Ratu Keramik Bali, Sosok di Balik Jenggala yang Mendunia

9 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Jika pernah menginap di Amanzoe, Yunani, menghadiri acara privat di Rainbow Room, Rockefeller Center, atau berkunjung ke kediaman penyanyi Spanyol Julio Iglesias, kemungkinan besar Anda pernah melihat peralatan makan keramik dari Jenggala.

Merek keramik asal Bali ini telah menjadi ikon, digandrungi oleh penggemar setia dari berbagai penjuru dunia. Tahun ini, Jenggala merayakan ulang tahun emasnya, menandai perjalanan panjang yang dibangun oleh loyalitas pelanggan yang terus kembali.

"Beberapa klien kami sudah bersama kami lebih dari 10, bahkan mungkin 20 tahun," kata pemiliknya, Ade Waworuntu, pada CNA, seperti dilansir Rabu, 1 April 2026. "Melihat pelanggan terus kembali selalu menyenangkan. Itu menegaskan bahwa kami melakukan sesuatu yang benar."

Waworuntu, kini di akhir 60-an, ibu dari tiga putri dan dua cucu, menjabat sebagai direktur utama Jenggala. Namun, ia lebih nyaman disebut "ibu" daripada gelar resmi.

"Saya lebih suka dipanggil ibu, karena itu juga peran saya bagi orang-orang yang bekerja di perusahaan ini," ujarnya, menekankan nuansa hangat dan kekeluargaan yang melekat dalam setiap karya Jenggala.

Jenggala, yang namanya diambil dari kerajaan kuno yang pernah berkuasa di sebagian wilayah Jawa, didirikan pada 1976 oleh Wija Waworuntu, ayah Ade, bersama seniman asal Selandia Baru, Brent Hesselyn.

Pada awal berdirinya, produksi dilakukan di sebuah gudang tembikar sederhana di belakang rumah keluarganya di Sanur. Pelanggan pertama mereka pun berasal dari lingkungan terdekat, yakni hotel keluarga, Tandjung Sari.

Dari Gudang Sederhana ke Peluang Besar Pariwisata Bali

Pada awal 1970-an, industri keramik di Indonesia masih terbatas, dan Jenggala muncul sebagai pelopor di Bali. Saat pariwisata pulau ini mulai berkembang, didorong pembukaan bandara internasional dan KTT ASEAN pertama, permintaan akan perlengkapan hotel dan restoran meningkat pesat, termasuk peralatan makan.

Melihat peluang itu, Jenggala cepat memposisikan diri sebagai pemasok peralatan makan lokal terkemuka. "Grand Hyatt Nusa Dua adalah klien besar pertama kami," kenang Ade.

"Kami juga menyediakan lampu, dekorasi kayu, hingga keranjang anyaman, melayani beragam kebutuhan interior."

Dari sana, Jenggala membangun reputasi sebagai rumah kreatif yang menggabungkan keindahan dan fungsi, menyesuaikan karya dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang, sambil memperkuat identitasnya sebagai ikon keramik Bali.

Mengambil Alih di Tengah Duka dan Krisis

Ade mengambil alih Jenggala di tengah masa sulit setelah ayahnya meninggal pada 2001, disusul Brent Hesselyn, sosok di balik arah artistik perusahaan, setahun kemudian. Keluarga membutuhkan figur yang mampu menjaga kelangsungan bisnis dan mengisi kekosongan kepemimpinan, dan harapan itu jatuh padanya.

Di antara sembilan saudara, ia satu-satunya yang tertarik pada keramik. Sejak remaja, ia sering bermain tanah liat, bahkan menekuni kursus di Universitas George Washington dan Universitas Alaska Anchorage.

Namun, kepemimpinannya langsung diuji. Pada 2002, serangan teroris mengguncang Bali, menurunkan pariwisata dan menghentikan pesanan.

Tantangan utamanya bukan ekspansi, melainkan menjaga perusahaan tetap bertahan. "Kami beruntung memiliki tim solid," ucapnya. "Tugas saya memastikan mereka percaya keluarga kami akan terus melindungi mereka dan masa depan Jenggala."

Dari Krisis ke Panggung Dunia

Komitmen Ade membuahkan hasil. Ia berhasil melewati ujian pertamanya sebagai pemimpin, membawa Jenggala berkembang hingga menjadi salah satu merek Bali yang dikenal secara internasional, sejajar dengan John Hardy dan Biasa.

"Ini masa sulit, tapi saya beruntung mendapat dukungan dari mitra bisnis, konsultan, keluarga, dan karyawan," katanya.

Kini, Jenggala mempekerjakan sekitar 150 orang dan memproduksi sekitar 20 ribu produk keramik berkualitas tinggi setiap bulan. Meski persaingan kian ketat, produknya tetap menjadi pilihan di hotel dan restoran mewah.

Salah satu pencapaian besar terjadi saat KTT G20 Bali 2022, ketika Ade menciptakan seri keramik khusus untuk para pemimpin dunia.

"Namun, kami tetap pemain kecil," katanya rendah hati di area produksi Jimbaran. "Beberapa perusahaan besar beroperasi dengan pabrik otomatis 24 jam. Jenggala berbeda dan memang tidak akan pernah seperti itu."

Sentuhan Tangan dan Cerita di Setiap Karya

Lokasi produksi Jenggala di Jimbaran dibuka pada 1999 untuk menggantikan studio awal di Sanur yang tak lagi mampu memenuhi permintaan. Dari luar, bangunannya megah dan sering disangka hotel.

Namun di dalamnya, terdapat fasilitas seluas 15 ribu meter persegi yang menampung area produksi, sekaligus ruang pamer untuk koleksi edisi terbatas hasil kolaborasi dengan seniman lokal dan internasional.

Seniman Yogyakarta, Mulyana, baru-baru ini menjalani residensi di sana, menghasilkan koleksi lukisan tangan unik bergaya monster khasnya. Meski terlihat besar, Ade menegaskan skala produksi Jenggala masih jauh lebih kecil dibanding produsen keramik industri.

"Kami lebih suka menyebutnya bengkel daripada pabrik," sebut dia.

Dengan pemahaman mendalam tentang desain, pencetakan, pembakaran, dan pelapisan glasir, Ade kerap berpindah antar-departemen, menyapa perajin senior, dan menekankan detail kerja tangan, seperti cangkir seri Coral Triangle Center.

Inspirasi alam dan budaya Indonesia tetap menjadi dasar setiap karya, termasuk koleksi Uwi yang terinspirasi perempuan di Pulau Timor.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |