Perempuan Jepang Makin Enggan Jalankan Tradisi Bagi-bagi Cokelat di Hari Valentine

17 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Tradisi berbagi cokelat Valentine untuk merayakan Hari Kasih Sayang di Jepang makin memudar. Menurut survei terbaru dari sebuah perusahaan riset pasar, lebih sedikit wanita di Jepang yang berencana memberikan cokelat pada Hari Valentine dibandingkan tahun sebelumnya.

Mengutip Japan Today, Selasa (10/2/2026), dalam survei yang menargetkan 2.500 wanita dan gadis berusia 15 hingga 79 tahun, 42,8 persen mengatakan mereka tidak berencana memberikan cokelat, naik 4,0 poin persentase dari tahun sebelumnya. Dilakukan pada 14--19 Januari 2026 oleh Intage Inc, hasil survei menunjukkan penurunan terbesar terjadi pada pemberian hadiah kepada anggota keluarga, turun 4,4 poin dari 2025 menjadi 38,7 persen.

Pemberian cokelat kepada teman juga turun 2,1 poin menjadi 11,2 persen, dan cokelat "wajib" untuk rekan kerja menurun 1,3 poin menjadi 7,9 persen. Sebagian besar perempuan pekerja enggan untuk ikut serta dalam tradisi pemberian cokelat wajib kepada rekan kerja laki-laki, dengan 85,4 persen dari 787 responden yang relevan mengatakan mereka tidak ingin melakukannya, proporsi tertinggi sejak survei dimulai pada 2022.

Sebaliknya, proporsi perempuan yang mengatakan mereka berniat membeli cokelat untuk diri mereka sendiri hampir stagnan, dengan kenaikan 0,3 poin menjadi 21,3 persen. Temuan itu berbeda dari tren pada 2024. Mengutip Kyodo, Selasa, 13 Februari 2024, berdasarkan survei lembaga swasta, jumlah wanita yang berencana membeli cokelat Valentine di Jepang untuk diri sendiri naik tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan mereka yang memberikan hadiah pada kekasihnya.

Harga Cokelat Naik

Rata-rata pengeluaran untuk cokelat Hari Valentine meningkat 8,1 persen menjadi 4.943 yen, tetapi lebih sedikit responden yang mengatakan mereka ingin membeli produk berkualitas, sebagai tanda bahwa inflasi mungkin menekan pembelian barang mewah. Survei terpisah tentang harga cokelat oleh Teikoku Databank Ltd menunjukkan biaya rata-rata satu buah cokelat Hari Valentine naik 4 persen selama setahun menjadi 436 yen, mencerminkan harga kakao yang tinggi dan biaya impor karena yen yang melemah. 

Di Jepang, wanita secara tradisional memberikan sekotak cokelat kepada pria, termasuk pasangan romantis, ayah, dan rekan kerja mereka, pada Hari Valentine. Beberapa juga bertukar cokelat dengan teman-teman mereka.

Sejarah cokelat lekat sebagai kado Valentine tidak pernah ada jawaban pasti. Namun, beberapa teori menyatakan bahwa tradisi ini bisa berasal dari beberapa faktor.

Sejarah Cokelat Lekat Jadi Kado Valentine

Alasan pertama, berkaitan dengan afeksi. Cokelat dikenal sebagai simbol dari afeksi dan gairah, sehingga bisa jadi pilihan yang tepat untuk diberikan pada pasangan di Hari Valentine.

Kedua, faktor pemasaran. Industri percokelatan memanfaatkan Hari Valentine sebagai kesempatan untuk mempromosikan produk-produk cokelat mereka, seperti cokelat praline, cokelat berbentuk hati, dan lain sebagainya. Promosi ini membantu memperkuat identifikasi antara Hari Valentine dan cokelat.

Sementara itu, dilansir dari situs History, Hari Valentine mulai jadi libur yang dikaitkan dengan cinta romantis di negara-negara berbahasa Inggris sejak 1840-an. Pada era Victoria, Hari Valentine dirayakan dengan saling berkirim kartu ucapan. Richard Cadbury, yang berasal dari keluarga pemilik pabrik cokelat, berperan dalam sejarah penjualan cokelat di libur Valentine.

Peran Richard Cadburry di Cokelat Valentine

Kala itu, keluarga Cadbury baru menemukan teknik pengolahan cokelat yang menghasilkan ekstrak kakao murni dari biji cokelat utuh. Teknik tersebut menghasilkan minuman cokelat yang lebih lezat dari yang biasa diminum masyarakat Inggris.

Proses ekstraksi cokelat itu pun menghasilkan mentega kakao berlebih yang kemudian digunakan Cadbury untuk menciptakan berbagai varian cokelat. Cadbury lalu menangkap peluang pemasaran dari jenis baru varian cokelat. Dia menjual produknya dengan kemasan indah yang didesain sendiri.

Sejak saat itulah, cokelat dengan berbagai bentuk cantik hadir dalam kemasan kotak berbentuk hati. Meski Cadbury tidak mempatenkan kemasan cokelat berbentuk hati itu, dipercaya dialah yang memulai mengemas cokelat dengan kotak tersebut.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |