Riset Terbaru: Daun Kelor Dapat Hilangkan Mikroplastik dari Air, tapi ...

1 day ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Polusi mikroplastik sudah ke mana-mana, termasuk ke badan air. Tak heran bila banyak yang tak menyadari bila dirinya sudah tercemar mikroplastik. Situasi ini memerlukan solusi dan riset terbaru menemukan bahwa Moringa oleifera alias daun kelor berpotensi untuk menghilangkan mikroplastik dari air.

Mengutip NY Post, Jumat (24/4/2026), para peneliti di Institut Sains dan Teknologi Universitas Negeri Sao Paulo, Brasil, menemukan bahwa biji moringa yang berasal dari India dan daerah tropis lainnya, dapat menghilangkan racun dari air dan bekerja sebaik perawatan kimia.

"Ekstrak garam dari biji tersebut bekerja serupa dengan aluminium sulfat, yang digunakan dalam perawatan tanaman untuk menggumpalkan air yang mengandung mikroplastik," kata penulis studi tersebut, Gabrielle Batista. "Dalam air yang lebih basa, kinerjanya bahkan lebih baik daripada produk kimia."

Dalam pengujian, ekstrak tersebut mencapai efisiensi penghilangan di atas 98 persen—sebanding dengan perawatan kimia yang banyak digunakan.

"Ada peningkatan pengawasan regulasi dan kekhawatiran kesehatan terkait penggunaan koagulan berbasis aluminium dan besi, karena bahan-bahan tersebut tidak dapat terurai secara hayati, meninggalkan residu toksisitas, dan menimbulkan risiko penyakit," kata peneliti utama studi, Adriano Gonçalves dos Reis. "Karena alasan itu, pencarian alternatif yang berkelanjutan semakin intensif."

Potensi Daun Kelor Jadi Bahan Filtrasi Air

Kemajuan terbaru menyoroti koagulan alami yang berasal dari tumbuhan, seperti yang berasal dari daun kelor, sebagai alternatif ramah lingkungan yang menjanjikan untuk perawatan sintetis. Di antara mereka, moringa telah dipelajari secara ekstensif, dan data terbaru menunjukkan bahwa tingkat penghilangan mikroplastiknya melebihi 90 persen dalam kondisi yang tepat.

Temuan penelitian juga menunjukkan potensi penghematan biaya dan energi dari penggunaan moringa untuk filtrasi organik, mengurangi kebutuhan akan biaya kimia dan biaya infrastruktur. Namun, para peneliti memperingatkan bahwa masih ada celah, terutama dalam hal skala. Meskipun hasilnya menjanjikan, uji coba skala besar diperlukan untuk menentukan apakah filtrasi berbasis moringa dapat efektif di dunia nyata dan dalam sistem air kota yang kompleks.

Moringa telah lama dipuji karena berbagai manfaat pengobatannya dan telah digunakan untuk mengobati luka, mengurangi peradangan, mengobati penyakit hati dan jantung, dan bahkan kanker, menurut penelitian. Kandungan mineral yang tinggi pada tanaman ini juga menjadikannya bahan yang diinginkan untuk perawatan kulit dan pelembap.

Polusi Mikroplastik Saat Ini

Polusi plastik kini diakui secara global sebagai ancaman kritis bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Menurut data 2026 dari Ocean Blue Project, sekitar 8--11 juta ton plastik masuk ke laut setiap tahunnya.

Akibatnya, mikroplastik telah menjadi umum dan meluas dalam kehidupan sehari-hari, secara rutin terdeteksi dalam air, makanan, dan produk sehari-hari, ditemukan pada 90 persen burung laut dan dalam darah serta paru-paru manusia. Diperkirakan manusia dapat menelan puluhan ribu mikroplastik per tahun.

Para peneliti juga mempertanyakan dampak manusia yang menelan mikroplastik, yang racunnya telah dikaitkan dengan masalah pencernaan dan penurunan kesuburan. Pada April 2026, EPA menetapkan mikroplastik sebagai "kelompok kontaminan prioritas" dalam draf Daftar Kandidat Kontaminan Keenam, bersama dengan kontaminan utama lainnya seperti obat-obatan yang mungkin ada di air kita.

Potensi Kimchi untuk Hilangkan Mikroplastik

Sebelumnya, berdasakan sebuah studi yang diterbitkan Bioresource Technology edisi Mei 2026, seperti dicatat oleh Phys.org, peneliti menemukan kimchi bisa membersihkan tubuh dari nanoplastik. Nanoplastik adalah jenis mikroplastik yang berasal dari sisa-sisa barang konsumsi, dan cukup kecil untuk menembus sel, jaringan, dan sawar darah-otak.

Menurut studi yang didukung Science Direct, ketika diisolasi, bakteri asam laktat yang ditemukan dalam lauk tradisional Korea ini membantu mengikat nanoplastik di dalam usus, memungkinkan nanoplastik tetap menyatu saat keluar melalui usus. Nanoplastik "terutama berasal dari kontaminasi lingkungan tempat makanan ditanam atau dipelihara," menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).

Pengujian yang dilakukan pada tikus menunjukkan bahwa 'baik tikus jantan maupun betina yang diberi strain [bakteri asam laktat turunan kimchi, Leuconostoc mesenteroides] CBA3656 menunjukkan peningkatan lebih dari dua kali lipat dalam jumlah nanoplastik yang terdeteksi dalam feses'.

"Hasil ini menunjukkan bahwa probiotik tersebut dapat berkontribusi pada ekskresi nanoplastik dengan mengikatnya di usus," menurut Phys.org, dikutip dari People, Kamis, 26 Maret 2026. Dalam artikel Science Direct, para peneliti menyebutkan bahwa penghapusan nanoplastik yang efektif sangat penting untuk melindungi kesehatan manusia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |