Museum Nasional Indonesia Ulang Tahun ke-248, Bikin Kontes Surat Cinta hingga Buka 2 Pameran Tetap

16 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Museum Nasional Indonesia berulang tahun ke-248 tepat pada Jumat, 24 April 2026. Serangkaian kegiatan dihadirkan untuk merayakan 'ruang pamer' sejarah Indonesia yang berdiri sejak 1778 sebagai lembaga kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Batavia.

Salah satunya adalah mengundang masyarakat mengirimkan surat cinta untuk Museum Nasional Indonesia. Surat itu wajib dituliskan di kartu pos dan diposkan dengan perangko ke Museum Nasional Indonesia. Nantinya, pihak museum akan memilih 20 surat cinta terbaik yang menyampaikan harapan-harapan untuk museum tersebut.

"Kenapa formatnya tidak melalui social media content, karena menurut saya, museum itu kan banyak material culture yang fisik ya, yang harus dipegang. Jadi, saya rasa menggunakan kertas, kartu pos, ditulis dan dipegang, pakai perangko itu seperti kembali ke analog. Itu sesuatu yang saya rasa harus dicoba diingatkan lagi ke generasi yang sekarang," kata Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB) Indira Estiyanti Nurjadin di Jakarta, kemarin.

Kontes menulis surat cinta itu akan berlangsung sampai 18 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Museum Internasional. Sekitar dua minggu kemudian, nama pemenang akan diumumkan.

"Ada hadiahnya," kata perempuan yang akrab disapa Esti itu seraya meminta publik memantau informasi lebih detail lewat akun media sosial Museum Nasional Indonesia.

Selain itu, pihak museum juga menggelar serangkaian aktivasi di museum. Salah satunya Yoga at Night yang berlangsung pada Jumat malam, workshop clay painting, lokakarya Rakopi yang mengajak pengunjung mengenal dan meracik kopi, hingga tiket harga khusus Rp2.480 di hari ulang tahun museum.

Pameran Numismatik yang Lebih Interaktif

Bertepatan dengan peringatan HUT ke-248, Museum Nasional Indonesia juga membuka dua pameran tetap terbaru di lantai 2 Gedung A. Pameran pertama berjudul Numismatik yang disebut Esti sudah 'ditunggu-tunggu' banyak orang.

"Karena dulu pernah dipamerkan, terus orang suka menanyakan, 'Masih ada enggak sih? Udah nggak ada ya? Kok enggak pernah dipamerin?... Nah, ini karena sudah ada aspirasi, orang banyak yang nanya, ke mana nih numismatiknya? Inilah kesempatan kami untuk tampilkan," tuturnya.

Pihak museum harus memutar otak dalam menata pameran agar bisa mengakomodasi semua periode dengan tepat di ruangan yang terbatas. Mereka perlu memilih koleksi mana untuk ditampilkan dari sekitar 50 ribu koleksi berkaitan dengan uang yang dimiliki Museum Nasional Indonesia saat ini.

"Itu dari awal banget (periodenya). Periodesasinya jauh dari era sebelum era kolonial. Yang selama ini kita sering terjebak, hanya tahu bahwa Indonesia itu kemerdekaan, sebelumnya dijajah 350 tahun. Padahal sebelum itu, kita adalah kerajaan-kerajaan. Nanti makanya bisa dilihat juga ada uang-uang kerajaan," ujarnya.

Berbeda dari sebelumnya, tata pamernya dibuat seinteraktif mungkin, mengikuti perkembangan zaman. Ada layar sentuh yang menampilkan informasi seputar uang hingga penggunaan proyeksi untuk menyorot detail koleksi-koleksi penting.

Pameran Pendar Penuh Makna

Di seberang ruang pameran Numismatik, Museum Nasional Indonesia juga menghadirkan pameran Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang. Pameran itu menampilan beragam koleksi lampu dari masa abad ke-9 Masehi. "Pendar" mengajak pengunjung menyelami beragam lampu dari masa ke masa.

"Karena pendar itu kan simbol dari cahaya. Cahaya itu kan seperti kita membawa ke terang. Jadi yang tadinya bukan gelap, tapi sedikit lebih gelap menjadi lebih terang. Jadi saya rasa itu simbolisme dari knowledge juga," kata Esti.

"Kalau pengetahuan kan kita maunya semuanya lebih terang. Dan museum itu kan orang datang ke museum untuk mendapat knowledge yang baru. Jadi, saya rasa itu tema yang tepat untuk dipakai di 248 tahun," sambungnya.

Koleksi yang ditampilkan merupakan kombinasi dari koleksi museum dan donasi dari kolektor. "Sekitar 30 pieces itu dari zaman Majapahit. Lampu-lampu Majapahit. Lalu yang kami dapat donasi dari kolektor lampu itu adalah lampu-lampu kolonial. Yang dibuat dari besi-besi," ujarnya seraya menyebut jumlahnya sekitar 60--70 unit.

Koleksi tertua yang dipajang berasal dari abad ke-9 dengan lampu disebut sebagai blencong. Saat itu, bahan bakar yang dipakai adalah minyak nabati, seperti minyak kelapa dan minyak jarak, untuk menyalakan api. Sebagian blencong dihias dengan motif mitologian yang terinspirasi dari relief di arca-arca.

Jadikan Museum Sumber Inspirasi

Lewat beragam pameran yang ada, Esti berharap Museum Nasional Indonesia bisa semakin hadir di antara masyarakat Indonesia. Utamanya untuk membangkitkan keingintahuan dan kebanggaan masyarakat akan menjadi seorang Indonesia.

"Kalau yang dulu saya pelajari di sekolah, yang selalu diajarkan adalah zaman kemerdekaan dan era kolonial. Padahal, kejayaan Nusantara itu jauh sebelum itu. Itu yang kita coba pamerkan di sini. Kita mencoba membangun kesadaran pada masyarakat bahwa kita itu negara yang sudah civilized (berbudaya) sejak dulu," ucapnya.

Ia merujuk pada sejumlah temuan zaman purba di wilayah Nusantara. Lukisan gua purba misalnya. Usia lukisan gua purba yang ditemukan di Indonesia bahkan ada yang berusia 68 ribu tahun, tepatnya di Muna, Sulawesi Tenggara.

"Sebelum itu yang di bawah kami pengelolaannya, usianya 51.000 tahun... Sementara di Eropa, di Prancis sama di Spanyol itu, lukisan guanya usianya 17.000 tahun. Yang paling tua kayaknya 25.000 tahun," ujar Esti.

Walau ia menekankan bahwa tidak ada satu kebenaran tunggal, informasi tersebut diharapkan bisa menggugah rasa penasaran, terutama generasi muda, untuk menelitinya lebih lanjut. Di samping, agar orang Indonesia tidak perlu berkecil hati dan minder. "Kita nggak perlu merasa kecil hati gitu karena kita bangsa yang besar sudah sejak dulu," ujarnya.

Ia juga berharap Museum Nasional Indonesia bisa merepresentasikan sejarah Indonesia dengan tepat kepada pengunjung asing. "Tahun ini mungkin kita targetkan (pengunjung) 800 ribu setahun. Tahun lalu kan kita sudah mencapai 700 ribu," ia menambahkan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |