Tahun Baru Imlek, Pahami Sejarah, Makna, dan Tradisi Kue Keranjang dari Masa ke Masa

6 days ago 22

Liputan6.com, Jakarta - Seperti perayaan lain, Tahun Baru Imlek tidak bisa lepas dari sejumlah makanan. Salah satunya adalah kue keranjang yang telah jadi simbol ikonis selama berabad-abad dan merupakan bagian penting dalam perayaan Imlek.

Kue kerangjang atau nian gao memiliki arti harfiah "kue tahun baru." Dalam bahasa Mandarin, "nian" berarti tahun, sedangkan "gao" berarti tinggi.

Secara filosofis, nama tersebut dimaknai sebagai harapan akan peningkatan rezeki, karier, kesehatan, serta kualitas hidup yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Tidak heran, kue ini hampir selalu hadir di meja persembahan maupun santapan keluarga saat perayaan Imlek.

Kue keranjang dikenal melalui cita rasa manis, tekstur kenyal, dan lengket. Rasa manisnya melambangkan doa dan harapan agar kehidupan di tahun baru dipenuhi kebahagiaan dan keberuntungan.

Sementara itu, teksturnya yang lengket dipercaya sebagai simbol eratnya hubungan kekeluargaan. Bentuknya yang bulat juga melambangkan keutuhan dan kebersamaan, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat luas, melansir Antara, Selasa, 17 Februari 2026.

Kue ini menjadi simbol harapan akan keharmonisan dan keberlanjutan hubungan antarsesama. Dalam legenda Tiongkok kuno, terdapat kisah makhluk buas bernama Nian yang konon muncul setiap pergantian tahun untuk mengganggu penduduk desa.

Untuk melindungi diri, masyarakat mempersembahkan makanan, termasuk nian gao, sebagai bentuk penghormatan, sekaligus harapan agar terhindar dari mara bahaya. Seiring waktu, kue keranjang berkembang menjadi simbol keberuntungan dan perlindungan.

Akulturasi Kue Keranjang di Indonesia

Tradisi membuat dan menyajikan kue keranjang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari budaya. Proses pembuatan yang dilakukan bersama keluarga juga menjadi medium mempererat kebersamaan menjelang pergantian tahun.

Di Indonesia, kue keranjang telah hadir sejak abad ke-19, seiring berkembangnya komunitas Tionghoa di berbagai daerah. Kehadirannya menjadi salah satu contoh akulturasi budaya yang harmonis.

Tidak hanya dinikmati saat Imlek, kue ini juga dikenal luas sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia. Nilai sejarahnya bukan sekadar tentang makanan, tapi juga tentang perjalanan budaya, identitas, dan kebersamaan yang terus terjaga hingga kini.

Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa, kue ini dikaitkan dengan Dewa Dapur. Diyakini bahwa setiap akhir tahun, Dewa Dapur akan naik ke langit untuk melaporkan perilaku penghuni rumah pada Kaisar Giok.

Filosofi Kue Keranjang

Untuk memastikan laporan yang disampaikan bernada baik, keluarga akan mempersembahkan kue keranjang yang manis dan lengket. Tekstur lengketnya dipercaya dapat "merekatkan" mulut sang dewa agar tidak menyampaikan hal-hal buruk.

Sementara rasa manisnya diharapkan membuat laporan yang diberikan dipenuhi kata-kata baik. Selain legenda tersebut, terdapat pula kisah sejarah yang mengaitkan nian gao dengan periode peperangan di Tiongkok sekitar 2.500 tahun lalu.

Salah satu cerita menyebutkan keterkaitan kue ini dengan Jenderal Wu Zixu dari Kerajaan Wu. Kisah-kisah ini memperkaya makna kue keranjang sebagai lambang harapan, perlindungan, dan keberlanjutan kehidupan.

Pada akhirnya, filosofi kue keranjang tidak hanya berbicara tentang kepercayaan, tapi juga optimisme menyambut tahun baru dengan semangat yang lebih baik.

Proses Pembuatan Kue Keranjang

Secara tradisional, proses pembuatan kue keranjang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Bahan utamanya terdiri dari tepung beras ketan, gula, dan air yang dicampur hingga rata, lalu dikukus selama berjam-jam.

Proses pengukusan yang lama membuat gula mengalami karamelisasi alami, menghasilkan warna cokelat tua yang khas serta aroma harum yang menggoda. Di Indonesia, sebutan “kue keranjang” merujuk pada cetakan berbentuk keranjang kecil yang digunakan dalam proses pembuatannya.

Setelah matang, kue biasanya didiamkan hingga teksturnya semakin padat dan kenyal. Penyajiannya pun punya cara tersendiri. Karena teksturnya yang lengket, kue ini kerap dipotong menggunakan benang atau pisau yang telah diolesi minyak agar tidak menempel.

Kue keranjang dapat disajikan utuh sebagai sesaji maupun hantaran. Selain disantap langsung, kue ini juga kerap diolah kembali menjadi camilan, seperti digoreng dengan balutan telur atau tepung.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |