Indonesian Diaspora Network dan Kaikoukai Healthcare Luncurkan Program Migrasi Tenaga Kerja Terampil di Jepang

11 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Indonesian Diaspora Network United (IDN-United) melalui Yayasan Usaha Bakti Diaspora bersama Kaikoukai Healthcare Corp secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dalam rangka pelaksanaan Program Migrasi Tenaga Kerja Terampil Skema Low Cost untuk tenaga caregiver dan perawat Indonesia ke Jepang.

Penandatanganan MoU ini disaksikan oleh Ibu Kartini Sjahrir, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Jepang, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. Program ini bertujuan untuk menjembatani kebutuhan tenaga kerja kesehatan di Jepang dengan potensi surplus lulusan D3 Keperawatan di Indonesia yang diproyeksikan mencapai 176.000 orang hingga 2030.

Jepang sendiri memberi kuota caregiver kepada Indonesia hingga 135.000 orang pada periode 2024–2029 atau sekitar 27.000 tenaga kerja per tahun, sementara tingkat pemenuhan dari Indonesia saat ini masih berada di bawah 5%. Melalui kemitraan strategis ini, kedua pihak berkomitmen untuk mengurangi bahkan menghilangkan biaya migrasi yang selama ini menjadi hambatan utama bagi calon pekerja Indonesia, yang dapat puluhan juta per kandidat.

Skema low-cost ini memungkinkan pelatihan bahasa, proses administrasi migrasi, hingga tiket keberangkatan ditanggung melalui kolaborasi dengan pengguna di negara tujuan. Pelatihan dilaksanakan secara intensif selama di Politeknik Kesehatan dan institusi pendidikan keperawatan mitra, dengan target kompetensi Bahasa Jepang level N4 sebelum keberangkatan. Pilot program sudah dilaksanakan sejak Desember 2025 dengan 30 peserta. Tahap awal implementasi program dijadwalkan mulai Juni 2026 di 7 institusi pendidikan kesehatan.

Mr. Tetsuya Yamada, perwakilan dari Kaikoukai Healthcare Corporation, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam menjawab kebutuhan tenaga kesehatan di Jepang yang terus meningkat seiring dengan penuaan populasi.

“Kami melihat Indonesia memiliki sumber daya tenaga kesehatan yang kompeten dan berpotensi besar. Melalui skema low-cost ini, kami tidak hanya merekrut tenaga kerja, tetapi membangun sistem yang berkelanjutan, adil, dan saling menguntungkan. Kami berharap para caregiver dan perawat Indonesia dapat berkontribusi secara profesional di Jepang sekaligus menjadi jembatan persahabatan kedua negara,” ujar Mr. Yamada.

Sementara itu, Edward Wanandi, Chairman Indonesian Diaspora Network United, menegaskan bahwa peran diaspora bukan sekadar komunitas sosial, melainkan strategic connector dalam membuka akses pasar global bagi talenta Indonesia.

“Diaspora memiliki posisi unik untuk membuka pasar luar negeri, membangun kepercayaan dengan mitra di negara tujuan, serta memastikan proses migrasi berlangsung transparan dan berbiaya rendah. Dengan menekan biaya migrasi, kita meningkatkan partisipasi pencari kerja yang sebelumnya terkendala biaya puluhan juta rupiah. Ini adalah model kolaborasi yang memberdayakan, bukan membebani,” jelas Edward.

Lebih lanjut, Fify Manan, Ketua Yayasan Usaha Bakti Diaspora, menekankan aspek keberlanjutan dan perlindungan pekerja dalam program ini. “Kami memastikan bahwa skema ini aman dan terstruktur. Yayasan berperan dalam memfasilitasi training dan komunikasi antara institusi pendidikan di Indonesia dan pengguna di Jepang. Manfaatnya bukan hanya bagi talents di Indonesia, tetapi juga bagi kedua negara—Indonesia memperoleh peningkatan devisa dan transfer pengetahuan, sementara Jepang mendapatkan tenaga kerja terampil yang siap berkontribusi dalam sistem kesehatannya,” ujar Ibu Fify.

Kerja sama ini diharapkan menjadi model diplomasi ekonomi berbasis diaspora yang konkret, memperkuat hubungan Indonesia–Jepang, serta membuka peluang perluasan ke negara lain di masa mendatang. Ke depan, program ini ditargetkan dapat diimplementasikan secara penuh di seluruh jaringan Poltekkes Kemenkes dan institusi pendidikan kesehatan Muhammadiyah, dengan kontribusi penempatan ribuan tenaga kerja Indonesia melalui skema migrasi low-cost hingga tahun 2030. Program ini juga direncanakan untuk diperluas ke negara tujuan lainnya seperti Jerman, Australia, dan Inggris.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |