Tremor Bukan Gejala Gangguan Irama Jantung Fibrilasi Atrial, Ini Biang Kerok Sebenarnya

13 hours ago 2

Kondisi tersebut melatarbelakangi dikampanyekannya MENARI sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk memeriksa keteraturan denyut jantung secara mandiri melalui perabaan nadi. Menurut beberapa penelitian, MENARI terbukti mampu meningkatkan deteksi fibrilasi atrium dan membuka peluang penanganan lebih dini guna menurunkan risiko stroke.

“MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, menghitung denyut selama 30 detik lalu dikalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal berkisar 60–100 kali per menit, namun keteraturan irama juga perlu diperhatikan,” tambah Yoga.

Yoga menjelaskan, denyut nadi yang terasa tidak teratur, ada denyut yang hilang, iramanya bervariasi, terlalu cepat di atas 100 kali per menit atau terlalu lambat di bawah 60 kali per menit merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan. Terutama bila disertai keluhan seperti pusing, keringat dingin, nyeri dada, sesak napas, pingsan, bicara pelo, atau kelemahan anggota gerak. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

 Secara ilmiah, Yoga menegaskan bahwa MENARI merupakan langkah awal yang efektif untuk mendeteksi denyut jantung tidak teratur, meskipun tidak dimaksudkan untuk menegakkan diagnosis.

Jika nadi terasa tidak teratur, pemeriksaan lanjutan seperti rekaman EKG perlu dilakukan, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti usia lanjut atau penderita penyakit jantung. Dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, termasuk penggunaan pengencer darah pada kasus fibrilasi atrium, risiko stroke dapat berkurang secara bermakna. Ini menjadikan MENARI sebagai kebiasaan sederhana dengan dampak besar bagi pencegahan penyakit kardiovaskular.

“Kebiasaan memeriksa nadi secara berkala dapat membantu menemukan gangguan irama jantung (fibrilasi atrium) yang sebelumnya tidak disadari. Bila gangguan ini terdeteksi dan diobati dengan pengencer darah yang tepat, risiko Stroke dapat berkurang secara bermakna.”

“Walaupun penelitian besar yang secara langsung membuktikan bahwa kebiasaan meraba nadi sendiri menurunkan angka stroke masih terbatas, tapi tetap saja jalur manfaatnya, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan stroke, sudah sangat kuat secara ilmiah,” pungkasnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |