Cek Kesehatan Gratis 2026, Bakal Fokus pada Penanganan Hasil Pemeriksaan

1 day ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Cek Kesehatan Gratis pada 2026 bukan hanya mengejar jumlah target capaian tapi juga tata laksana atau penanganan bila peserta mengalami masalah kesehatan. Hal ini dilakukan agar masyarakat Indonesia sehat.

"Tahun kedua ini, kita mau ada pencegahan dan penanganan. Bukan hanya cek kesehatannya saja yang gratis, tapi pencegahan dan penanganannya pun gratis,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi pers secara daring pada Jumat, 23 Januari 2026.

Pemerintah menjamin pengobatan gratis selama 15 hari pertama bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan melalui CKG. Selanjutnya, penanganan dilanjutkan melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional bagi peserta BPJS Kesehatan aktif, sementara warga yang belum terdaftar diarahkan untuk segera mengaktifkan kepesertaan.

Bila pasien mengalami masalah kesehatan, seperti hipertensi atau diabetes, maka peserta akan mendapatkan pengobatan gratis selama 15 hari pertama. Selanjutnya, penanganan dilanjutkan melalui skema Jaminan Kesehatan Nasional bagi peserta BPJS Kesehatan aktif, sementara warga yang belum terdaftar diarahkan untuk segera mengaktifkan kepesertaan.

“Gratisnya ini 15 hari pertama untuk seluruh 280 juta rakyat Indonesia. Sisanya, teman-teman harus pastikan, komunikasikan, masyarakat yang memiliki BPJS itu gratis. Tapi, kalau masyarakatnya tidak memiliki BPJS, ya dia harus bayar setelah 15 hari,” ujar Budi.

Maka dari itu Budi mengingatkan masyarakat untuk rutin membayar BPJS Kesehatan. Lalu, bila belum menjadi peserta JKN segera mendaftarkan diri.

"Itulah sebabnya saran saya, ayo cepat segera mengaktifkan BPJS masyarakat,” ujar Budi.

Pengobatan Hipertensi dan Diabetes Langsung Diberikan

Di kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Maria Endang Sumiwi mengatakan masalah kesehatan yang terdeteksi dan langsung ditangani adalah hipertensi dan diabetes.

"Mulai 2026, pasien hipertensi dan diabetes akan langsung mendapatkan obat di Puskesmas pada hari yang sama,” ujar Maria Endang Sumiwi.

Penanganan atau tata laksana tidak menunggu beda hari atau minggu, tapi di hari itu juga. "Tidak perlu bulan depan atau minggu depan tapi hari itu sebelum pulang peserta akan dapat obat," kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes drg. Murti Utami di kesempatan yang sama.

Hipertensi, kata Murti, bila tidak segera diobati bisa meningkatkan risiko pasien mengalami stroke. Bila sudah kena stroke, yang menderita bukan cuma peserta tapi juga keluarga.

"Maka hipertensi harus ditemukan, harus diobati," kata Murti.

Tahun Pertama CKG, 70 Juta Orang Sudah Diperiksa

Sudah 70 juta masyarakat Indonesia memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2025. Pemeriksaan kesehatan secara gratis ini dilakukan di 10.225 puskesmas atau 99 persen dari total puskesmas yang ada di Indonesia.

“Memang masih ada beberapa puskesmas yang belum menyelenggarakan, terutama ini di daerah-daerah yang sangat sulit,” ujar Endang.

Data menunjukkan bahwa peserta perempuan yang mengikuti CKG lebih banyak. Partisipasi perempuan tercatat sebanyak 54,39 persen atau 39,58 juta orang, sementara laki-laki 45,61 persen atau 33,2 juta orang.

"Di awal-awal CKG, didominasi oleh perempuan di bulan Maret itu 64 persen perempuan dan laki-laki 35 persen. Namun, di bulan Desember 2025 jumlah partisipan laki-laki meningkat," tutur Endang.

Mengenai provinsi dengan provinsi dengan jumlah CKG terbanyak diduduki Jawa Tengah (14,4 juta), Jawa Timur (13 juta), dan Jawa Barat (10,3 juta).

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |