Cara Menyimpan Jamu Tradisional agar Tetap Segar Lebih Lama

10 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Jamu tradisional dikenal sebagai minuman herbal yang terbuat dari bahan alami tanpa banyak campuran pengawet. Karena itulah, cara penyimpanannya perlu diperhatikan agar rasa, aroma, dan manfaatnya tetap terjaga lebih lama. Banyak orang mulai rutin membuat jamu sendiri di rumah, mulai dari kunyit asam, jahe, hingga temulawak, namun masih belum memahami cara menyimpan yang benar sehingga jamu cepat berubah rasa atau basi.

Penyimpanan yang tepat tidak hanya membantu menjaga kesegaran jamu, tetapi juga membuat kandungan rempah di dalamnya tetap optimal saat dikonsumsi. Mulai dari pemilihan wadah hingga suhu penyimpanan, semua berpengaruh terhadap daya tahan minuman herbal tradisional ini. Sunarsih atau yang akrab disapa Mbak Sih (57) adalah seorang penjual  jamu tradisional di Kota Yogyakarta yang telah berjualan sejak tahun 2012. Melalui wawancara bersama Liputan6 pada Kamis, 21 Mei 2026, Mbak Sih membagikan beberapa cara efektif menyimpan jamu tradisional agar tetap segar lebih lama. Simak selengkapnya.

1. Simpan Jamu di Dalam Kulkas Setelah Dingin

Salah satu cara paling efektif untuk menjaga jamu tradisional tetap segar lebih lama adalah menyimpannya di dalam kulkas. Setelah jamu selesai direbus, biarkan suhunya turun terlebih dahulu hingga tidak terlalu panas sebelum dimasukkan ke lemari pendingin. 

"Kalau misalnya jamu dibeli dalam keadaan hangat, sebaiknya ditunggu sampai dingin dulu semua baru disimpan di kulkas kalau memang tidak langsung diminum habis," Mbak Sih menjelaskan.

Menyimpan jamu dalam kondisi masih panas dapat memicu uap air berlebih di dalam wadah dan mempercepat perubahan rasa maupun aroma. Suhu dingin membantu memperlambat pertumbuhan bakteri dan menjaga kualitas rempah alami di dalam jamu.

Selain menjaga kesegaran, penyimpanan di kulkas juga membantu mempertahankan rasa asli jamu agar tidak cepat asam. Jamu yang disimpan pada suhu stabil biasanya tetap nyaman diminum hingga dua atau tiga hari, tergantung bahan yang digunakan. Namun, penting untuk tetap memeriksa aroma dan warna jamu sebelum dikonsumsi kembali agar kualitasnya tetap terjaga.

2. Gunakan Wadah Bersih dan Tertutup Rapat

Kebersihan wadah menjadi faktor penting dalam penyimpanan jamu tradisional. Sebelum digunakan, pastikan botol atau wadah sudah dicuci bersih dan benar-benar kering agar tidak ada sisa air maupun kotoran yang dapat memicu pertumbuhan bakteri. Wadah yang kotor dapat membuat jamu lebih cepat basi meskipun sudah disimpan di tempat dingin.

"Tantangan paling besar itu jamu cepat basi kalau penyimpanannya kurang tepat. Karena jamu tradisional umumnya tidak pakai pengawet, jadi kebersihan dan suhu penyimpanan sangat berpengaruh. Kadang orang sudah bikin jamu enak, tapi wadahnya kurang bersih atau dibiarkan terlalu lama di suhu ruang," ujar Mbak Sih.

Selain bersih, gunakan wadah yang memiliki penutup rapat untuk mengurangi kontak langsung dengan udara luar. Paparan udara berlebih dapat membuat aroma jamu berubah dan mempercepat proses fermentasi alami. Wadah kaca sering dianggap lebih baik karena tidak mudah menyerap aroma dan membantu menjaga rasa jamu tetap alami dibanding beberapa jenis wadah plastik biasa.

3. Hindari Menyimpan Jamu Terlalu Lama di Suhu Ruangan

Banyak orang membiarkan jamu berada di meja dapur terlalu lama setelah dibuat, padahal hal ini dapat mempercepat kerusakan minuman herbal tersebut. Jamu tradisional umumnya tidak menggunakan bahan pengawet sehingga lebih sensitif terhadap suhu ruangan, terutama di cuaca panas. Semakin lama dibiarkan terbuka, semakin besar risiko jamu mengalami perubahan rasa dan aroma. 

Jika jamu tidak langsung diminum habis, sebaiknya segera pindahkan ke wadah tertutup lalu simpan di tempat dingin. Membiarkan jamu terlalu lama di suhu ruang juga dapat memicu munculnya rasa asam berlebih akibat proses fermentasi alami. Karena itu, penting untuk membatasi waktu penyimpanan di luar kulkas agar kualitas dan kesegarannya tetap terjaga.

"Pokoknya jamu harus langsung disimpan di kulkas kalau memang tidak langsung diminum habis. Jangan menunggu terlalu lama karena jamu lebih cepat berubah rasa kalau dibiarkan terbuka," ucap Mbak Sih.

4. Panaskan Secukupnya Saat Akan Diminum

Sebagian orang lebih menyukai jamu dalam kondisi hangat, terutama jamu jahe atau temulawak. Namun, memanaskan ulang jamu terlalu sering dapat membuat rasa dan aroma rempah berubah. Kandungan alami dalam bahan herbal juga bisa berkurang jika terus dipanaskan berulang kali dalam suhu tinggi.

Untuk menjaga kualitasnya, panaskan jamu secukupnya sesuai porsi yang ingin diminum saja. "Biasanya cukup dipanaskan sekali secukupnya saja untuk diminum hari itu. Kalau terlalu sering dipanaskan, rasa dan aroma rempah bisa berubah, bahkan kualitas jamunya jadi menurun," Mbak Sih berujar.

Ya, hindari memanaskan seluruh isi wadah berkali-kali karena hal tersebut dapat mempercepat kerusakan jamu yang tersisa. Dengan cara ini, rasa jamu tetap lebih segar dan aroma rempahnya masih terasa kuat saat dikonsumsi.

5. Buat Jamu dalam Jumlah Secukupnya

Membuat jamu dalam jumlah terlalu banyak sering menjadi penyebab minuman herbal ini terbuang sia-sia karena tidak habis diminum. Meskipun penyimpanan sudah dilakukan dengan benar, jamu tradisional tetap memiliki daya tahan terbatas karena terbuat dari bahan alami tanpa pengawet. Oleh sebab itu, lebih baik membuat jamu secukupnya sesuai kebutuhan harian atau konsumsi keluarga.

Selain lebih praktis, membuat jamu dalam jumlah kecil juga membantu menjaga kualitas rasa dan kesegarannya. Jamu yang baru dibuat biasanya memiliki aroma rempah lebih kuat dan rasa yang lebih nikmat dibanding jamu yang sudah disimpan terlalu lama. Dengan membuat secukupnya, manfaat alami dari bahan-bahan herbal juga dapat dirasakan secara lebih optimal.

Pertanyaan Umum Seputar Topik Cara Menyimpan Jamu Tradisional agar Tetap Segar Lebih Lama

1. Kapan waktu terbaik minum jamu?

Pagi hari sering dianggap waktu terbaik karena tubuh lebih siap menyerap kandungan herbal dari jamu.

2. Apakah jamu aman diminum setiap hari?

Umumnya aman jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan menggunakan bahan alami yang bersih.

3. Apakah jamu bisa membantu metabolisme tubuh?

Beberapa jenis jamu seperti kunyit, jahe, dan temulawak dipercaya dapat membantu melancarkan metabolisme.

4. Kenapa jamu tradisional cepat basi?

Karena sebagian besar jamu dibuat tanpa bahan pengawet sehingga lebih mudah mengalami fermentasi alami.

5. Apakah anak muda juga cocok minum jamu?

Tentu saja. Kini banyak anak muda mulai rutin minum jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat alami.  

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |