Mengapa Jerawat Tetap Muncul di Usia Matang dan Bagaimana Cara Mengatasinya secara Medis?

1 day ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Benarkah jerawat adalah masalah yang akan tertinggal di masa sekolah? Kenyataannya, masalah kulit ini sering kali menetap hingga usia 20-an, 30-an, bahkan 40-an. Munculnya jerawat pada orang dewasa bukan disebabkan oleh kurangnya kebersihan, melainkan interaksi kompleks antara hormon, stres, dan lingkungan.

Melansir CNA, Selasa (20/1/2026), dr. Angeline Yong, pendiri Angeline Yong Dermatology, mencatat betapa seringnya pasien dewasa merasa frustrasi karena kondisi ini. "Banyak orang dewasa datang kepada saya dan berkata, 'Saya pikir saya sudah meninggalkan jerawat di masa remaja, mengapa ini terjadi sekarang?' Rasa frustrasi itu bisa sama sulitnya untuk dikelola seperti jerawat itu sendiri," ujarnya.

Berbeda dengan masa remaja di mana lonjakan androgen menjadi pemicu utama, pada orang dewasa, penyebabnya lebih bervariasi dan bersifat siklikal atau berulang. Penyebab utama pada wanita dewasa sering kali berkaitan dengan fluktuasi hormon yang terjadi selama siklus menstruasi, kehamilan, atau masa perimenopause.

"Pada orang dewasa, fluktuasi terkait siklus menstruasi seperti dominasi estrogen, kehamilan, pergeseran pasca-melahirkan, atau perimenopause semuanya dapat memicu jerawat baru," jelas dr. Yong. Kondisi medis tertentu seperti PCOS juga bisa menjadi dalang di balik kerusakan tekstur kulit yang terjadi di usia matang.

Selain itu, konsumsi obat-obatan tertentu seperti steroid atau bahkan suplemen vitamin B12 dosis tinggi diketahui dapat memperburuk kondisi kulit.

Memahami bahwa kulit dewasa lebih sensitif dan memiliki kemampuan regenerasi yang lebih lambat adalah kunci utama untuk mulai menangani masalah ini secara efektif tanpa merusak lapisan pelindung kulit yang sudah mulai menipis seiring bertambahnya usia.

Stres dan Gaya Hidup: Musuh Tersembunyi di Balik Pori-Pori

Stres bukan sekadar beban pikiran, ia secara fisik mengubah cara kulit Anda berfungsi melalui hormon kortisol. Ketika tekanan hidup meningkat, kelenjar minyak akan bekerja lebih aktif, memicu peradangan yang membuat pori-pori tersumbat. Dr. Yong menekankan pentingnya mengelola kesehatan mental sebagai bagian dari perawatan kulit.

"Saran saya, anggap stres seserius Anda menganggap skincare. Tidur yang cukup, istirahat, meditasi, dan perawatan diri benar-benar membantu kulit merespons pengobatan dengan lebih baik," katanya. Tanpa manajemen stres yang baik, produk skincare termahal sekalipun mungkin tidak akan memberikan hasil yang maksimal karena sumber peradangannya berasal dari dalam tubuh.

Selain stres, kebiasaan sehari-hari dan pola makan memegang peranan krusial dalam kesehatan kulit dewasa. Dr. Sarah Too, direktur medis Astria Medical Aesthetics, menyoroti konsumsi makanan dengan indeks glikemik tinggi seperti nasi putih atau makanan manis yang dapat memicu lonjakan insulin.

"Susu dan minuman manis seperti kopi susu dan boba juga meningkatkan produksi minyak dan peradangan," kata dr. Too. Selain itu, kebiasaan kecil seperti menempelkan ponsel ke pipi saat menelepon ternyata dapat memindahkan bakteri dan memberikan tekanan mekanis yang memicu jerawat di area tersebut.

Bahkan sisa keringat setelah berolahraga yang tidak segera dibersihkan dapat menyebabkan jerawat di wajah maupun punggung. Dr. Too menyarankan penggunaan semprotan asam hipoklorit setelah latihan untuk mensanitasi kulit secara lembut tanpa menyebabkan iritasi berlebih.

Evolusi Jerawat di Setiap Dekade Usia

Karakteristik masalah kulit terus berubah seiring kita menua, sehingga pendekatan yang dilakukan tidak bisa disamaratakan. Di usia 20-an, jerawat biasanya masih dipengaruhi oleh sisa lonjakan hormon remaja dan stres awal karier, muncul di sekitar rahang namun tetap sering ditemukan di area T-zone yang berminyak.

Memasuki usia 30-an, ceritanya mulai berbeda. Dr. Yong menjelaskan bahwa pada dekade ini, "Penghalang kulit menjadi lebih sensitif, menyebabkan nodul yang lebih dalam dan menyakitkan di sekitar rahang, dagu, dan leher," ujarnya. Gejala penuaan dini mulai muncul, sehingga kulit memerlukan keseimbangan antara bahan aktif pembasmi kuman dan hidrasi untuk menjaga elastisitasnya.

Ketika seseorang memasuki usia 40-an, jerawat bukan lagi soal kelebihan minyak, melainkan tentang perubahan hormonal drastis seperti perimenopause atau pemicu inflamasi lainnya. Pada tahap ini, kulit menjadi jauh kurang tangguh dibandingkan saat muda. Flare-up yang terjadi cenderung bersifat kistik, lambat sembuh, dan lebih berisiko meninggalkan noda hitam atau bekas luka yang permanen.

Dr. Yong memperingatkan tentang fenomena "skincare acne," di mana orang dewasa mencoba terlalu banyak produk tren secara bersamaan. "Orang-orang menumpuk berbagai asam, retinoid, scrub, dan masker tanpa panduan. Hasilnya? Penghalang kulit yang rusak, menjadi merah, sensitif, dan ironisnya, lebih rentan terhadap jerawat," ujarnya. Strategi terbaik untuk usia matang adalah kembali ke dasar: pembersih lembut, pelembap non-komedogenik, dan tabir surya sebelum mencoba bahan aktif yang lebih kuat.

Solusi Modern dan Pentingnya Kesabaran

Mengobati jerawat dewasa membutuhkan kesabaran dan pemilihan bahan yang tepat. Bahan seperti retinoid, asam salisilat (BHA), dan benzoyl peroxide tetap menjadi standar emas, namun harus digunakan dengan bijak agar tidak mengiritasi kulit yang mulai menipis. Niacinamide sering direkomendasikan sebagai pendamping karena sifatnya yang menenangkan dan mampu mengatur produksi minyak.

"Kuncinya bukan melemparkan setiap bahan aktif sekaligus, tetapi menggunakannya secara terukur dalam rotasi. Misalnya, gunakan asam di pagi hari, dan retinol di malam hari," saran dr. Yong. Penggunaan tabir surya tetap menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar, karena paparan UV akan memperburuk bekas jerawat dan mempercepat penuaan.

Di sisi medis, teknologi terbaru menawarkan solusi yang lebih cerdas dan minim rasa sakit. Prosedur seperti microneedling frekuensi radio, laser fraksional, hingga laser 1726nm kini digunakan untuk menargetkan kelenjar minyak secara spesifik tanpa merusak permukaan kulit.

Dr. Too juga sering menggabungkan obat-obatan dengan terapi cahaya untuk hasil maksimal. Namun, di balik semua teknologi tersebut, faktor mental tetap yang utama. Dr. Too, yang juga berjuang dengan jerawat kistik sejak kuliah, mengingatkan bahwa jerawat tidak mendefinisikan harga diri seseorang.

"Jerawat dewasa sangat umum terjadi, dan itu bukan tanda kebersihan yang buruk atau kegagalan pribadi, itu adalah biologi, hormon, lingkungan, dan stres yang saling berinteraksi," tutup dr. Yong. Fokuslah pada kesehatan kulit yang tangguh, bukan kesempurnaan tanpa cela.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |