Riset: Gen Z Anggap Bepergian Penting untuk Kesehatan Mental

18 hours ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Gen Z dinilai menjadi salah satu generasi yang paling kontroversial. Tetapi jika ada satu hal yang selalu berhasil dilakukan Gen Z dengan tepat, itu adalah soal travel atau bepergian.

Dikutip dari news.com.au pada Jumat (15/5/2026), meninggalkan rutinitas yang membosankan dan pergi menjelajahi dunia menjadi prioritas utama bagi banyak orang dalam kelompok usia ini, yakni mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka tidak hanya gemar bepergian, tetapi juga melakukannya dengan cara yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Menurut data terbaru dari Flight Centre, Gen Z menganggap perjalanan sebagai sesuatu yang sangat penting bagi kesehatan mental dan bagian yang tidak bisa ditawar dalam hidup mereka. Mereka juga jauh lebih terbuka terhadap transit atau singgah saat menempuh perjalanan jarak jauh.

Banyak dari mereka merasa bahwa perjalanan bukan hanya soal tujuan akhir. Data tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok usia ini lebih mungkin dibanding generasi lain untuk memilih liburan berdasarkan media sosial, televisi, dan film, alih-alih mengikuti rute wisata yang paling umum.

Kesehatan dan kebugaran juga menjadi hal besar bagi Gen Z. Mereka cenderung memilih perjalanan yang berfokus pada pencarian jati diri dan petualangan, ketimbang jadwal pesta yang padat. Hal ini membuat tren perjalanan seperti digital detox dan retreat bebas alkohol menjadi sangat populer dalam beberapa tahun terakhir.

Yang paling menarik, dan mungkin mencerminkan krisis biaya hidup saat ini, adalah bahwa Gen Z merupakan pengguna program loyalitas paling aktif. Dibanding generasi lain, para pelancong muda ini lebih hemat dan memanfaatkan pengeluaran sehari-hari yang bisa menghasilkan poin demi mendukung perjalanan mereka.

Hasil Riset

Riset dari Flight Centre menunjukkan bahwa lebih dari separuh pemegang kartu rewards dari kalangan Gen Z mengandalkan poin kartu kredit untuk membantu membayar biaya perjalanan.

Program World360 Rewards milik Flight Centre, yang diluncurkan pada November 2025, memungkinkan anggota mengumpulkan poin dari penerbangan, hotel, kapal pesiar, dan tur melalui lebih dari 500 maskapai serta lebih dari 900.000 hotel.

Warga Queensland bernama Abbey Lucey menjadi salah satu dari banyak anak muda yang benar-benar “mengakali sistem”, mengubah pengeluaran sehari-hari dan strategi cerdas menjadi peluang untuk membiayai liburan berikutnya.

Perempuan 24 tahun asal Brisbane itu mengatakan bahwa ia perlahan mengumpulkan poin dengan berbagai cara dan berharap dapat membiayai liburan di masa depan setelah poinnya terkumpul cukup banyak.

"Saya mendaftar program itu saat memesan tiket pesawat awal tahun ini," ujarnya kepada news.com.au.

"Saya perlahan mengumpulkan poin dari beberapa pemesanan akomodasi, tetapi juga dari hal-hal seperti menggunakan marketplace untuk mendapatkan poin dari retailer seperti Cotton On dan Priceline," kata dia.

Namun menurut Abbey, yang terbesar baginya adalah bahan bakar. Dia menghabiskan hampir satu jam perjalanan sekali jalan untuk pergi bekerja.

"Sekarang saya bisa mendapatkan poin dengan mengisi bensin di Caltex, saya sering sengaja mengisi di sana, meskipun tempat lain sebenarnya lebih praktis".

Perjalanan ke Eropa

Abbey, yang bekerja sebagai terapis wicara, mengatakan bahwa ia telah memesan perjalanan besar berikutnya ke Eropa melalui World360 Rewards dan berharap poin yang diperolehnya dapat digunakan untuk membiayai liburan berikutnya sehingga ia bisa bepergian 'secara gratis'.

"Saya pergi bersama salah satu teman saya, Jo, yang tinggal di Melbourne, lalu kami akan bertemu beberapa teman lain di sana yang tinggal di London," ungkapnya.

"Kami akan terbang ke Milan dan mendaki Dolomites, yang sudah lama ada dalam daftar impian saya, lalu lanjut ke Florence, Camogli, Mallorca, Portugal, Kopenhagen, dan London," imbuh dia.

Dalam memesan perjalanannya melalui Flight Centre, Abbey mengatakan bahwa ia akan selalu memilih menggunakan agen perjalanan saat merencanakan petualangan berikutnya.

"Sejak dulu saya selalu diajarkan bahwa lebih baik membayar sedikit lebih mahal dan memesan lewat agen, sehingga jika terjadi sesuatu, Anda tidak terlantar dan harus mencari solusi sendiri," kata dia.

"Saya memesan tiket pesawat sebelum semua yang terjadi di Timur Tengah, dan sekarang saya semakin bersyukur telah memesan melalui agen," kata Abbey.

Melihat Dunia Jadi Prioritas Utama

Abbey setuju bahwa generasinya memandang perjalanan dengan cara yang sangat berbeda dibanding generasi yang lebih tua. Baginya, kesempatan melihat dunia merupakan prioritas utama.

"Meski ada tekanan biaya hidup saat ini, bepergian jelas lebih mudah diakses bagi kami di usia muda dibanding yang dialami orang tua kami," ujarnya.

“Jadi saya rasa generasi saya memang punya naluri alami untuk lebih banyak menjelajahi dunia. Sebagai contoh, saya memilih menunda menabung untuk membeli properti demi mencentang beberapa destinasi impian, dan saya rasa itu bukan sesuatu yang dilakukan orang tua saya atau banyak orang tua teman-teman saya," terang dia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |