Anak Badak Jawa Baru Terekam Kamera Jebak di TN Ujung Kulon, Pengobat Kematian Badak Musofa

5 days ago 15

Liputan6.com, Jakarta - Tim Monitoring dan Evakuasi Operasi Merah Putih Translokasi Badak Jawa kembali merekam keberadaan seekor induk badak jawa dan anaknya di Blok Cigenter, Taman Nasional (TN) Ujung Kulon. Hal itu diketahui berdasarkan hasil pemantauan lapangan menggunakan kamera jebak (camera trap).

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko menyampaikan bahwa temuan ini merupakan indikator penting keberhasilan pengelolaan kawasan dan perlindungan Badak Jawa.

"Keberadaan induk dan anakan Badak Jawa yang terekam melalui camera trap menunjukkan bahwa habitat di Taman Nasional Ujung Kulon masih terjaga dengan baik. Selain itu, pengamanan kawasan yang kuat dan konsisten, serta dukungan kerja sama dari berbagai pihak, menjadi faktor kunci yang memungkinkan Badak Jawa berkembang biak secara alami," katanya pada Rabu, 4 Februari 2026, dikutip dari rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com.

Menurut hasil analisis awal tim, induk Badak Jawa yang terekam diduga bernama Arum merupakan individu yang telah teridentifikasi sebelumnya dalam sistem monitoring. Sementara itu, anakan Badak Jawa yang terekam merupakan individu baru, dengan perkiraan usia kurang dari lima bulan.

Balai TN Ujung Kulon akan terus memantau induk dan anakan Badak Jawa tersebut secara intensif, begitu pula dengan seluruh populasi Badak Jawa di kawasan. Upaya ini dilakukan melalui penguatan patroli, pemantauan berbasis teknologi, pengelolaan habitat, serta peningkatan kolaborasi dengan mitra konservasi, LSM, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan masyarakat.

"Pemerintah mengajak seluruh pihak untuk terus memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian Badak Jawa sebagai salah satu satwa paling langka di dunia dan kebanggaan Indonesia, demi memastikan kelangsungan hidupnya bagi generasi mendatang," ujar Satyawan.

Kematian Badak Jawa Musofa

Temuan itu seakan mengobati kekecewaan akibat kematian badak jawa Musofa pada 7 November 2025. Kematian itu menggagalkan upaya translokasi badak jawa yang tujuannya untuk mengembangbiakkan populasi badak jawa yang terancam punah karena banyaknya kelainan genetik.

Terungkap bahwa Badak Musofa ternyata mati hanya dua hari setelah dipindahkan ke lokasi translokasi Legon Pakis. Tim dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University melakukan nekropsi untuk menguak penyebab pasti kematian badak jantan tersebut.

Prof. drh. Bambang Pontjo Priosoeryanto dari SKHB IPB University menyatakan berdasarkan pemeriksaan jaringan dan organ, Badak Musofa ternyata mengalami kurang gizi. Meski terlihat gemuk di kamera, faktanya badak tersebut kurus sekali karena lemak di bawah kulit dan abdomennya mengalami degradasi.

"Lemaknya di metabolisme karena kekurangan energi, karena lemak itu adalah sebagai cadangan energi bagi hewan maupun kita manusia, yang diakibatkan adanya defisiensi nutrisi atau energi," kata Bambang dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat, 28 November 2025.

Badak Busung Lapar dan Tua

Lewat hasil pemeriksaan, ditemukan pula penumpukan cairan di rongga perut dalam jumlah yang cukup banyak. Itu, kata Bambang, merupakan salah satu akibat dari badak terlalu kurus.

"Mungkin bisa kita ilustrasikan kalau pada orang yang sangat kurus, biasa disebut busung lapar. Nah, ini sama sebetulnya dengan busung lapar," sahutnya.

Temuan lain yang tak kalah mengejutkan adalah infestasi cacing parasit yang mengisap nutrisi di lambung. Ada pula cacing pengisap darah di sepanjang usus halus, cacing sestoda di duodenum hingga ileum, cacing pipih bentuk oval berwarna merah di daerah kolon, dan beberapa cacing gelembung di submukosa duodenum.

Prof. Bambang juga menerangkan bahwa usia Badak Musofa ternyata lebih tua dari perkiraan awal. Berdasarkan hasil nekropsi, usia Badak Musofa diyakini telah berusia lebih dari 45 tahun.

"Hal ini kita lihat dari keausan giginya, di mana ada satu gigi yang sudah masuk ke dalam tulang, sehingga dia merusak tulang mandibula," ujarnya.

Program Translokasi Badak Jawa Bakal Dilanjutkan

Sebelumya, Kementerian Kehutanan memperkirakan usia Badak Musofa tidak lebih dari 35 tahun karena saat pertama kali terekam kamera pengawas, yakni pada 2013, usianya saat itu diperkirakan sekitar 10--12 tahun.

Karena itu, belajar dari pengalaman translokasi Badak Musofa, SKHB IPB University menyarankan pengidentifikasi umur badak lebih detail. "Umur ini akan menjadi penting sekali karena target kita adalah untuk breeding, untuk propagasi, untuk perbanyakan," ucap Dr. drh. Muhammad Agil.

Di samping itu, pihaknya mengusulkan agar ada pemberian obat cacing untuk badak-badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Hal itu untuk mengantisipasi badak terjangkit cacing. "Seperti menggunakan umpan yang diisi obat cacing... Mudah-mudahan badaknya akan memakannya," ujarnya lagi.

drh. Agil mengatakan kasus kematian Badak Musofa bukan alasan untuk menghentikan proses translokasi. Pasalnya, dengan melakukan hal itu, Indonesia tidak akan pernah punya kesempatan untuk pengembangbiakkan badak Jawa.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |