Terjebak Salju, 500 Penumpang Dipaksa Bermalam di Pesawat yang Gagal Terbang

2 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Salju tebal telah mengacaukan jadwal penerbangan sejumlah maskapai. Bahkan, sekitar 500 penumpang dipaksa bermalam di dalam pesawat yang gagal terbang karena tidak ada bus yang tersedia untuk mengangkut mereka kembali ke terminal bandara.

Menurut surat kabar Jerman Bild, dikutip dari People, Senin, 23 Februari 2026, 123 penumpang dijadwalkan terbang dari Munich ke Kopenhagen, Denmark, pada Kamis, 19 Februari 2026, dengan maskapai Lufthansa. Penerbangan itu dijadwalkan berangkat pada pukul 21.30 waktu setempat, tetapi keberangkatan diumumkan ditunda karena salju lebat.

Menurut media tersebut, pengumuman berulang kali dilakukan selama hampir 2,5 jam, sebelum penerbangan benar-benar dibatalkan tepat sebelum tengah malam. Pesawat tersebut diparkir di tempat parkir terpencil. Mereka akhirnya terjebak di pesawat itu selama delapan jam.

Penumpang di penerbangan Lufthansa lainnya juga terpengaruh, begitu pula dengan dua penerbangan Air Dolomiti ke Austria dan Italia. Ratusan penumpang itu juga harus menghabiskan malam di landasan pacu di dalam pesawat mereka. 

Menurut surat kabar Denmark Ekstra Bladet, penumpang diberitahu setiap 30 menit bahwa bus sedang diupayakan untuk diatur bagi mereka. Seorang penumpang mengatakan kepada media tersebut bahwa sekitar pukul 2 pagi, mereka tiba-tiba diberitahu oleh staf maskapai bahwa mereka tidak dapat lagi menghubungi siapa pun di dalam bandara dan bandara telah ditutup. Hal ini disebabkan oleh larangan penerbangan malam di Munich dari pukul 12 malam hingga 5 pagi, menurut Bild.

Frustasi Penumpang Pesawat

Søren Thieme, ayah dari sebuah keluarga dengan anak-anak kecil di dalam pesawat, mengklaim bahwa penumpang diberitahu bahwa semua pengemudi bus telah pulang dan mereka tidak diizinkan untuk meninggalkan pesawat.

"Pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Kita bisa pergi ke bandara, kita bertanya. Tapi kita tidak diizinkan. Itu dilarang, kata mereka. Kita terjebak di sini, bersama dengan staf juga," kata Thieme kepada media tersebut, menurut terjemahan.

Thieme menceritakan bahwa keluarganya sedang dalam perjalanan pulang dari liburan di Thailand, dan penerbangan dari Munich ke Kopenhagen adalah bagian terakhir dari perjalanan mereka. "Kami benar-benar frustrasi," kata Thieme.

"Kami sudah berada di perjalanan selama lebih dari 24 jam. Seharusnya kami sudah sampai di rumah di Denmark dan tidur sekarang. Tetapi awak penerbangan juga benar-benar bingung. Kami juga tidak tahu kapan mereka memperkirakan kami bisa turun."

Penumpang Tak Dapat Selimut

Thieme mengklaim bahwa penumpang juga tidak mendapatkan makanan atau minuman yang layak, hanya beberapa botol air, dan tidak ada selimut, karena penerbangan tersebut seharusnya hanya berlangsung sekitar 90 menit. Penumpang akhirnya dapat turun dari pesawat pada dini hari setelah bus dan tangga tiba di pesawat.

Keluarga tersebut dipesankan ulang pada penerbangan baru, tetapi penerbangan itu juga tertunda selama satu jam, menurut media tersebut.

"Kami sekarang sudah di rumah di Denmark, dan senang rasanya berada di rumah. Karena pada suatu saat, saya sempat berpikir apakah kami akan pulang akhir pekan ini," tambah Thieme.

Penumpang lain mengatakan kepada Bild, "Penerbangan dapat dibatalkan kapan saja, tetapi membiarkan orang-orang di pesawat tanpa batas waktu tidak dapat diterima."

Permintaan Maaf Maskapai dan Bandara Munich

Lufthansa mengatakan kepada Ekstra Bladet dalam sebuah pernyataan, "Karena kondisi cuaca pada 19 Februari dengan hujan salju lebat di Bandara Munich, terjadi penutupan landasan pacu sementara dan penundaan besar dalam prosedur penghilangan es. Akibatnya, terjadi penundaan dan pembatalan kemarin. Para penumpang telah dipesankan ulang ke penerbangan berikutnya yang tersedia."

Pernyataan itu melanjutkan, "Para penumpang penerbangan LH2446 ke Kopenhagen dengan 123 penumpang (jadwal keberangkatan pukul 21.30) juga terpengaruh oleh gangguan cuaca. Pesawat harus tetap berada di apron mengikuti instruksi dari Bandara Munich."

"Karena kurangnya bus apron, para penumpang hanya dapat diangkut ke terminal pada dini hari. Lufthansa sangat menyesalkan ketidaknyamanan yang ditimbulkan kepada para penumpang."

Permintaan maaf juga disampaikan pihak Bandara Munich, menurut Bild. "Kami sangat menyesalkan ketidaknyamanan yang ditimbulkan," kata juru bicara bandara. 

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |