Kembali Jadi Gelas Kosong di Candi Borobudur

4 days ago 20

Liputan6.com, Magelang - Ada gurauan bahwa orang Indonesia setidaknya akan tiga kali ke Candi Borobudur selama hidupnya. Pertama, waktu kecil untuk study tour; kedua, bersama pacar ketika kuliah; dan ketiga, saat menemani anak.

Saya pribadi mematri memori terakhir akan kunjungan ke candi Buddha terbesar di dunia tersebut pada 16 tahun lalu. Siang itu, sinar matahari bersinar galak, seolah berjarak hanya sejengkal dari kepala saya dan belasan kontingen Jakarta untuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N).

Turun bus─dengan setengah sadar─kami langsung membaur dengan tidak hanya pengunjung yang luar biasa banyak, namun juga para pedagang yang riuh mengupayakan dagangan mereka ludes terjual. Masih dengan setengah sadar, kami melekaskan langkah agar tidak terpisah dari grup.

Hingga akhirnya sampai loket tiket dan masuk gerbang, semua saya ingat sebagai memori sarat stresor. Namun saat tiba bersama rombongan media trip Traveloka, Selasa, 12 Agustus 2025, pengalaman kontras justru jadi buah tangan yang saya bawa pulang.

Suasana nan Tenang

Kesan berbeda dimulai sejak turun kendaraan. "Oh, pintu masuknya pindah," batin saya. Ya, akses masuk pengunjung kini diarahkan ke Kampung Seni Borobudur yang berdekatan dengan area parkir utama untuk kendaraan pribadi dan rombongan.

Siang hari menuju sore itu ramai, terutama oleh turis asing yang sedang menikmati liburan musim panas mereka, tapi tidak sampai kaos. Alur masuknya jelas. Akses jalan yang disediakan juga lapang. Semua pedagang disatukan dengan tertib di Kampung Seni Borobudur, membuat kami leluasa melihat barang dagangan mereka, karena tidak terkesan dikejar-kejar.

Kami sempat berkeliling, melihat pohon maja yang jadi asal mula nama Kerajaan Majapahit, serta menikmati rimbun pepohonan dan hamparan rumput hijau nan menyegarkan mata. Dari kursi belakang electric buggy golf cart, saya sempat bertanya-tanya, "Benarkah ini Candi Borobudur yang pernah saya sambangi?"

Pembatasan Pengunjung

Belasan tahun silam, saya mengingat hanya mendengar obrolan banyak pengunjung, dengan berbagai bahasa lokal maupun asing, saat menapaki langkah menuju puncak landmark peninggalan sejarah Dinasti Syailendra, yang merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno, tersebut.

Tidak pernah saya bayangkan kompleks Candi Borobudur bisa semenenangkan itu, dengan tetap ada rombongan demi rombongan maupun pelancong dalam kelompok kecil. Selain penataan fisik, pembatasan jumlah pengunjung kiranya berdampak pada suasana tersebut.

Pgs. Commercial Group Head PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (PT TWC), Yusuf Eko Nugroho, mengatakan di Magelang, Selasa, "Secara resmi (kuota pengunjung harian yang diizinkan naik Candi Borobudur) masih di angka 1.200."

"Hanya saja, aturan sekarang lebih fleksibel. Kalau turun dua, berarti naik dua, karena ada orang yang baru sampai lantai dua, misalnya, cape, kemudian turun," ia menambahkan.

Hati yang Penuh

Yusuf menambahkan, "Kami membuka kuota terbesar untuk naik candi memang di Traveloka, karena dari semua OTA, Traveloka menyumbang 70 persen (jumlah pemesanan)."

Sementara visual baru kompleks Candi Borobudur jelas menangkap pandangan mata, tapi saya pikir, yang benar-benar membuat hati saya penuh adalah pramuwisata─pamong carita dalam sebutan setempat─yang menemani kami selama kunjungan.

Ia adalah Mura Aristina, yang pernah mengantarkan Raja Charles III, Putri Thailand Maha Chakri Sirindhorn, Putra Mahkota Norwegia Haakon, mantan Presiden Singapura Tony Tan Keng Yam, Raja Swedia Carl XVI Gustaf, serta mantan Presiden Amerika Barack Obama ketika menyambangi candi tersebut.

Kami dibimbing melihat satu per satu ruang pamer di Museum Borobudur. Tidak semata memaparkan sejarah, Mura memberi "nyawa" dalam pemanduannya, entah melalui pemilihan kata maupun peragaan yang membuat kami menyahut, "Ooooh."

Kembali Jadi Gelas Kosong

Salah satunya, Mura berkata, "Ini adalah patung Buddha dengan sikap tangan tertinggi: Dharmachakra Mudra. Jadi, Budha itu artinya kesadaran, hidup berputar, seperti roda kehidupan. Siang, malam, sehat, sakit, kaya, miskin, hidup, dan mati.

"Ini Budhha-nya kayak tidur ya, mbak? Tapi, tidak. Dia hanya melihat ujung hidungnya. Jadi, Dia tidak melihat orang lain. Itulah simbol ketenteraman. Apa yang kita miliki, ya sudah, itulah punya kita."

Kunjungan ini membuat saya terpikir untuk kembali jadi gelas kosong, bahkan ketika mengunjungi tempat-tempat yang pernah saya singgahi. Dalam kurun waktu tersebut, bisa saja destinasi itu berubah, atau malah diri saya yang demikian.

Eksplorasi ini merupakan bagian dari kampanye Pesta Diskon 17-an Traveloka dalam rangka HUT ke-80 RI. Berlangsung hingga 17 Agustus 2025, kampanye ini mengajak masyarakat mengeksplorasi budaya, kuliner lokal, dan destinasi-destinasi Nusantara.

Foto Pilihan

Penari Reog Ponorogo dari Sedulur Warok Ponorogo Bekasi beraksi saat pembukaan acara Parade Wastra Nusantara 2025 yang di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Jumat (8/8/2025). (KapanLagi.com/Budy Santoso)
Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |