Konflik Iran vs Israel dan AS Berisiko Menaikkan Harga Tiket Pesawat

15 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Konflik Iran vs Israel dan AS telah secara signifikan mengganggu operasional bandara dan diperkirakan akan berdampak besar dalam jangka pendek pada penerbangan global. Salah satunya, serangan tersebut disebut berpotensi menaikkan harga tiket pesawat.

Melansir Fortune, Senin (2/3/2026), harga tiket pesawat bisa naik jika konflik Iran vs Israel dan AS berlanjut karena maskapai penerbangan mengalihkan rute penerbangan. Artinya, pesawat membakar lebih banyak bahan bakar untuk menghindari penutupan wilayah udara di seluruh Timur Tengah.

Ribuan penerbangan di kawasan itu telah dibatalkan, dan wilayah udaranya telah ditutup setelah AS dan Israel meluncurkan serangan ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Maskapai penerbangan besar, termasuk Qatar Airways, Saudia, dan maskapai penerbangan yang berbasis di Abu Dhabi, telah menangguhkan atau membatalkan sejumlah penerbangan, lapor Bernama.

Sementara, Bandara Dubai, bandara internasional tersibuk di dunia, dilaporkan rusak ringan akibat serangan balasan yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh Iran. Para pejabat mengonfirmasi bahwa empat anggota staf terluka.

Selain itu, sebuah drone yang menargetkan Bandara Internasional Kuwait, menyebabkan cedera ringan pada beberapa karyawan dan kerusakan terbatas pada Terminal 1. Bandara Internasional Bahrain juga dihantam drone Iran, mengakibatkan kerusakan material, tapi tidak ada korban jiwa.

Di Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, satu orang meninggal dan tujuh lainnya terluka setelah sebuah insiden. Kepala ekonom global Juwai IQI, Shan Saeed, mengatakan maskapai penerbangan mungkin perlu merestrukturisasi jadwal atau mengurangi kapasitas, yang akan berdampak pada konektivitas.

Tergantung Lamanya Waktu Konflik

"Penerbangan yang dialihkan biasanya menambah satu hingga dua jam waktu penerbangan, dengan setiap jam meningkatkan biaya bahan bakar dan awak sekitar 6 ribu hingga 10 ribu dolar AS (sekitar Rp 101 juta─Rp 168 juta) per penerbangan jarak jauh," kata Shan.

"Jika penutupan ini berlanjut, biaya kumulatif dapat meningkat hingga ratusan juta setiap bulan di seluruh industri," imbuhnya. Namun, Shan berpendapat bahwa biaya ekonomi akhir bergantung pada durasi ketegangan, dengan gangguan yang lebih lama menyebabkan dampak ekonomi lebih luas.

Sementara itu, Profesor Madya Sekolah Bisnis Universiti Kuala Lumpur, Mohd Harridon Mohamed Soffian, setuju bahwa nilai atau biaya finansial akan sangat terpengaruh karena harga minyak mentah akan lebih tinggi akibat peningkatan premi risiko.

Penumpang Menanggung Biaya Tambahan

Harridon mengatakan bahwa pengalihan rute penerbangan untuk menghindari daerah konflik kemungkinan akan mengakibatkan biaya operasional yang lebih tinggi, terutama pada rute-rute lebih panjang. Ia menyebut, kemacetan di rute tertentu juga dapat mengganggu jadwal penerbangan dan menyebabkan penundaan.

"Maskapai penerbangan harus proaktif dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan aset mereka untuk mengurangi dampak situasi ini, dan ini dapat dicapai melalui penggunaan model matematika yang cerdas untuk mengimbangi biaya yang membengkak," tambahnya.

Profesor Ekonom Geoffrey Williams mengatakan, jika penutupan wilayah udara terus berlanjut, penumpang lah yang harus menanggung biayanya. "Jika memiliki asuransi, mereka dapat memulihkan sebagian kerugian. Maskapai penerbangan dan bandara biasanya dikecualikan karena hal itu di luar kendali mereka," sebutnya.

Dampak terhadap Sektor Pariwisata

Williams berkata, "Mereka (penumpang pesawat) mungkin ditawarkan kompensasi atau alternatif, dan mereka mungkin diasuransikan untuk menutupi kerugian apapun," menambahkan bahwa konflik tersebut diperkirakan akan berlangsung singkat dan kemungkinan akan berakhir dalam waktu seminggu.

Harridon mengatakan, sektor pariwisata akan sangat terpengaruh, karena beberapa negara dan kota di Timur Tengah, seperti Dubai dan Qatar, bergantung pada penumpang transit karena investasi besar mereka di pusat-pusat transit.

"Hilangnya lalu lintas akan menyebabkan penurunan pendapatan bagi toko-toko ritel dan layanan lain yang terintegrasi dengan pusat-pusat transit di Timur Tengah," katanya. "Meski penurunan ini kemungkinan terjadi dalam jangka waktu konflik, perusahaan yang beroperasi di pusat-pusat transit ini harus siap menghadapi tantangan ekonomi dan keuangan yang terdampak serangan ini."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |