Kecelakaan Pesawat 2025 Lebih Mematikan Meski Angkanya Lebih Sedikit dari 2024

6 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyatakan fatalitas kecelakaan pesawat pada 2025 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya meski jumlah kecelakaan lebih sedikit. Total ada 394 korban jiwa dalam delapan kecelakaan udara fatal tahun lalu, naik dibandingkan dengan 244 korban jiwa dari tujuh kecelakaan fatal pada 2024.

Dalam pernyataan yang diterbitkan Senin, 9 Maret 2026, IATA menyoroti peran dua kecelakaan besar. Pertama, Boeing 787 Dreamliner Air India di Ahmedabad pada Juni tahun lalu yang menewaskan 241 orang, dan disusul tabrakan di AS antara Bombardier CRJ700, yang dioperasikan oleh anak perusahaan American Airlines, dan helikopter militer pada Januari 2025 yang menewaskan 64 orang di dalam pesawat.

Mengutip CNA, Selasa (10/3/2026), IATA hanya menghitung korban jiwa dari pesawat penumpang. Data tersebut tidak menghitung 19 orang yang tewas di darat dalam kecelakaan di India, dan tiga awak helikopter militer AS yang tewas dalam tabrakan di Washington. Laporan lengkap masih sedang disiapkan untuk setiap bencana.

Menurut angka IATA, terdapat 51 kecelakaan di antara 38,7 juta penerbangan tahun lalu. Sementara pada 2024, terdapat 54 kecelakaan dalam 37,9 juta penerbangan.

IATA mengatakan terdapat 1,32 kecelakaan per juta penerbangan, atau satu kecelakaan setiap 759.646 penerbangan. Angka ini membaik dari 1,42 kecelakaan per juta penerbangan pada 2024. Namun, angka ini meningkat dari rata-rata untuk 2021 hingga 2025, yaitu 1,27 kecelakaan per juta penerbangan.

IATA menyoroti peningkatan besar dalam keselamatan dalam 15 tahun terakhir, dengan satu kecelakaan fatal setiap 3,5 juta penerbangan sepanjang periode 2012--2016, dibandingkan dengan satu kecelakaan fatal setiap 5,6 juta penerbangan saat ini. Hal ini dikaitkan dengan peningkatan teknis dan pelatihan yang lebih baik.

Asosiasi tersebut mengatakan kecelakaan yang paling umum saat ini adalah "tailstrike", ketika ekor jet menabrak landasan pacu, atau masalah pada roda pendaratan.

Sat-satunya Korban Selamat Kecelakaan Pesawat Air India

Pada 12 Juni 2025, pesawat Air India 171 menabrak sebuah bangunan, menewaskan 241 orang di dalamnya, tepat setelah lepas landas di Ahmedabad, Gujarat. Warga negara Inggris Viswashkumar Ramesh jadi satu-satunya penumpang yang melarikan diri dari reruntuhan.

Dalam sebuah wawancara dengan Sophy Ridge di program Mornings with Ridge dan Frost, Sky News, seperti dilansir Rabu, 5 November 2025, Ramesh tercekat dan secara teratur terdiam lama saat dia mencoba mengingat hari itu. Pria berusia 40 tahun itu berada di kursi 11A yang sekarang jadi terkenal, yang terletak di sebelah pintu darurat, tempat ia keluar setelah Boeing 787 Dreamliner jatuh. 

Berbulan-bulan kemudian, Ramesh berbagi dampak hari itu dalam upaya mencoba mendapatkan kembali kendali atas hidupnya. Ia juga menekan Air India agar menangani dampak kecelakaan itu pada dirinya dan keluarganya. Namun, membicarakannya jelas traumatis. "Sangat menyakitkan berbicara tentang (kecelakaan) pesawat itu," katanya lirih.

Dampak Kecelakaan Pesawat Air India

Ketika ditanya oleh Ridge apakah dia dapat berbicara tentang apa yang terjadi saat itu, Ramesh terdiam. Ia akhirnya  mengatakan, kecelakaan itu membuatnya merasa "sangat terpukul," dan menambahkan hal yang sama juga dirasakan anggota keluarganya yang lain. 

Dia tidak keluar rumah, katanya, malah duduk sendirian di kamar tidurnya, dan "tidak melakukan apapun." Ramesh mengaku masih merasakan ketidaknyamanan fisik, nyeri lutut, bahu, dan punggung, serta luka bakar di lengan kirinya.

Istrinya, katanya, harus membantunya mandi. Dia dan istrinya tinggal di Leicester, Inggris, bersama putra mereka yang berusia empat tahun, Divang.

Ramesh didampingi pemimpin masyarakat Leicester Sanjiv Patel dan penasihat, sekaligus juru bicaranya Radd Seiger untuk memberi dukungan saat ia berbicara pada Ridge. Keduanya mengatakan hal-hal yang ia butuhkan untuk kembali menjalani hidupnya "tidak ada habisnya," tapi hal itu dimulai dengan "hal-hal praktis," seperti dukungan finansial.

Tuntut Tanggung Jawab Maskapai Air India

Ramesh dan Ajaykumar, saudaranya yang meninggal dalam kecelakaan tragis itu, menggunakan "seluruh tabungan mereka" untuk mendirikan bisnis perikanan di India, yang membuat mereka sering terbang ke sana bersama-sama dari Inggris. Bisnis tersebut telah berhenti berjalan sejak krisis tersebut, yang berarti keluarga besar Ramesh di Inggris dan India tidak mempunyai penghasilan, menurut Patel.

Mereka mengatakan, Air India telah menawarkan pembayaran kompensasi sebesar 21,5 ribu pound sterling (sekitar Rp 468 juta), yang diberikan pada penggugat sebelum mencapai akhir klaim cedera pribadi. Seorang juru bicara Tata Group, perusahaan induk Air India, mengatakan pada Sky News bahwa Ramesh menerima pembayaran tersebut dan telah ditransfer padanya.

Namun, Seiger mengatakan jumlah tersebut "tidak cukup" untuk memenuhi semua kebutuhan Ramesh saat ia tidak dapat bekerja atau meninggalkan rumah, mulai dari bantuan mengantar putranya ke sekolah, makanan, hingga dukungan medis dan psikiatris. Mereka mengajukan petisi agar pembayaran dilakukan lebih dari sekadar tunai, yang menurut mereka akan mereduksi Ramesh jadi "angka di lembar kerja."

Mereka ingin kepala eksekutif Air India, Campbell Wilson, bertemu dengannya, keluarganya, dan keluarga korban lain dalam kecelakaan itu, mendengar perjuangan mereka dan "berbicara sebagai manusia."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |