Brightspot City 2026 Digelar 2 Periode, Bakal Hadirkan 251 Jenama Lokal Terkurasi

2 days ago 18

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah tekanan ekonomi yang membuat daya beli masyarakat menurun, Brightspot City 2026 kembali hadir sebagai ruang bagi brand lokal untuk mencari peluang sekaligus memperluas pasar. Festival kreatif yang memasuki tahun ke-17 ini akan kembali digelar di Agora Mall Thamrin Nine, Jakarta Pusat, dengan menghadirkan 251 jenama lokal terkurasi dari ribuan pendaftar.

Brightspot City berlangsung dalam dua periode, yakni 26--31 Mei 2026 dan 4--7 Juni 2026, dengan target mendatangkan 125.000 pengunjung selama dua pekan penyelenggaraan. Ajang yang sebelumnya dikenal sebagai Brightspot Market itu bertransformasi dengan konsep ruang kreatif yang lebih besar, menempati area seluas lebih dari 10.000 meter persegi di lantai 7 dan 9 Agora Mall.

Tidak hanya menjadi tempat transaksi, Brightspot City hadir sebagai platform yang mempertemukan brand lokal, komunitas kreatif, pelaku industri, hingga konsumen dalam satu ekosistem yang saling terhubung. Founder Brightspot dan Future 10, Anton Wirjono, mengatakan bahwa sejak awal Brightspot dibangun untuk membuka akses pasar bagi brand kreatif yang kesulitan menembus kanal ritel konvensional.

Ia menyebut, dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan, ruang offline seperti Brightspot City justru menjadi semakin penting karena memberi kesempatan brand untuk membangun interaksi langsung dengan konsumen.

"Human experience tidak akan hilang. Kita berkumpul, bertransaksi, membeli benda yang dibuat oleh creative human beings lainnya. Itu yang tidak bisa digantikan teknologi," ujar Anton dalam konferensi pers Brightspot City 2026 di The Goods Diner, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026.

Ribuan Brand Berebut Masuk, Hanya 251 yang Lolos Kurasi

Menurut Anton, Brightspot City bukan hanya sekadar festival belanja, tetapi ruang yang memungkinkan brand lokal membangun hubungan lebih dekat dengan pasar, memperkuat identitas, sekaligus menghadirkan pengalaman yang tidak bisa diperoleh lewat transaksi digital. Di tengah kompetisi yang semakin ketat dan tren konsumsi yang bergeser, kehadiran ruang kreatif seperti ini dinilai menjadi peluang strategis bagi brand lokal untuk tetap tumbuh.

Tahun ini, Anton mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar mencapai hampir 3.000 brand, namun hanya 251 jenama yang akhirnya lolos kurasi untuk tampil di Brightspot City. Angka tersebut menunjukkan bahwa minat brand lokal untuk masuk ke ekosistem Brightspot terus meningkat, jauh dari penyelenggaraan pertama 17 tahun lalu yang hanya menghadirkan 25 tenant.

Anton mengatakan, tingginya jumlah pendaftar juga memperlihatkan bahwa brand lokal masih melihat event offline sebagai ruang penting untuk mencari peluang di tengah tantangan ekonomi dan persaingan pasar yang semakin padat. "Dulu kami kesulitan mencari brand yang sesuai nilai kurasi. Sekarang hampir 3.000 brand yang apply dan kami hanya bisa showcase 251 brand terbaik," kata Anton.

Ia menambahkan, proses kurasi dilakukan bukan hanya berdasarkan popularitas, tetapi juga kualitas produk, orisinalitas, identitas brand, serta potensi jangka panjang. Hal ini menjadi penting agar Brightspot tetap menjadi ruang yang memberi nilai bagi pengunjung sekaligus membantu brand berkembang secara berkelanjutan.

Mendorong Ekosistem Kreatif dan Optimisme Ekonomi Lokal

Selain menjadi ruang bagi brand untuk berjualan, Brightspot City 2026 juga diposisikan sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Jakarta. VP Transaction Banking Business Development BCA, Septi Herlina, mengatakan bahwa dukungan BCA pada Brightspot City merupakan bentuk komitmen untuk mendukung pertumbuhan brand lokal sekaligus mempermudah transaksi bagi pengunjung.

"Brightspot hadir sebagai ruang untuk mendorong ekonomi kreatif dan kolaborasi lintas komunitas. BCA hadir tidak sekadar sebagai fasilitator transaksi, tapi juga sebagai rekan perjalanan brand-brand lokal," ujar Septi.

Dukungan serupa juga datang dari MRT Jakarta, yang melihat akses transportasi publik sebagai bagian penting dalam membangun konektivitas menuju ruang-ruang kreatif seperti Brightspot City. Bagi brightspot, kolaborasi dengan berbagai pihak menunjukkan bahwa ruang kreatif tidak hanya berdampak bagi brand yang berjualan, tetapi juga dapat menggerakkan sektor lain, mulai dari transportasi, gaya hidup, hingga ekonomi kota.

Event Offline Jadi Peluang Saat Konsumen Cari Pengalaman Baru

Di tengah era digital yang membuat transaksi semakin mudah dilakukan secara online, Brightspot City justru melihat ruang offline sebagai peluang baru yang tetap diminati masyarakat urban. Anton mengatakan, saat teknologi semakin mengambil alih banyak fungsi, pengalaman bertemu langsung, melihat produk secara fisik, dan berinteraksi dengan pembuat brand menjadi nilai yang tidak tergantikan.

Menurutnya, inilah yang membuat experiential event seperti Brightspot City terus berkembang, terutama di tengah perubahan perilaku konsumen yang kini tidak hanya mencari produk, tetapi juga pengalaman. "Future is human. AI bisa mempermudah banyak hal, tapi human creativity dan human experience tidak akan hilang," ujarnya.

Konsep inilah yang kemudian diterjemahkan dalam Brightspot City 2026. Tidak hanya menghadirkan tenant retail dan F&B, festival ini juga dirancang seperti sebuah kota kecil yang berisi distrik kreatif, ruang komunitas, pengalaman seni, hingga hiburan yang memungkinkan pengunjung datang bukan sekadar untuk belanja.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |