Tips Merawat Blazer ala Desainer Hartono Gan: Wajib Di-Dry Clean

6 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Desainer Hartono Gan baru saja merilis lini busana ready-to-wear-nya yang berlabel Hartono Gan Homme. Ada tiga item dasar yang disiapkannya sebagai penunjang gaya sehari-hari, yakni kemeja, celana panjang, dan luaran, termasuk jaket dan blazer. Untuk item-item tersebut, ia memastikan bahwa seluruhnya mendapatkan sentuhan buatan tangan.

Tanda buatan tangan itu bisa terlihat dari jahitan som di tepian bahan blazer maupun celana panjang. Ada pula jahitan zigzag di kerah blazer yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh mesin. Tanda lainnya adalah bekas kapur di kerah untuk menandai pola hingga sedikit ketidaksempurnaan lainnya di bagian lain.

"Yang kita negosiasikan itu dari kualitas bahan, tidak seprima yang biasa saya kerjain, yang mahal itu. Namun, saya tetap mempertahankan kualitas pekerjaan," ujarnya saat ditemui di sela perilisan di Jakarta, Sabtu, 25 April 2026.

Sentuhan tangan itu membuat blazer yang dirilisnya memerlukan cara perawatan khusus. Ia mewajibkan untuk men-dry clean jas hanya sebulan sekali.

"Sebulan sekali doang, meskipun dipakai tiap hari, kenapa? Ingat, jas itu adalah kategori outerwear. Yang namanya outerwear, dia tidak berinteraksi dengan kulit. Dia dipakai di atas garmen lain lagi," urai Hartono.

Alasan lain membatasi pencucian adalah agar bentuk jas tidak mudah berubah. Pasalnya, jas memiliki struktur agar tampilannya tetap rapi, di dalamnya ada kanvas. "Kalau dicuci terus menerus, ini (kanvas) bisa kerut padahal jas itu mengutamakan perfection," ujarnya.

Bagaimana Bila Jas Bernoda?

Meski begitu, aturan tidak berlaku bila jas itu kotor, terutama jika nodanya menempel kuat. Ia menyarankan untuk langsung membawanya untuk di-dry clean untuk mencegah diskolorasi atau perubahan warna. "Tiba-tiba di sini segepok lebih putih misalnya, kan tidak enak dilihat," katanya.

Jangan sekali-kali mencuci jas dengan mesin cuci maupun dicuci tangan untuk menjaga struktur jas tetap sempurna. Selama belum dicuci kering, jas hanya perlu digantung dan diangin-anginkan di udara terbuka setelah dipakai, sama seperti menggunakan jeans.

Untuk itu, perlu memilih bahan jas yang ringan agar tidak mudah gerah ketika dipakai. Lewat lini busana siap pakainya, ia memilih material katun dengan sedikit kombinasi poliester yang menyerap keringat, tetapi tidak mudah kusut.

Penting juga untuk memilih potongan blazer yang bagus agar bisa dipakai berulang kali dalam jangka waktu yang lama. Potongan itu, kata dia, tidak berkaitan dengan ukuran busana. Meski ia menyediakan pilihan ukuran S, M, dan L, semuanya bisa memilih ukuran yang disukai dan di-styling senyaman mungkin.

"Kalau kamu kurus mau pakai L, silakan. Kalau bisa masuk di M karena kamu suka kelihatan lekuk tubuhnya, silakan," ujarnya.

Praktik Keberlanjutan di Fesyen

Lebih dari itu, Hartono menekankan pentingnya berinvestasi di busana kapsul alias item dasar. Harga mahal bisa dikatakan sepadan bila bisa dipakai berulang kali dalam jangka waktu yang panjang. Itu pula yang diterapkan pada busana yang diproduksinya.

"Gue pastikan, ini semua, last longer than five years," ia menjamin.

Itu, kata dia, sebagai bagian dari upayanya menerapkan fesyen yang berkelanjutan. Menurut dia, konsep itu tidak bisa semata hanya mempertimbangkan dari mana asal brand, tetapi juga seberapa kuat daya tahan busana itu bisa dipakai.

"Makanya kita berusaha buy less. You spend more, buy less, tapi buy better," cetusnya. "Jadi, kalau misalnya barangnya berharga Rp3 jutaan. Kalau kamu udah pakai 100 kali kan jadi murah, jadi Rp3 ribu sekali pakai. Dari pada contoh, kita beli Rp400 ribu, tapi cepat sobek. Akhirnya, kamu beli, ganti, beli, ganti. Itu lah yang tidak sustainable."

Usaha agar bisa lebih berkelanjutan adalah dengan mengusung konsep gender neutral alias netral gender. Maksudnya, baik lelaki maupun perempuan tetap bisa memakai item fesyen yang sama tanpa terlihat aneh atau melewat norma standar.

Bagian dari Pengembangan JF3

"Item-nya gender neutral itu hanya good jacket (blazer), good shirt, dan good trouser. Itu yang paling bisa gender neutral. Lebih dari itu enggak ada," kata Hartono yang merintis karier sejak 2016.

Koleksi lini busana siap pakai edisi perdana itu terdiri dari 16 item yang meliputi ketiganya. Peluncurannya didukung penuh oleh JF3 yang membuka ruangnya di LAKON Store untuk produk-produk tersebut. 

Peluncuran ini juga menunjukkan bagaimana JF3 menerjemahkan tema JF3 2026 RECRAFTED: Shaping the Future ke dalam langkah yang nyata. Bagi JF3, masa depan fashion tidak dibentuk hanya melalui ide dan presentasi di runway, tetapi melalui proses yang memperkuat fondasi brand: dari kapasitas produksi, sistem operasional, hingga kesiapan memasuki pasar retail profesional.

"Ketika kreativitas dipertemukan dengan kesiapan bisnis yang terstruktur, hasilnya dapat melampaui sebuah koleksi. Yang terbentuk adalah fondasi brand yang lebih kuat, lebih relevan, dan lebih siap untuk tumbuh," ujar Thresia Mareta, Advisor JF3 sekaligus Founder LAKON Indonesia.

Pada 2026, JF3 melanjutkan langkah tersebut melalui Future Fashion Designer (FFD), format pengembangan terbaru yang dirancang untuk mendorong desainer Indonesia mengasah potensi terbaiknya dalam konteks industri yang terus bergerak dan semakin kompetitif.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |