Saat Maudy Ayunda dan Jessica Iskandar Blak-blakan tentang Momen Sensitif

7 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah ritme hidup yang makin cepat, banyak perempuan terbiasa terlihat "baik-baik saja," padahal di dalam, tidak selalu demikian. Perasaan lelah, cemas, atau rapuh sering datang diam-diam, lalu disimpan sendiri. Dalam konteks inilah, Maudy Ayunda dan Jessica Iskandar memilih berbicara lebih jujur.

Bukan tentang pencapaian, melainkan momen sensitif yang mereka alami, yang sering kali justru paling membentuk diri seseorang. Lewat inisiatif "SOS: Strength of Sensitivity" dari AVEENO, percakapan soal sensitivitas bermaksud dibuka lebih hangat dan dekat. Bukan lagi sesuatu yang harus ditutupi, melainkan pengalaman yang layak dipahami.

Jessica mengawali dengan cerita yang terasa sangat personal. Ia tidak menghindari masa-masa sulit dalam hidupnya—justru sebaliknya, ia mengakui bahwa pernah berada di titik terendah. Saat itu, ia harus menghadapi kesalahan di masa lalu, lengkap dengan konsekuensi dan penilaian dari banyak orang.

Tidak hanya dari lingkungan terdekat, tapi juga dari publik luas yang mengenalnya lewat layar. "Kesalahan tidak pernah mendefinisikan siapa kita selamanya," katanya di ekshibisi Strength of Sensitivity di Jakarta, Jumat, 17 April 2026.

Tekanan itu nyata, dan tidak mudah. Tapi dari situ, Jessica mulai memahami satu hal penting: menyembunyikan perasaan tidak membuatnya lebih kuat. Justru ketika ia berani mengakui apa yang dirasakan, di situlah proses pemulihan dimulai.

Ada satu hal sederhana yang juga ia pelajari—meluangkan waktu untuk diri sendiri. Bukan sekadar istirahat, tapi benar-benar hadir untuk memahami apa yang sedang dirasakan. Bagi Jessica, merawat diri tidak hanya soal fisik, tapi juga tentang memberi ruang bagi emosi untuk diproses.

Lebih Reflektif

Di sisi lain, Maudy Ayunda melihat sensitivitas dengan cara yang lebih reflektif. Ia tidak menolak bahwa momen sensitif bisa terasa tidak nyaman. Tapi menurutnya, itu adalah bagian alami dari hidup. Yang membuat perbedaan adalah bagaimana kita memaknainya.

Baginya, memberi ruang untuk memahami perasaan sendiri adalah langkah penting. Ketika seseorang berani berhenti sejenak dan benar-benar mendengarkan dirinya, sensitivitas justru bisa berubah menjadi kekuatan. Dari situ muncul empati—bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diri sendiri.

"Yang kita butuhkan adalah ruang untuk merasa," ujar dia di kesempatan yang sama. "Tidak apa-apa, dirasakan saja semua emosi-emosi yang mungkin kita label sebagai 'buruk.' Dirasakan, kemudian perlahan-lahan dimengerti, dan tidak harus buru-buru juga memaksa diri untuk merasa baik-baik saja. Sit with that feeling juga penting dalam proses diri kita."

Peran Penting Sensitivitas

Dari perspektif psikologis, sensitivitas memiliki peran penting dalam bagaimana individu memproses pengalaman dan menjaga kesejahteraan secara menyeluruh. "Sensitivitas bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kesadaran dan peluang untuk bertumbuh," kata psikolog, Indah Sundari Jayanti.

"Ketika perempuan mampu mengakui perasaannya,mencari dukungan, dan memiliki ruang aman untuk berekspresi, sensitivitas dapat menjadi kekuatan yang membantu mereka memahami diri, menetapkan batasan yang sehat, serta menghadapi hidup dengan ketahanan dan kecerdasan emosional yang lebih kuat."

Menegaskan kembali komitmen dalam perawatan untuk kulit sensitif, Marketing Director Kenvue Indonesia, Fika Yolanda, menyampaikan, "AVEENO telah lama dikenal atas keahliannya dalam perawatan kulit sensitif, dengan formulasi yang didukung sains dan telah dipercaya masyarakat luas."

"Melalui (kampanye) SOS: Strength of Sensitivity, kami memperluas komitmen tersebut dengan mendorong percakapan yang lebih luas mengenai sensitivitas, sekaligus terus menghadirkan perawatan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari perempuan."

Podcast sampai Ekshibisi

Sebagai bagian dari inisiatif ini, AVEENO menghadirkan berbagai platform keterlibatan, termasuk seri podcast yang ditayangkan melalui akun resmi TikTok mereka setiap Selasa malam, yang membahas berbagai isu sensitif yang kerap dihadapi perempuan Indonesia.

Melalui percakapan ini, masyarakat juga diajak turut berbagi pengalaman mereka melalui tautan khusus yang telah disediakan, sehingga tercipta ruang untuk saling mendukung dan memahami. Tidak ketinggalan, ada pula Strength of Sensitivity: The Exhibition.

Ragam penawarannya termasuk diskon hingga 40 persen, flash sale Buy 1 Get 1 untuk produk terpilih, dan beragam workshop, yakni macrame workshop, reed difusser workshop, serta nail art and hand massage. Ekshibisi ini berlangsung di Grand Indonesia - East Mall Main Atrium, Jakarta, pada 16─19 April 2026.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |