Mengenal Baby Botox, Istilah Perawatan Kecantikan yang Disebut Gimmick Pemasaran

6 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Tren perawatan kecantikan belakangan diramaikan dengan berbagai istilah baru, termasuk baby Botox, mini filler, hingga lip hydration. Penyebutan istilah itu dipopulerkan oleh sejumlah influencer yang dinilai bertujuan menyamarkan tindakan estetika yang mereka jalani.

Istilah seperti baby Botox dinilai menjadi cara baru untuk membuat prosedur estetika terdengar lebih aman dan mudah diterima secara sosial. Perawat estetika medis sekaligus pendiri klinik The Things We Do di Los Angeles, Vanessa Lee, mengatakan fenomena tersebut menunjukkan masih adanya stigma terhadap prosedur kecantikan.

"Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari bahasa yang digunakan dalam prosedur ini. Jika suatu perawatan membutuhkan nama yang lebih lembut agar seseorang merasa nyaman melakukannya, mungkin kita perlu bertanya stigma apa yang sebenarnya masih melekat," ujar Vanessa, melansir Byrdie, Selasa, 12 Mei 2026.

Untuk memahami tren tersebut lebih jauh, sejumlah ahli bedah plastik dan profesional estetika mencoba menjelaskan perbedaan antara prosedur baby botox dengan tindakan estetika konvensional yang selama ini sudah dikenal masyarakat. Menurut Olivia Vaughan NP-C, praktisi perawat asal Los Angeles sekaligus pendiri OV Aesthetics, perbedaannya hanya terletak pada jumlah unit yang digunakan, biasanya sekitar dua hingga tiga unit lebih sedikit dibanding prosedur standar.

"Sejujurnya, baby botox lebih merupakan istilah pemasaran daripada istilah medis. Biasanya istilah ini mengacu pada penggunaan jumlah unit yang lebih rendah dibanding perawatan standar," ujarnya.

Para Peminat Prosedur Baby Botox

Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kekuatan otot, pola gerakan wajah, dan struktur anatomi yang berbeda. Karena itu, tidak ada ukuran dosis baby yang benar-benar sama untuk semua pasien. Menurut Vaughan, jumlah titik injeksi serta banyaknya unit yang digunakan di tiap area juga memengaruhi daya tahan hasil dan tingkat relaksasi otot setelah prosedur dilakukan.

Dalam praktiknya, pasien yang meminta baby botox umumnya menginginkan hasil yang lebih halus dan natural. Garis-garis halus tetap tersamarkan, tetapi wajah masih dapat bergerak dan menampilkan ekspresi secara alami.

Meski begitu, hasil serupa sebenarnya juga bisa dicapai melalui prosedur suntik botox tradisional karena teknik tersebut pada dasarnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien. Vaughan menambahkan, perawatan pasca-tindakan tetap sama, sementara perbedaan utama biasanya hanya terletak pada durasi hasil yang cenderung lebih singkat pada baby botox.

Setelah Baby Botox, Muncul Baby Surgery

Tak hanya baby botox, istilah baby surgery atau mini surgery juga semakin sering digunakan dalam dunia kecantikan dan estetika. Namun, sejumlah ahli bedah plastik menilai istilah tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tepat secara medis.

Menurut ahli bedah plastik asal Los Angeles, Dr. Marc Mani, prosedur seperti mini facelift atau mini rhinoplasty pada dasarnya tetap merupakan operasi besar yang berisiko serta masa pemulihan layaknya prosedur bedah lainnya.

"Istilah ‘mini’ pada operasi facelift atau rhinoplasty bukanlah deskripsi medis, melainkan bentuk bujukan pemasaran," ujar Marc. "Penggunaan istilah itu seolah mencoba mengecilkan risiko dan proses pemulihan dari operasi yang sebenarnya tetap serius."

Senada dengan itu, ahli bedah plastik wajah asal New York City, Dr. Dara Liotta, mengatakan istilah 'baby rhinoplasty' juga dapat menyesatkan karena perubahan kecil pada bentuk hidung tetap termasuk tindakan operasi penuh.

"Secara teknis, setiap perubahan pada tampilan hidung tetap disebut rhinoplasty, meskipun hasil yang diinginkan terlihat sangat halus," kata Dara.

Istilah Baru Bisa Menyesatkan Ekspektasi Calon Pasien

Dr. Dara menjelaskan bahwa hidung bukan hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga memiliki fungsi penting untuk sistem pernapasan. Karena itu, dokter tetap harus memperhatikan struktur dan fungsi hidung selama prosedur dilakukan.

Ia menambahkan, meskipun beberapa pasien hanya menginginkan perubahan kecil, proses pemulihan rhinoplasty tetap membutuhkan waktu panjang. Dalam banyak kasus, bentuk hidung baru bahkan baru benar-benar stabil setelah sekitar satu tahun pascaoperasi.

Maka itu, ia kurang menyukai penggunaan istilah mini atau baby, khususnya untuk prosedur rhinoplasty. Ia lebih memilih menyebut prosedur dengan perubahan kecil pada hidung sebagai subtle rhinoplasty atau rhinoplasty halus.

"Saya tidak suka menggunakan istilah ‘mini’ karena terdengar seperti proses pemulihannya juga ringan dan cepat," kata Liotta. "Padahal, hampir tidak ada operasi yang benar-benar memiliki pemulihan ‘mini’."

Senada dengan Dara, Olivia Vaughan juga menilai bahwa istilah-istilah baru yang lebih lembut hanya berfungsi untuk mengurangi kesan menakutkan terhadap prosedur kecantikan, sepereti botox.

"Melunakkan bahasa bisa membantu pasien merasa lebih nyaman untuk mencobanya," ujar Olivia. "Pada akhirnya, itu tetap perawatan dan obat yang sama. Yang berbeda hanya dosisnya, disesuaikan dengan kekuatan otot dan preferensi estetika masing-masing individu."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |