Derita Jembatan Brooklyn nan Ikonis karena Ulah Turis, Tisu Bekas hingga Kondom Penuhi Pagar

3 days ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Entah siapa yang memulai, banyak turis meninggalkan banyak benda aneh di pagar Jembatan Brooklyn, New York, Amerika Serikat. Alih-alih gembok cinta seperti di banyak objek wisata populer di berbagai belahan dunia, para turis menggantungkan tisu kotor, ikat rambut, tampon, celana dalam, dan bahkan kondom ke pagar jembatan yang hampir rusak.

Frekuensinya sangat tinggi hingga kru pembersihan yang peduli lingkungan tidak dapat mengimbanginya. "Kami benar-benar hanya berjalan melewatinya dan melihatnya dan merasa senang," ujar Helen Burton dari Birmingham, Inggris, yang kedua putrinya dan seorang teman masing-masing meletakkan 'ikat rambut' di sebagian jembatan.

"Itu sesuatu yang kami bawa, jadi kami pikir itu cukup bagus!" ujarnya lagi, dikutip dari NY Post, Jumat (20/2/2026).

Ia mengaku belum pernah mendengar tradisi itu sebelum melintasi landmark tersebut, tetapi mendadak ingin berpartisipasi. "Kita bisa meninggalkan sesuatu di sini untuk menunjukkan bahwa kita pernah di sini," kata Amelie (13) yang datang bersama adiknya Jess (11), seraya menyebut 'tumpukan sampah' itu tampak 'asli'.

Di sisi lain, penduduk setempat merasa terganggu dengan 'tren menjijikan' para turis. Mereka yang tak tahan akhirnya bertindak sendiri membersihkan tumpukan sampah yang ditinggalkan di pagar jembatan.

"Saya berjalan melewati jembatan hampir setiap hari. Dan suatu hari saya hanya berkata, 'Saya sudah muak!'" kata Ellen Baum, dari Prospect Heights, yang telah mendokumentasikan pengumpulan sampahnya yang mengesankan di media sosial setiap hari sejak 3 Februari 2026.

Pagar Jembatan Brooklyn Kotor dalam Waktu Singkat

Baum membutuhkan waktu sekitar 90 menit untuk membersihkan 'bagian' pagar — atau jarak pendek antara kedua tiang — tetapi para turis yang tak peduli terus berjalan dan mengikat bungkus permen mereka bahkan saat mereka menyaksikannya membersihkan sampah.

"Ini benar-benar menjijikkan," kata Baum (37), menentang argumen yang membela kebiasaan itu sebagai 'simbol seni global'.

"Saya sangat tidak setuju. Interaksi dan percakapan yang terjadi di jembatan itulah seninya. Jembatan itu sendiri adalah seninya. Kita tidak perlu menaruh sampah sungguhan di atasnya," lanjutnya.

"Tidak ada monumen atau landmark lain yang menurut orang boleh diperlakukan seperti ini. Saya tidak tahu mengapa orang merasa perlu melakukannya. Saya juga memiliki banyak cinta dalam hidup saya, dan saya tidak pernah merasa perlu mengikat sampah sungguhan ke pagar untuk menunjukkannya."

Pada Senin, 16 Februari 2026, Baum bersama Pick Up Pigeons, sebuah kelompok sukarelawan pengumpul sampah, mencabut hampir 13 pon (sekitar 5,9 kg) tisu, ikat rambut, struk belanja dan plester dari pagar Jembatan Brooklyn. Hanya dua hari berselang, tempat yang sudah dibersihkan kembali dipenuhi sampah.

Turis Percaya Bawa Keberuntungan

NY Post melaporkan bahwa puluhan turis kembali mengikat barang-barang tak berguna ke pagar. "Ini membawa keberuntungan," kata seorang pelakunya setelah mengikat plastik ke pagar.

Begitu pula dengan Darcey Baldock (16) dari London. Ia menepi di pagar jembatan untuk mengikat ikat rambut 'karena semua orang melakukannya'. "Jembatan ini sangat ikonis dan rasanya seperti meninggalkan sebagian dari diri kita di sini," tambah ibunya, Victoria.

Keluarga itu mengakui bahwa pemandangan itu 'tidak terlalu indah', dan akan terlihat lebih baik jika para turis meninggalkan barang-barang pribadi seperti gelang atau gembok — yang ilegal — daripada tisu, plastik, dan pakaian dalam. Banyak pejalan kaki menunjukkan tanda-tanda jijik di wajah mereka saat mereka berjalan melewati tumpukan sampah itu.

"Ini bukan pemandangan terbaik, tapi ini New York," kata Marilie Padua dari Toronto, yang menuduh semua turis yang merusak jembatan ikonis itu tak punya 'pikiran'.

Sampah Gembok Berserakan di Jembatan Brooklyn

Departemen Transportasi, yang bertanggung jawab atas perawatan Jembatan Brooklyn, mengatakan bahwa mereka membersihkan sepanjang jalur pejalan kaki secara rutin, tetapi tidak dapat mengatakan seberapa sering patroli tersebut dilakukan. Badan tersebut juga tidak menyebutkan berapa banyak tilang yang diberikan dalam beberapa bulan terakhir karena membuang sampah sembarangan.

"Jembatan Brooklyn yang ikonis telah disebut sebagai 'Menara Eiffel-nya Amerika' dan menumpuk sampah di atasnya mengurangi kenikmatan semua orang yang menggunakan jembatan dan membebani para pekerja keras yang merawat landmark bersejarah ini," kata seorang juru bicara dalam sebuah pernyataan.

Masalah sampah ini tampaknya merupakan peningkatan dari masalah pariwisata yang coba diatasi pemerintah kota di Jembatan Brooklyn selama satu dekade. Sebelumnya, wisatawan membebani landmark tersebut dengan 'gembok cinta', meniru aksi di jembatan Pont des Arts di Prancis yang melengkung karena keberatan gembok logam.

Ribuan gembok terus berserakan di Jembatan Brooklyn. Ada beberapa tumpukan gembok yang terpotong yang dibuang di sepanjang dek kayu.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |