Laporan Liputan6.com dari Turki: Di Bawah Kubah Abadi Hagia Sophia

16 hours ago 7
  • Apa itu Hagia Sophia dan apa maknanya?
  • Bagaimana sejarah perubahan fungsi Hagia Sophia?
  • Apa yang membuat arsitektur Hagia Sophia unik?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Angin sejuk sore itu begitu segar menerpa rambut saat kami sampai di pelataran Masjid Hagia Sophia, Istanbul, Turki, seolah menyambut langkah yang penuh rasa takjub. Kubah besarnya menjulang begitu anggun, memantulkan cahaya matahari yang perlahan meredup di ufuk barat.

Banyak orang berlalu-lalang. Sebagian ada yang mengambil gambar, mengabadikan momen. Ada juga yang hanya bisa terdiam, larut dalam kekaguman.

Ini adalah tempat sakral, saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan peradaban Istanbul dari masa ke masa. Hagia Sophia bahkan masih menyimpan cerita yang tak pernah benar-benar usai.

Liputan6.com mendapat undangan khusus dari Turkiye Tourism Promotion and Development Agency  untuk mengunjungi tempat ini.

Hagia Sophia atau Aya Sofia yang berarti "kebijaksanaan suci" memang istimewa, memesona. Ada gabungan keindahan yang  luar biasa dari arsitektur bangunan ini, di mana  dua peradaban besar beradu: Bizantium dan Ottoman atau Utsmaniyah.

Yang paling mencolok adalah kubah raksasa yang menjulang ke atas. Kubah ini memberi kesan ruang yang megah dan luas di dalam Hagia Sophia. Selain itu, mozaik-mozaik ala Bizantium berpadu dengan kaligrafi-kaligrafi raksasa yang menghiasi dinding dalam bangunan juga begitu indah.

Ibarat sisi religius yang digambarkan dengan seni yang begitu indah dan detail. Ada elemen-elemen dari Kristen dan Islam berpadu dalam mozaik dan kaligrafi yang indah itu.

Selain itu,  sejarah panjang  bangunan  ini,  alih fungsinya dari gereja,  menjadi masjid, museum,  kemudian kembali jadi masjid, ibarat dialog antaragama, simbol toleransi yang meningalkan jejak untuk masa depan. Tak  heran sejak badan kebudayaan PBB, UNESCO, menetapkan Hagia Sophia sebagai salah satu Situs Warisan Dunia sejak 1985.

Terletak di Kawasan Sultanahmet

Hagia Sophia terletak di Kawasan Sultanahmet, distrik Fatih, jantung kota Istanbul. Hagia Shopia bertetangga dengan bangunan-bangunan bersejarah lainnya di Istanbul, seperti Blue Mosque, Topkapi Palace, dan Basilica Cistern.

Untuk memasuki kawan Hagia Sophia, pengunjung dipungut biaya 25 euro atau sekitar Rp 500 ribu. Karena ini adalah bangunan religius, tentu saja ada aturan untuk menghormati kesakralan tempat tersebut. Saat memasuki masjid, sepatu harus dilepas. Kaum perempuan pun diharuskan memakai kerudung.

Saat Liputan6.com berkunjung, Hagia Sophia sedang dalam pemeliharaan. Di tengah masjid dipasang beberapa scaffolding untuk para petugas membersihkan dan memberikan sedikit renovasi pada bagian-bagian tertinggi di dalam masjid. Meski begitu, kondisi ini sama sekali tidak menghilangkan kesan megah dan kesakralan Hagia Sophia.

Menengadahkan kepala ke atas, kita disuguhi keindahan karya seni relijius yang luar biasa. Bisa dibilang merupakan mahakarya arsitektur dan seni yang luar biasa dalam peradaban manusia.

Pesonanya mencuat dari perpaduan unik antara budaya Bizantium yang bercorak Kristen dan pengaruh Islam dari Kesultanan Utsmaniyah dengan dominan warna kuning menyala.

Anda dapat melihat mosaik Bunda Maria yang dikelilingi secara megah oleh kaligrafi berlafaz Allah dan Muhammad di sisi kanan dan kirinya. Bangunan Hagia Sophia adalah gabungan dari elemen-elemen desain tradisional Basilika Ortodoks, dengan atap berbentuk kubah besar.

Gereja, Masjid, Museum, Masjid

Bangunan ini dibangun sejak lebih dari 1.500 tahun yang lalu, tepatnya pada di era Kekasiran Roma (Timur) atau Bizantium di bawah Kaisar Justinian I. Ketika itu, bangunan ini merupakan gereja terbesar di dunia.

Pada Mei 1453, saat Muhammad al-Fatih atau Fatih Sultan Mehmed di bawah Kekaisaran Islam Utsmaniyah menaklukkan Konstantinopel, tempat ini dialihfungsikan menjadi mesjid. Seperti juga nama Konstantinopel  yang diganti menjadi Istanbul.

Saat zaman berubah, di era Republik Turki, pada 1935, tempat ini kembali berubah fungsinya. Kali ini dijadikan museum yang membuat banyak orang dari berbagai penjuru dunia datang mengunjungi dan mengagumi Hagia Shopia.

Pada 2020, oleh Pemerintah Turki, tempat ini kembali difungsikan menjadi masjid. Namun, Hagia Sophia tetap terbuka untuk umum layaknya museum. Pengunjung umum hanya tidak diperkenankan masuk saat waktu-waktu salat. Itu pun selama 30 menit.

Tambahan Empat Menara

Saat Kekaisaran Islam Utsmaniyah mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi masjid, dilakukan perubahan yang  mencolok, yaitu penambahan empat menara di sekeliling bangunan. Keempat menara kemudian menjadi salah satu “ïkon” Hagia Shopia, selain kubah yang sudah ada sejak awal.

Fungsi menara ini untuk tempat muadzin mengumandangkan adzan. Selain itu, pondasi yang kuat dari menara ini juga membantu untuk menahan saat terjadi gempa.

Phak Kesultanan Utsmaniyah juga menempatkan mihrab,  mimbar, serta memasang  kaligrafi Islam raksasa di dinding. Kaligrafi bertuliskan Allah dan Nabi Muhammad SAW dalam ukuran raksasa menjadi fokus utama.

“Identitas Awal” Tetap Dipertahankan

Yang menarik, meski sejak ratusan tahun lalu beralih fungsi menjadi masjid, Hagia Sophia masih mempertahankan “identitas awal” mereka. Di dalam Hagia Sophia dengan mudah mata kita akan melihat mosaik-mosaik kaligrafi khas Islam dengan ornamen-ornemen peninggalan gereja, menunjukkan perpaduan budaya dan sejarah.

Bahkan, gambar Yesus dan Bunda Maria pun masih terlihat tampil di lantai dua masjid. Ya, selain masjid, di lantai dua, yang disebut upper gallery, pengunjung memang bisa menikmati lebih banyak keindahan Hagia Shopia. Ini memang area khusus yang disediakan untuk pengunjung, terpisah dari lantai dasar masjid yang digunakan untuk ibadah kaum Muslim.

Di lantai dua, kita dapat melihat kubah raksasa, mosaik Bizantium kuno, dan kaligrafi Islam dari perspektif dekat. Dari lantai dua kita juga bisa melihat pemandangan ke Blue Mosque, melalui jendela.

Untuk menuju ke lantai kedua,  kita harus melewati sebuah lorong yang menghubungkan lantai satu dan dua, dengan lantai berupa bebatuan yang tidak rata. Hagia Sophia memang bukan sekadar bangunan megah, bersejarah. Inilah tempat di mana Barat bertemu Timur, masa lalu bertemu masa kini.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |