Tukang Cukur di Afghanistan Terancam Dipenjara Bila Pangkas Janggut Pelanggannya Kependekan

4 days ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Profesi tukang cukur di Afghanistan ternyata berisiko dipenjara. Hal itu terungkap setelah sejumlah tukang cukur mengaku dibayangi ketakutan akan ditahan bila mereka memangkas janggut pria terlalu pendek.

Itu terjadi karena otoritas Taliban semakin gencar menegakkan interpretasi ketat mereka terhadap hukum Islam. Bulan lalu, Kementerian Penyebaran Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan mengatakan bahwa sekarang "wajib" untuk menumbuhkan janggut lebih panjang dari kepalan tangan, memperkuat perintah sebelumnya.

Menteri Khalid Hanafi mengatakan bahwa itu adalah 'tanggung jawab pemerintah untuk membimbing bangsa agar memiliki penampilan sesuai dengan syariah'. Para pejabat yang bertugas mempromosikan kebajikan "wajib menerapkan sistem Islam," katanya.

Karena para pejabat kementerian berpatroli di jalan-jalan kota untuk memastikan aturan tersebut dipatuhi, semua pria yang diwawancarai AFP berbicara dengan syarat anonim karena alasan keamanan. Di Povinsi Ghazni bagian tenggara, seorang tukang cukur berusia 30 tahun mengatakan dia ditahan selama tiga malam setelah para pejabat mengetahui bahwa salah satu karyawannya telah memotong rambut gaya Barat kepada seorang klien.

"Awalnya, saya ditahan di aula yang dingin. Kemudian, setelah saya bersikeras untuk dibebaskan, mereka memindahkan saya ke kontainer (pengiriman) yang dingin," katanya pada AFP, dikutip Kamis, 19 Februari 2026.

Ia akhirnya dibebaskan tanpa dakwaan dan terus bekerja, tetapi biasanya bersembunyi bersama kliennya ketika patroli lewat. "Masalahnya adalah tidak ada yang bisa membantah atau mempertanyakan para pejabat kementerian," kata tukang cukur itu. "Semua orang takut pada mereka."

Sebar Perintah Lewat Khutbah dan Kampus

Pria itu menambahkan bahwa dalam beberapa kasus, penahanan tidak hanya diberlakukan pada tukang cukur, tetapi juga kliennya. Bahkan ketika 'klien telah dibebaskan', pejabat masih menahan tukang cukur.

Tahun lalu, tiga tukang cukur di Provinsi Kunar dipenjara selama tiga hingga lima bulan karena melanggar peraturan kementerian, menurut laporan PBB. Bersamaan dengan peningkatan penegakan hukum, Kementerian Agama Afghanistan juga mengeluarkan perintah yang lebih ketat.

Dalam panduan delapan halaman untuk imam yang dikeluarkan pada November 2025, mereka diminta untuk menggambarkan mencukur janggut sebagai 'dosa besar' dalam khotbah mereka. Argumen Kementerian Agama melarang janggut dipangkas pendek adalah karena pria 'berusaha terlihat seperti wanita'.

Perintah tersebut juga berlaku di universitas yang hanya memperbolehkan pria untuk berkuliah. Seorang mahasiswa Universitas Kabul berusia 22 tahun mengatakan bahwa para dosen 'telah memperingatkan kami... bahwa jika kami tidak memiliki penampilan Islami yang layak, yang mencakup janggut dan penutup kepala, mereka akan mengurangi nilai kami'.

Pemerintah Afghanistan Tutup Telinga

Di ibu kota Kabul, seorang tukang cukur berusia 25 tahun menyesalkan "ada banyak pembatasan" yang bertentangan dengan preferensi klien mudanya untuk cukuran yang lebih pendek.

"Tukang cukur adalah bisnis pribadi, janggut dan kepala adalah sesuatu yang pribadi. Mereka seharusnya dapat memotong sesuai keinginan mereka," katanya.

Hanafi, menteri penyebaran kebajikan, menolak mentah-mentah pendapat tersebut, dengan mengatakan bulan lalu bahwa menyuruh pria "untuk menumbuhkan janggut sesuai syariat" tidak dapat dianggap sebagai 'mengganggu ruang pribadi'. Aturan itu memundurkan Afghanistan ke masa kegelapan.

Sebelum otoritas Taliban kembali berkuasa pada 2021, penduduk kota-kota besar dapat memilih penampilan mereka sendiri. Sementara di daerah-daerah tempat para pejuang Taliban bertempur melawan pasukan yang didukung AS, para pria akan memelihara janggut, baik karena takut maupun karena pilihan.

Tukang Cukur Terancam Kehilangan Mata Pencaharian

Karena semakin sedikit pria yang memilih untuk bercukur pendek, tukang cukur berusia 25 tahun di Kabul itu mengatakan bahwa ia sudah kehilangan pelanggan. Misalnya, banyak pegawai negeri sipil. Ia mengatakan bahwa dulu mereka merapikan rambut janggut beberapa kali seminggu.

"Tetapi sekarang, sebagian besar dari mereka memelihara janggut, mereka bahkan tidak datang selama sebulan," katanya.

Seorang tukang cukur berusia 50 tahun di Kabul mengatakan bahwa patroli moral 'mengunjungi dan memeriksa setiap hari'. Dalam satu insiden bulan ini, tukang cukur itu mengatakan bahwa seorang petugas datang ke toko dan bertanya, "Mengapa Anda memotong rambut seperti ini?"

"Setelah mencoba menjelaskan bahwa dia masih anak-anak, dia berkata kepada kami: 'Tidak, tata rambut Islami, bukan gaya rambut Inggris'."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |