yang sistematis, mulai dari penguatan status sebagai kabupaten/kota kreatif hingga pemenuhan standar yang ditetapkan oleh UNESCO.

Merujuk pada persyaratan pengajuan UCCN yang juga disepakati Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), pengajuan calon nominasi anggota UCCN harus sudah mengikuti PMK3I di bidang yang linear dengan hasil PMK3I. Jadi, setiap kota atau kabupaten harus melalui proses yang lumayan panjang dari mulai koordinasi, pendampingan, sampai dengan seleksi.

"Teman-teman bisa berkoordinasi dengan Direktorat Fasilitasi Infrastruktur Kementerian Ekraf sehingga bisa diikhtiarkan menuju UCCN. Sebab kalau perbandingan dari pengajuan yang sudah ada, kuliner belum menjadi faktor penunjang utama, baru menjadi pendukung hidupnya ekosistem seni pertunjukan yang diajukan sebelumnya," urai Rian.

7 Kota Kreatif UNESCO di Indonesia

Per November 2025, Indonesia memiliki tujuh kota yang tergabung dalam jaringan Kota Kreatif UNESCO (UCCN) yang diakui atas keunggulan di bidang budaya, desain, musik, sastra, dan seni. Jaringan ini mempromosikan kolaborasi internasional dalam pengembangan industri kreatif lokal.

Berikut adalah daftar tujuh Kota Kreatif UNESCO di Indonesia beserta kategorinya:

Pekalongan (City of Craft and Folk Art - Diakui 2024): Terkenal dengan kerajinan batik yang mendunia.

Bandung (City of Design - Diakui 2015): Dikenal dengan kreativitas tinggi di sektor fashion, desain, dan teknologi.

Ambon (City of Music - Diakui 2019): Diakui dunia atas keanekaragaman musik dan budaya masyarakatnya.

Jakarta (City of Literature - Diakui 2021): Pusat penerbitan dan literatur dengan perkembangan ekosistem buku yang pesat.

Surakarta/Solo (City of Craft and Folk Art - Diakui 2023): Dikenal dengan warisan kriya dan kerajinan batik yang kuat.

Malang (City of Media Arts - Diakui 2025): Unggul dalam bidang animasi, gim, dan digital storytelling.

Ponorogo (City of Craft and Folk Art - Diakui 2025): Diakui atas ekosistem budaya, khususnya seni pertunjukan Reog.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |