Laporan Liputan6.com dari Turki: Menikmati Sisi Asia dan Eropa Kota Istanbul dari Menara Galata

3 hours ago 3
  • Berapa ketinggian Menara Galata?
  • Pemandangan apa yang dapat dinikmati dari Menara Galata?
  • Bagaimana sejarah pembangunan Menara Galata?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Berdiri di atas ketinggian seperti ini memberikan sensasi tersendiri. Berada sekitar 220 kaki atau 67 meter dari permukaan tanah, merupakan pengalaman yang mendebarkan sekaligus menakjubkan.

Hawa dingin, perpaduan dari pengaruh tempat  tinggi dan suhu udara yang mencapai 6 derajat celcius pun menyeruak. Semilir angin terasa melintasi leher, lembut menyentuh kulit, menghadirkan rasa yang tak biasa.

Tapi, dari tempat ini, Liputan6.com bisa menikmati pemandangan seluruh kota Istanbul, Turki  yang indah.

Atas undangan Turkiye Tourism Promotion and Development Agency, Liputan6.com berada  di puncak Galata Tower atau Menara Galata, atau Galata Kulesi, dalam bahasa Turki. Ini adalah salah satu landmark paling ikonik di Istanbul.

Di teras menara yang sudah dibangun sejak abad keenam ini, merupakan posisi sempurna untuk menyaksikan keindahan kota Istanbul secara 360 derajat.

Pikiran dalam benak pun melayang, membayangkan bagaimana Turki hidup dan berkembang di setiap masa peradaban.

Menara Galata memang sudah melintasi berbagai zaman di Turki. Dia menjadi saksi bagaimana peradaban Turki berubah mulai dari era Kekaisaran Bizantium alias Romawi Timur, Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) hingga kini di era Republik Konstitusional.

Dari balkon Menara Galata ini kita dapat dengan leluasa menyaksikan view indah Istanbul sisi Eropa dan Asia.

Bangunan-bangunan  bersejarah di sisi  Eropa Istanbul seperti Hagia Shopia, Blue Mosque, Topkapi Palace, hingga Grand Bazaar dan Spice Bazaar tampak begitu jelas.

Begitu juga kawasan Asia Istanbul, seperti Kadikoy dan Uskudar. Semua bisa kita lihat dalam satu pandangan panorama.

Hanya memang, detail bangunan-bangunan  sisi Eropa jauh lebih dominan, karena Galata Tower sendiri berada  di  Istanbul sisi  Eropa.

Selat Bosphorus yang memisahkan Benua Eropa dan Asia terlihat begitu nyata. Selat ini  juga terkoneksi dengan Jembatan Galata dan Jembatan Ataturk yang menghubungkannya dengan daratan Turki.

Dikelilingi Bangunan Tua dan Kafe-kafe

Galata Tower berada di kawasan Beyoglu, Distrik Galata.  Tepatnya di antara kawasan Karakoy di tepi laut dan Sishane di punggung bukit.

Untuk menjangkau lokasi ini,  dari posisi turun kendaraan  umum atau pribadi, kita masih perlu berjalan sedikit menanjak sekitar 200 meter.

Tapi, tenang. Dipastikan perjalanan Anda tetap menyenangkan, karena pemandangan yang indah sepanjang perjalanan. Bangunan-bangunan tua, serta kafe-kafe kecil dan toko-toko antik dan souvenir, terhampar sepanjang  perjalanan. 

Untuk memasuki Galata Tower pengunjung harus membeli tiket seharga 30 euro atau sekitar Rp 600 ribu. Jika ingin dilengkapi headphone untuk memberikan informasi terkait menar,  biaya ditambah 350 lira atau sekitar Rp 135 ribu.

8 Lantai

Menara Galata terdiri dari delapan lantai, termasuk puncak menara. Di dalam, pengunjung bisa menggunakan lift hingga lantai enam. Sisanya, untuk melanjutkan ke dua lantai selanjutnya, pengunjung  harus menaiki tangga.

Sebelum menaiki tangga ke  puncak menara, di lantai tujuh, pengunjung bisa mempelajari kondisi dan letak geografis kota Istanbul melalui miniatur kota yang tersedia.

Dengan skala 1/2500, dalam miniatur itu ditampilkan berbagai bangunan sejarah penting, termasuk kawasan Selat Bosporus,  yang dilengkapi sistem elektronik dan panel  interaktif.

Biasanya, setelah puas menyaksikan panorama Istanbul dari puncak menara,  pengunjung diarahkan turun melewati tangga dan mampir di setiap lantai. Sebab, di setiap lantai terdapat semacam ruang pamer,  yang menampilkan berbagai macam informasi terkait kota Istanbul dan Galata Tower secara khusus.

Di lantai lima misalnya, dipamerkan bermacam artefak bersejarah peninggalan era Kekaisaran Bizantium.

Di lantai ini juga ada jendela-jendela kecil untuk melihat Istanbul dari ketinggian dan disediakan teropong.

Sementara di lantai empat dan tiga, dipamerkan benda-benda peninggalan bersejarah era Istanbul di era Konstantinopel dan hasil-hasil karya fotografi bersejarah tentang Istanbul, serta informasi terkait arstitektur Galata Tower dan restorasinya dari waktu ke waktu. 

Legenda Hezarfen Ahmed Celebi

Sementara di lantai dua merupakan ruang pameran digital yang memberikan  informasi tentang sejarah Galata Tower. Terdapat juga area simulasi interaktif dengan layar besar, berkaitan dengan sejarah Istanbul.

Termasuk kisah legenda fenomenal, Hezarfen Ahmed Celebi,  seorang ilmuwan  di era Kesultanan Utsmaniyah yang diceritakan terbang dari puncak  Galata Tower menggunakan sayap artifisial buatannya. Penerbangan  ini dilakukannya pada tahun 1638.

Celebi terbang puncak  Galata Tower melewati Selat Bosporus dan mendarat di Uskudar,  kawan Asia Istanbul, yang berjarak  sekitar 4-4,5 kilometer.

Awalnya Menara Kayu

Sejarah Galata Tower dimulai sejak abad keenam, tepatnya pada tahun 507-508 Masehi, saat Kaisar Bizantium Justinianus I membangun sebuah menara dari kayu untuk melindungi kota dari serangan musuh. Menara itu  dinamakan  Magalos Pyrgos atau 'menara besar'.

Namun, menara ini hancur saat terjadi Perang Salib Keempat sekitar tahun 1200-an.

Sekitar 50 tahun kemudian,  Kekaisaran Bizantium yang dipimpin oleh Michael VIII Palaiologos berhasil kembali mengambil alih Konstantinopel dengan bantuan orang-orang Genoa dari Italia.

Sebagai imbalannya, Kaisar mengizinkan komunitas Genoa ini untuk tinggal dan berdagang di Distrik Galata.

Orang-orang Genoa ini yang kemudian membangun kembali membangun kembali Galata Tower pada tahun 1348.

Mereka menggunakan seni konstruksi menggunakan batu alam atau buatan yang disatukan dengan mortar (semen dan pasir) atau disusun kering untuk membangun struktur yang kuat, dan tahan lama. Menara ini kemudian dinamakan "Menara Kristus", dan menjadi  bangunan tertinggi era itu.

Pada era Kesultanan Utsmaniyah mulai tahun 1453, Menara Galata digunakan juga sebagai pendukung sistem keamanan kota.

Dia difungsikan sebagai pos pengawas militer, pemantau kebakaran, termasuk sebagai penjara bagi tawanan perang di era Utsmaniyah.

Sempat Tanpa Atap

Di  tahun 1875, Menara Galata dihantam badai dahsyat yang membuat bagian atasnya rusak parah. Padahal, bagian kerucut di puncak menara merupakan ciri khas Galata Tower.

Sejak saat  itu, Galata Tower dibiarkan tanpa atap selam lebih kurang 90 tahun.`Bagian atas menara menjadi datar dan  kehilangan bentuk aslinya.

Sampai akhirnya pada 1965–1967, pemerintah Turki merenovasi besar-besaran bangunan ini. Merekamengganti struktur kayu di dalam menara dengan  beton yang kokoh.

Mereka juga membangun kembali atap kerucut sesuai desain aslinya dan hingga kini tetap menjadi salah satu ikon paling terkenal kota Istanbul.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |