Virus Nipah Mengendap di Alam, Ancaman Diam-diam bagi Manusia

1 day ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Virus Nipah patut diwaspadai lantaran memiliki tingkat kematian tinggi dan berpotensi menimbulkan wabah.

“Virus Nipah (Nipah virus/NiV) merupakan penyakit zoonotik yang perlu dipahami secara tepat berdasarkan kajian ilmiah, mengingat karakteristiknya yang serius dan berpotensi menimbulkan wabah apabila tidak diantisipasi dengan baik,” kata Peneliti Ahli Utama Virologi  sekaligus Kepala Organisasi Riset Kesehatan - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti, Jumat (30/1/2025) seperti mengutip laman BRIN.

Meski hingga kini belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa virus ini telah bersirkulasi di alam.

Indi mengungkapkan, virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada wabah di Malaysia pada 1998 dan sejak itu menimbulkan kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.

“Virus Nipah memiliki dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, serta aspek sosial dan ekonomi,” jelasnya,

Ia menjelaskan, virus Nipah termasuk genus Henipavirus dengan reservoir (pembawa) alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, tapi berpotensi menularkannya ke hewan lain maupun manusia.

Penularan virus Nipah ke manusia, lanjut Indi, dapat terjadi melalui beberapa jalur, antara lain kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, serta penularan antar manusia. Di sejumlah negara, wabah NiV juga dikaitkan dengan konsumsi makanan yang terkontaminasi urine atau saliva (liur) kelelawar.

Jejak Virus Nipah di Indonesia

Dalam konteks Indonesia, Indi menyebutkan bahwa sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah keberadaan virus Nipah pada satwa liar.

Studi serologis di Kalimantan Barat menemukan antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meskipun tidak ditemukan pada babi.

“Deteksi molekuler juga telah dilakukan menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urine kelelawar di Sumatera Utara, yang mengonfirmasi keberadaan genom Nipah virus,” jelasnya.

Penelitian lanjutan bahkan menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa, dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |