InJourney Target Kurangi Emisi 4.000 Ton CO2e pada 2026, Tak Ingin Pariwisata Berkelanjutan Hanya Kosmetik

1 month ago 85

Liputan6.com, Jakarta - Genap berusia empat tahun, InJourney, BUMN yang fokus pada bisnis aviasi dan pariwisata, berkomitmen untuk terus melanjutkan upaya pariwisata berkelanjutan. Di bawah tema besar Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia, perusahaan itu menargetkan bisa mengurangi emisi 4.000 ton CO2e pada 2026.

"Ini adalah tahun keempat kami berkarya untuk Indonesia. Jadi, memang kami sebagai holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata, kami memiliki tanggung jawab untuk melestarikan Indonesia," kata Direktur Utama InJourney Maya Watono dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, 19 Januari 2026.

Dalam upaya mengurangi emisi karbon, Maya mengatakan pihaknya akan mengganti sumber energi listrik dengan solar panel di 37 bandara yang dikelola InJourney Aviation. Ia menyebut penggantian ke solar panel berkontribusi besar dalam upaya pengurangan emisi karbon, ditargetkan menurunkan sekitar 2.000 CO2e.

"Saat ini baru di Soekarno Hatta dan Ngurah Rai, tapi akan kami lakukan di 37 bandara, akan menuju ke solar panel," ujarnya.

Ia tak ingin upaya itu sekadar seremoni atau bahkan aksi 'kosmetik'. Maka itu, pihaknya menyiapkan dashboard untuk memantau dan mengukur emisi karbon dan carbon offset yang telah dilakukan.

"Yang ingin kami lakukan adalah sebenarnya pelestarian secara fundamental. Tidak hanya untuk secara superficial atau secara kosmetik, tapi secara fundamental. Aksi-aksi untuk pelestarian lingkungan Indonesia, kami lakukan untuk memberikan legacy untuk generasi ke depan," sambungnya.

Target penurunan emisi karbon juga akan diupayakan dengan penggantian kendaraan menjadi kendaraan elektronik, terutama di aset destinasi wisata yang dikelola InJourney. Ada pula penanaman pohon mangrove di Mandalika NTB dan Nusa Dua Bali serta pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab.

Implementasi Keberlanjutan Lingkungan InJourney dalam 4 Tahun Terakhir

InJourney sebelumnya telah mengimplementasikan pemanfaatan energi surya (PLTS) di sembilan bandara utama dengan hasil 10.760 MWh energi terbarukan per tahun dan diklaim berpotensi menghndari emsisi sebesar 9.860 ton CO2e per tahun, setara dengan penyerapan karbon oleh 272 ribu pohon. 

InJourney juga mulai mengadopsi kendaraan dan peralatan listrik di seluruh lini bisnis. Saat ini, InJourney telah mengoperasikan 716 unit kendaraan dan peralatan listrik, terdiri atas ground support equipment (GSE), buggy car, mini bus, golf cart, dan moda transportasi lainnya di berbagai destinasi pariwisata, sebagai langkah konkret untuk menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi emisi operasional.

Dalam pengelolaan sumber daya dan limbah, InJourney Group menerapkan pendekatan terpadu berbasis prinsip ekonomi sirkular. Sepanjang implementasinya, pengelolaan limbah padat mencapai 7.000 m³, sementara pemanfaatan air daur ulang sebesar 1.728.304 m³ telah dilakukan untuk mendukung efisiensi penggunaan air di berbagai destinasi.

Sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, InJourney juga menjalankan program penanaman 40.000 pohon mangrove di seluruh wilayah operasional. Program ini diproyeksikan dapat memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dan mendukung keberlanjutan destinasi pariwisata.

Fasilitas Pengolahan Air Laut Jadi Air Bersih

Salah satu kawasan wisata yang dikelola ITDC, yakni di Nusa Dua Bali, mengoperasikan fasilitas Seawater Reverse Osmosis (SWRO) yang menghasilkan 331.382 m³ air bersih. SWRO memanfaatkan air laut sebagai sumber air bersih alternatif, sehingga mengurangi ketergantungan pada air tanah dan sumber air tawar. Selain itu, pengimplementasian SWRO dapat menekan risiko kelangkaan air akibat perubahan iklum dan memperkuat ketahanan air.

Penerapan fasilitas SWRO ini juga menjadikan ITDC Nusa Dua sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan izin resmi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mengolah air laut menjadi air layak untuk dikonsumsi melalui teknologi modern.

"Melalui rangkaian inisiatif tersebut, InJourney menegaskan komitmennya untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis dan pengelolaan destinasi. Pendekatan ini memastikan bahwa transformasi aviasi dan pariwisata tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan, efisiensi sumber daya, serta meninggalkan legacy hijau yang berkelanjutan bagi generasi mendatang," kata Maya.

Peningkatan Kapasitas SDM

Selain lingkungan, aspek sosial ekonomi juga jadi pilar penting dalam praktik pariwisata keberlanjutan menurut InJourney. Pada pilar tersebut, Herdy Harman, Direktur SDM dan Digital InJourney menyatakan bahwa peningkatan kualitas hidup masyarakat sebagai prioritas utama.

Upaya itu diwujudkan melalui program peningkatan kesehatan dan kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, perluasan akses pendidikan, serta penguatan kemitraan dengan pelaku usaha lokal dan UMKM. Pendekatan ini memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pengembangan pariwisata dapat dirasakan secara inklusif dan merata oleh masyarakat di sekitar destinasi.

"Membangun infrastruktur adalah satu hal, tetapi membangun manusia adalah hal lain yang sama pentingnya. Program yang baik harus diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia agar transformasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak jangka panjang," kata Herdy dalam rilis terpisah.

Salah satu program yang dijalankan adalah Local Heroes, yakni upaya peningkatan kapasitas individu menonjol di sekitar daerah operasional InJourney. Tujuannya agar ilmu yang diperoleh kemudian disebar ke masyarakat lain yang dibina mereka.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |