Tren Super Shoppers, Konsumen Tajir Rela Habiskan Rp 3 Miliar per Tahun untuk Fesyen

13 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa minggu lalu, Gab Waller menerima permintaan tidak biasa dari salah satu konsumen setianya. Seorang perempuan berusia 40-an asal California, yang dikenal sebagai bagian dari kalangan super shoppers, mengirim deretan tangkapan layar berisi koleksi terbaru busana siap pakai dari Chanel.

Pesan tersebut disertai satu instruksi singkat: ia menginginkan semuanya. Bagi Waller, permintaan seperti ini bukan hal baru. Ia dikenal sebagai personal shopper, sekaligus fashion sourcer yang mampu menemukan item langka, bahkan yang sudah habis di pasaran.

Dari tas edisi terbatas hingga koleksi runway terbaru, semuanya bisa dilacak lewat jaringan dan koneksi yang ia miliki. Fenomena ini mencerminkan gaya hidup para Very Very Important Clients alias VVICs, kelompok pelanggan elite yang dengan mudah menghabiskan ratusan ribu dolar untuk fesyen dalam waktu singkat.

Di baliknya, ada peran penting Waller dan profesi serupa yang memastikan setiap keinginan klien terpenuhi dengan cepat dan eksklusif. Dalam kasus klien ini, pola belanjanya tergolong fleksibel. Ia kerap berbelanja langsung ke butik desainer favorit, namun untuk item yang sulit ditemukan atau sudah habis di pasaran, ia mengandalkan bantuan Waller.

"Ini soal waktu dan kemudahan," ujarnya pada New York Post, dilansir Selasa, 14 April 2026. Dalam pencarian tersebut, Waller berhasil menemukan salah satu gaun di Prancis dengan harga sekitar 20 ribu dolar AS (sekitar Rp 343 juta).

Nilai fantastis itu mencerminkan eksklusivitas koleksi ready-to-wear dari rumah mode besar, terutama untuk rilisan terbaru atau edisi terbatas. Bagi para klien ini, harga bukan lagi pertimbangan utama—melainkan akses, kecepatan, dan kemampuan mendapatkan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Chanel Dominasi Selera Super Shoppers

Dengan daftar belanja yang mencakup sedikitnya 10 gaun, total pengeluaran klien tersebut diperkirakan melampaui 200 ribu dolar AS (sekitar Rp 3,4 miliar) hanya untuk koleksi musim terbaru dari Chanel. Angka ini menegaskan posisi Chanel sebagai salah satu rumah mode paling eksklusif saat ini.

Antusiasme terhadap Chanel juga meningkat sejak kehadiran direktur kreatif barunya, Matthieu Blazy. Menurut Waller, hampir separuh permintaan kliennya kini berpusat pada Chanel, meski Celine mulai menunjukkan daya tarik serupa di kalangan elite.

Menariknya, profil klien pun berubah. Jika dulu identik dengan sosialita senior, kini didominasi perempuan 40-an dengan gaya hidup global—mulai dari jet pribadi hingga rutinitas menghadiri pekan mode. Meski mendapat akses eksklusif, termasuk kursi barisan depan, kedekatan dengan desainer tetap terbatas karena padatnya aktivitas industri fesyen.

Loyalitas Bergeser

Penata gaya, sekaligus personal shopper, Lisa Frohlich, melihat perubahan menarik di kalangan klien elite. Mereka kini tidak lagi setia pada satu rumah mode, melainkan mengikuti desainer favorit ke mana pun berkarya.

Pergeseran ini membuat peran desainer semakin krusial, karena kepergian satu nama besar bisa langsung berdampak pada hilangnya pelanggan bernilai tinggi. Contohnya terjadi saat Pieter Mulier meninggalkan Alaïa. Salah satu klien Frohlich memilih ikut beralih ke Versace, mengikuti arah kreatif sang desainer.

Klien tersebut sebelumnya rutin membeli "Hip bag" Alaïa, bahkan hingga puluhan item untuk hadiah. Frohlich kerap diminta mengantarkan langsung ke rumah dalam kondisi sudah dibungkus rapi. Dalam satu musim panas saja, pembelian bisa mencapai 10 tas—menunjukkan skala belanja besar di kalangan pelanggan kelas atas.

Tren Barang Eksklusif Kian Diburu

Klien Frohlich juga dikenal menggemari The Row, yang kini "mendominasi" kalangan VVIC karena koleksinya cepat habis dan memiliki daftar tunggu panjang. Hal ini tetap terjadi meski harga trench coat bisa mencapai 12 ribu dolar AS (sekitar Rp 206 juta).

Selain itu, Dolce & Gabbana ikut mencuri perhatian lewat motif bunga yang sedang tren, mulai dari poppy hingga mawar. Frohlich menyebut para klien selalu mengejar koleksi terbaru, bukan musim sebelumnya. Ia bahkan mampu menjual belasan gaun katun dalam satu akhir pekan berkat tren ini.

Di kalangan elite, pengaruh personal shopper juga semakin besar, termasuk di Beverly Hills. Kini, fokus belanja bergeser ke item yang lebih eksklusif dan unik—mulai dari gaun edisi terbatas hingga desain khas seperti milik Paco Rabanne—yang memastikan penampilan tetap berbeda di setiap acara.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |