Italia Selidiki Kematian 5 Warga Negaranya yang Tewas Saat Menyelam di Maladewa

3 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Kejaksaan Italia resmi meluncurkan penyelidikan terkait kematian lima warga negaranya saat menyelam di Maladewa pada Jumat, 16 Mei 2026. Investigasi dilakukan di tengah proses pencarian korban lain yang terpaksa dihentikan sementara akibat cuaca buruk yang melanda negara kepulauan itu.

Melansir New York Post, Sabtu, 16 Mei 2026, menurut laporan ANSA, jaksa penuntut di Roma masih menunggu laporan resmi dari konsulat Italia di Sri Lanka yang juga menangani urusan diplomatik Maladewa. Laporan tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan apakah kasus ini akan diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum setempat.

Sementara itu, otoritas lokal di Maladewa tengah menyelidiki kemungkinan adanya pelanggaran prosedur keselamatan sebelum tragedi terjadi di perairan dekat Pulau Alimatha pada Kamis, 15 Mei 2026. Penyelidikan difokuskan pada dugaan pengabaian peringatan cuaca ekstrem serta aturan penyelaman yang berlaku saat kegiatan berlangsung.

Cuaca dilaporkan memburuk dengan kondisi laut yang tidak bersahabat, sehingga tim penyelamat kesulitan melanjutkan operasi pencarian korban lainnya. Kondisi tersebut memaksa pencarian dihentikan sementara demi keselamatan petugas di lapangan. Ombak besar dan arus laut yang kuat membuat proses penyelaman menjadi sangat berisiko bagi tim penyelamat.

Empat dari lima wisatawan pencari petualangan yang dilaporkan hilang hingga kini masih belum ditemukan. Tim penyelam diketahui telah mencari di dua segmen gua bawah laut yang berada sekitar 200 kaki atau lebih dari 60 meter di bawah permukaan laut, kedalaman yang mencapai dua kali lipat batas aman penyelaman rekreasi di Maladewa yang umumnya hanya 100 kaki.

Cuaca Buruk Hambat Operasi Pencarian Korban Penyelaman di Maladewa

Para penyelam Maladewa hanya mampu memasuki dua lubang pertama, kemudian harus naik ke permukaan untuk memberi waktu dekompresi, dan belum dapat menemukan jenazah penyelam Italia lainnya. Pihak berwenang setempat masih terus memantau perkembangan cuaca sebelum melanjutkan operasi pencarian lanjutan di area penyelaman dekat Pulau Alimatha tersebut.

"Tim berencana kembali menyelam besok (Sabtu, 16 Mei 2026). Namun, kondisi cuaca di Maladewa saat ini sangat buruk, dengan angin kencang dan hujan deras. Saya juga mendapat informasi adanya arus laut yang kuat, yang sayangnya membuat operasi pencarian menjadi lebih sulit,” ujar Duta Besar Italia untuk Sri Lanka, Damiano Francovigh.

Dalam proses pencarian korban, pihak berwenang mengerahkan sejumlah penyelam profesional, unit dukungan udara, serta kapal pencarian untuk menyisir area penyelaman di sekitar Pulau Alimatha. Sejauh ini, satu jenazah telah berhasil ditemukan.

Media lokal Maladewa melaporkan bahwa korban yang ditemukan adalah Monica Montefalcone. Namun, kantor berita Italia ANSA menyebut jenazah tersebut merupakan Gianluca Benedetti, instruktur selam sekaligus kapten kapal yang terlibat dalam perjalanan tersebut.

Operasi pencarian terhadap empat korban lainnya akan kembali dilanjutkan setelah kondisi cuaca memungkinkan dan situasi laut dinilai lebih aman bagi tim penyelamat.

Dugaan Keracunan Oksigen dan Kepanikan Jadi Sorotan dalam Tragedi Penyelaman

Keracunan oksigen dan kepanikan ekstrem diduga menjadi faktor yang menyebabkan kematian lima wisatawan asal Italia dalam insiden penyelaman scuba di Maladewa. Dugaan tersebut muncul setelah seluruh korban dilaporkan meninggal dalam satu penyelaman di kedalaman sekitar 160 kaki atau hampir 50 meter di perairan Atol Vaavu.

Dokter spesialis paru-paru asal Italia, Claudio Micheletto, mengatakan kemungkinan terdapat masalah pada tabung oksigen yang digunakan para penyelam saat tragedi terjadi. Pernyataan itu disampaikan kepada media Italia Adnkronos di tengah penyelidikan yang kini dilakukan pihak kepolisian terkait penyebab insiden maut tersebut.

"Ada kemungkinan terjadi sesuatu yang salah pada tabung oksigen," ujar Claudio.

Ia menjelaskan bahwa keracunan oksigen atau hiperoksia merupakan salah satu kondisi paling berbahaya dalam aktivitas menyelam. Kondisi tersebut terjadi ketika tubuh menerima kadar oksigen berlebih akibat tekanan tinggi di bawah laut, yang dapat memicu gangguan serius pada sistem saraf hingga kehilangan kesadaran secara mendadak.

"Kematian akibat keracunan oksigen, atau hiperoksia, adalah salah satu kematian paling dramatis yang dapat terjadi selama penyelaman, sebuah akhir yang mengerikan," tambah Claudio yang juga menjabat sebagai Direktur Pulmonologi Rumah Sakit Universitas Verona.

Dugaan Keracunan Oksigen dan Kepanikan saat Penyelaman Dalam

Penyelam scuba umumnya menggunakan udara terkompresi dari tabung yang terdiri dari sekitar 21 persen oksigen dan 79 persen nitrogen. Namun, dalam kondisi tertentu, beberapa penyelam memilih menggunakan nitrox, campuran gas dengan kadar oksigen lebih tinggi yang memungkinkan mereka bertahan lebih lama di bawah air.

Dokter spesialis paru-paru Claudio Micheletto memperingatkan bahwa kadar oksigen yang terlalu tinggi dapat berubah menjadi racun bagi tubuh saat digunakan pada kedalaman tertentu. Ia menjelaskan kondisi tersebut dapat memicu hiperoksia atau keracunan oksigen, yang menyebabkan gejala seperti pusing, nyeri, disorientasi, hingga gangguan kesadaran.

"Selama penyelaman, dapat terjadi pusing, nyeri, perubahan kesadaran, dan disorientasi, sehingga tidak memungkinkan untuk kembali ke permukaan," tambah Claudio.

Selain faktor teknis terkait tabung oksigen, para ahli juga menyoroti kemungkinan kepanikan yang terjadi di bawah laut. Presiden Perhimpunan Kedokteran Bawah Air dan Hiperbarik Italia, Alfonso Bolognini, mengatakan kondisi gua bawah laut di kedalaman sekitar 50 meter sangat berisiko jika salah satu penyelam mengalami masalah atau serangan panik.

Menurutnya, kepanikan dapat memicu gerakan berlebihan yang membuat air menjadi keruh dan mengurangi jarak pandang secara drastis. Meski demikian, Alfonso menegaskan masih terlalu dini untuk memastikan penyebab utama tragedi tersebut sebelum hasil penyelidikan resmi diumumkan. "Saat ini sulit untuk mengatakan secara pasti apa yang mungkin terjadi di dasar laut," katanya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |