Foto Gua Maut Maladewa Terungkap, Lokasi 5 Penyelam Italia Tewas

7 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Foto-foto gua bawah laut di Maladewa yang menjadi lokasi lima penyelam asal Italia tewas dirilis oleh tim yang mengevakuasi jasad mereka. Sekelompok penyelam tersebut berangkat untuk menjelajahi gua laut dalam di Atol Vaavu pada Kamis 14 Mei 2026, namun tidak pernah muncul kembali ke permukaan.

Untuk pertama kalinya, gambar yang dipublikasikan organisasi penyelaman DAN Europe memperlihatkan lorong-lorong sempit bawah laut tempat para penyelam Italia itu kehilangan nyawa, dengan cahaya yang perlahan menghilang menuju kegelapan total.

Dikutip dari Daily Mail pada Sabtu (23/5/2026), awan sedimen karang juga terlihat melayang di dalam air, menunjukkan bagaimana jarak pandang dapat menghilang dengan cepat di dalam terowongan sempit tersebut.

Dalam unggahan media sosialnya, DAN Europe menjelaskan bahwa rangkaian foto itu mendokumentasikan bagian terdalam dan paling sempit dari gua, tempat visibilitas dapat hilang dengan cepat akibat sedimen karang yang terganggu dan navigasi menjadi jauh lebih kompleks.

"Mereka adalah lingkungan tempat tim penyelamat bekerja selama misi pencarian dan evakuasi beberapa hari terakhir," tambah organisasi tersebut.

DAN Europe juga menyebut bahwa "cahaya alami masih masuk melalui pintu masuk sebelum sistem gua berubah menjadi gelap gulita."

Lima korban tewas dalam tragedi tersebut adalah Monica Montefalcone, seorang profesor biologi kelautan berpengalaman; putrinya Giorgia Sommacal; dua peneliti muda Federico Gualtieri dan Muriel Oddenino; serta pemandu mereka yang berbasis di Maladewa, Gianluca Benedetti.

Lokasi Penemuan 5 Penyelam

Jenazah Benedetti ditemukan di dekat mulut gua Thinwana Kandu pada hari para penyelam dilaporkan hilang, sementara empat korban lainnya ditemukan di ruang ketiga dan terakhir gua pada Senin di kedalaman sekitar 165 kaki.

Tragedi yang disebut sebagai kecelakaan penyelaman terburuk di negara kepulauan itu masih diselimuti misteri, sementara penyelidik berusaha mengungkap bagaimana kelompok penyelam berpengalaman tersebut bisa kehilangan nyawa.

Salah satu anggota tim penyelam ahli yang mengevakuasi jasad korban menyebut, kelompok tersebut kemungkinan tidak menggunakan perlengkapan yang tepat untuk eksplorasi gua laut dalam.

Penyelam profesional Sami Paakkarinen mengatakan kepada La Repubblica: "Peralatan yang kami temukan bersama mereka tidak optimal. Mereka tidak menggunakan perlengkapan khusus penyelaman gua."

Ia menambahkan, "banyak penyelaman telah dilakukan hingga kedalaman itu, bahkan dengan perlengkapan rekreasi. Tetapi jika digabungkan dengan kedalaman dan lingkungan gua, waktu yang mereka miliki menjadi sangat terbatas, mereka sebenarnya bisa naik dengan selamat, tetapi waktu mereka habis."

Tim penyelam Finlandia yang menemukan jasad korban juga menduga para penyelam Italia itu salah mengambil lorong saat mencoba keluar dari gua bawah laut.

Menurut laporan harian Italia La Repubblica, para korban ditemukan di koridor buntu di dalam kompleks gua.

"Tidak ada jalan keluar dari sana," kata CEO DAN Europe, Laura Marroni, seperti dikutip La Repubblica.

Ruangan Ruangan di Gua

Tim penyelam Finlandia menemukan bahwa gua di dekat Alimatha dimulai dengan ruang besar yang terang dengan dasar pasir.

Di ujung ruangan itu terdapat koridor dengan sedikit cahaya, "namun jarak pandang menggunakan pencahayaan buatan sangat baik," ujar Marroni.

Koridor tersebut panjangnya hampir 30 meter dan lebarnya sekitar 3 meter, mengarah ke ruang kedua gua berupa ruangan bundar besar tanpa cahaya alami.

Di antara koridor dan ruang kedua terdapat gundukan pasir.

Menurut laporan, sangat mudah melewati gundukan pasir menuju ruang kedua, tetapi saat berbalik untuk keluar, gundukan itu tampak seperti dinding yang menutupi koridor keluar.

Di sisi kiri gundukan pasir terdapat koridor lain.

"Semua jasad penyelam ditemukan di dalam koridor itu, seolah mereka mengira itulah jalan yang benar," kata Marroni.

Jika mereka salah memasuki lorong tersebut, "akan sangat sulit untuk kembali, terutama dengan suplai udara yang terbatas," tambahnya.

Para penyelam diketahui menggunakan tabung standar sehingga pada kedalaman tersebut mereka hanya memiliki sedikit waktu untuk menjelajahi gua kedua.

"Kita berbicara soal 10 menit, mungkin bahkan kurang," kata Marroni.

"Menyadari jalur yang dipilih ternyata salah sementara udara semakin sedikit tentu sangat mengerikan. Dalam kondisi panik, napas menjadi lebih cepat dan suplai udara semakin cepat habis," jelasnya.

Kronologi Penemuan Jenazah Penyelam

Tim Finlandia terdiri dari tiga penyelam: satu bertugas mengevakuasi jenazah, satu memberikan dukungan keselamatan operasional, dan satu lagi mendokumentasikan lokasi penyelaman.

Marroni mengatakan para penyelam yang sangat terlatih itu melakukan pengintaian menyeluruh dan menyusun rencana penyelaman konservatif karena tidak ada yang benar-benar mengenal sistem gua tersebut.

Tim berhasil mengevakuasi jenazah pada Selasa dan Rabu.

Salah satu penyelam Finlandia, Patrik Gronqvist, mengatakan kepada AFP bahwa mereka mulai melihat jejak aktivitas di dasar laut yang akhirnya membawa mereka menemukan empat jasad di lubang gelap gulita dalam gua.

"Jasad mereka tersebar di area sekitar dua hingga tiga meter," katanya.

"Namun operasi ini sangat menyedihkan… saya tidak akan pernah melupakannya."

Para penyelam kembali ke gua pada Kamis untuk membersihkan tali panduan dan peralatan operasional yang digunakan selama proses evakuasi.

"Seperti di lokasi kejahatan, semuanya didokumentasikan, diarsipkan, lalu dibersihkan," kata Marroni.

Pihak berwenang di Maladewa kini menyelidiki bagaimana para penyelam Italia itu bisa menyelam hingga hampir 200 kaki atau 60 meter, padahal batas maksimum untuk wisatawan di negara tersebut hanya 98 kaki atau hampir 30 meter.

Tim Finlandia juga berhasil mengambil peralatan teknis termasuk kamera GoPro yang dikenakan sebagian korban, yang diharapkan dapat membantu mengungkap bagaimana tragedi itu terjadi.

Jenazah dua korban terakhir, Sommacal dan Oddenino, berhasil dievakuasi pada Rabu, sekaligus mengakhiri operasi pencarian.

Fokus Penyelidikan

Penyelidikan kini juga berfokus pada kemungkinan para penyelam kehilangan orientasi akibat cuaca buruk dan minimnya visibilitas pada hari kejadian.

Para penyelam diketahui membawa tabung oksigen 12 liter, sementara Montefalcone mengenakan pakaian selam pendek — keduanya dianggap tidak cocok untuk kedalaman ekstrem tersebut.

Penyidik juga menyelidiki apakah para penyelam membawa senter dan menggunakan “Benang Ariadne”, yakni tali panduan wajib untuk ekspedisi gua laut dalam. Salah satu teori yang muncul adalah kemungkinan para penyelam tersedot arus kuat tak biasa ke dalam gua.

Menurut Presiden Perhimpunan Kedokteran Bawah Laut dan Hiperbarik Italia, Alfonso Bolognini, kelima penyelam mungkin terseret arus kuat akibat “efek Venturi”.

Fenomena ini terjadi ketika air mengalir melalui celah sempit sehingga kecepatannya meningkat dan menciptakan efek hisapan.

Pihak Italia kini mengatur pemulangan jenazah korban untuk dilakukan autopsi guna menentukan penyebab kematian.

Operator tur Italia yang mengelola perjalanan penyelaman tersebut membantah memberikan izin atau mengetahui rencana penyelaman.

Pengacara Albatros Top Boat, Orietta Stella, mengatakan operator “tidak mengetahui” rencana kelompok tersebut untuk menyelam melebihi batas 30 meter yang diizinkan di Maladewa.

Juru bicara Presiden Maladewa, Mohamed Hussain Shareef, mengatakan gua tersebut sangat dalam hingga bahkan penyelam dengan perlengkapan terbaik pun enggan mendekatinya.

Seorang penyelam penyelamat asal Maladewa, Mohamed Mahudhee, juga meninggal akibat penyakit dekompresi saat berusaha mengevakuasi korban.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |