Kokushobi, Istilah Baru Jepang untuk Gelombang Panas Ekstrem

10 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Jepang memperkenalkan istilah baru untuk mendefinisikan suhu ekstrem yang mencapai 40 derajat Celsius. Mereka kini menyebutnya sebagai Kokushobi, yang berarti Cruelly Hot dalam Bahasa Inggris, sementara dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan panas yang menyakitkan.

Melansir Japan Today, Sabtu, 18 April 2026, istilah ini diperkenalkan oleh badan meteorologi setempat pada Jumat pekan lalu seiring meningkatnya frekuensi gelombang panas di berbagai wilayah negara tersebut. Dengan penggunaan istilah baru ini, Badan Meteorologi Jepang (JMA) berharap dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap suhu ekstrem yang semakin sering terjadi.

Menurut JMA, penyebutan “sangat panas” atau kokushobi dinilai lebih efektif dalam mengkomunikasikan tingkat bahaya gelombang panas. Pada tahun lalu, Jepang mencatat musim panas terpanas sejak pencatatan dimulai pada 1889. Kondisi ini sejalan dengan tren global, di mana perubahan iklim mendorong peningkatan jumlah hari dengan suhu tinggi di berbagai wilayah dunia.

Dalam proses penentuan istilah baru ini, JMA melakukan survei publik yang melibatkan sekitar 478.000 responden. Dari hasil tersebut, istilah kokushobi menjadi pilihan paling populer. Sementara itu, beberapa alternatif lain yang sempat dipertimbangkan antara lain 'hari yang sangat panas' (chomoshobi), 'hari seperti sauna', hingga 'hari untuk tetap di rumah'.

Kategori baru ini melengkapi sistem klasifikasi suhu yang telah digunakan sebelumnya oleh JMA, yaitu suhu di atas 25°C sebagai 'hari musim panas', di atas 30°C sebagai 'hari pertengahan musim panas', dan di atas 35°C sebagai 'hari sangat panas'.

Tokyo Catat 10 Hari Berturut-turut Suhu di Atas 35 Derajat Celcius

Pada 2025, suhu panas ekstrem di Tokyo kembali mencetak rekor. Berdasarkan data Badan Meteorologi Jepang pada Rabu, 27 Agustus 2025, suhu di ibu kota Jepang tersebut mencapai 35 derajat Celcius atau lebih selama 10 hari berturut-turut.

Para ilmuwan menyebut, gelombang panas yang semakin intens dan sering terjadi di berbagai belahan dunia merupakan dampak dari perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Jepang pun menjadi salah satu negara yang merasakan dampaknya, dengan mencatat musim panas terpanas sepanjang sejarah pada periode Juni hingga Juli 2025.

Mengutip AFP, Badan Meteorologi Jepang menyatakan bahwa rekor ini ditetapkan berdasarkan data pencatatan suhu yang telah berlangsung sejak 1875. Kondisi cuaca ekstrem ini juga diikuti fenomena lain di wilayah berbeda.

Di utara Pulau Hokkaido, wilayah Toyotami dilaporkan mengalami curah hujan ekstrem pada Selasa, 26 Agustus 2025, dengan jumlah hujan setara rata-rata bulanan yang turun hanya dalam waktu 12 jam, menurut laporan NHK. Sementara di Prefektur Yamaguchi, hampir 400 rumah tangga di Kota Hagi diminta untuk mengungsi akibat meningkatnya risiko tanah longsor, seiring kondisi cuaca yang tidak menentu.

Dampak Suhu Ekstrem di Jepang Kian Mengkhawatirkan

Suhu ekstrem di Jepang terus menunjukkan dampak yang semakin serius. Pada Agustus 2025, suhu tertinggi tercatat mencapai 41,8 derajat Celcius di pusat kota Isesaki, menjadi salah satu rekor panas tertinggi di negara tersebut. Kondisi ini mendorong pemerintah setempat untuk mengimbau masyarakat agar lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan berpendingin guna menghindari risiko sengatan panas.

Kelompok lansia menjadi yang paling rentan terdampak. Jepang sendiri merupakan negara dengan populasi tertua kedua di dunia setelah Monako. Dalam sepekan terakhir, lebih dari 8.400 orang dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat dampak suhu panas, menurut Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran. Dari jumlah tersebut, 12 orang dilaporkan meninggal dunia.

Perubahan suhu ini turut berdampak pada fenomena alam yang menjadi ikon Jepang, yaitu bunga sakura. Para ahli memperingatkan bahwa peningkatan suhu dapat menyebabkan sakura mekar lebih awal dari biasanya. Dalam kondisi tertentu, bunga bahkan berisiko tidak mekar secara sempurna karena kurangnya suhu dingin pada musim gugur dan musim dingin yang dibutuhkan untuk memicu proses pembungaan.

Suhu Panas Ekstrem Juga Landa Jakarta

Mengutip Kanal News Liputan6.com, Sabtu (18/04/2026), hal serupa juga terjadi di Jakarta, cuaca panas ekstrem melanda ibu kota dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun mengimbau warga untuk mewaspadai dampak kesehatan akibat kondisi tersebut.

"Kami mengajak seluruh warga Jakarta untuk saling mengingatkan dan menjaga kesehatan bersama," ujar Staf Khusus Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, Kamis, 19 Maret 2026.

Chico mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan dari masyarakat terkait cuaca panas ekstrem. Warga mengaku merasa tidak nyaman beraktivitas di luar ruangan karena suhu panas berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Kondisi ini juga berdampak pada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.

"Kami memahami keluhan warga yang dirasakan langsung," kata Chico, seperti dilansir Antara.

Pemprov DKI Jakarta juga terus berkoordinasi dengan BMKG untuk melakukan pemantauan harian serta memberikan peringatan dini. Selain itu, perkembangan cuaca ke depan akan terus dipantau agar langkah antisipasi dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |