Jerawatan dan Kulit Kering Rentan Terjadi Selama Ramadan, Bagaimana Cara Mengatasinya?

17 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Pola makan yang berubah selama berpuasa Ramadan ternyata berpengaruh pada kesehatan kulit. Kulit kering, kusam, hingga jerawatan adalah sederet masalah kulit yang rentan terjadi bila kita tak mengatur pola makan yang tepat, khususnya tidak mengontrol asupan makanan manis saat berbuka.

"Kalau bulan Ramadan sudah pasti asupan cairan berkurang. Kulit bisa mengalami dehidrasi, terasa lebih kering, bahkan turn over sel kulit jadi lebih lambat dibandingkan kulit yang terhidrasi dengan baik," ujar dr. Lusiyanti, M.Med, Sp.DVE ditemui di sela Grand Opening Dermaverse Clinic di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, Sabtu, 21 Februari 2026.

Ia menambahkan, dehidrasi pada kulit dapat memperparah garis halus serta membuat wajah tampak lebih kusam. Selain itu, lonjakan gula darah akibat konsumsi makanan manis saat berbuka juga berisiko memicu jerawat.

"Kalau buka puasa langsung makanan manis, gula darah melonjak. Itu tidak bagus untuk hormon dan bisa memicu acne atau komedo," jelasnya.

Hal senada juga disampaikan dr. Irwan Saputra Batubara, M.Sc., Sp.DVE. Ia menjelaskan bahwa secara medis, ketika tubuh kekurangan cairan, kadar air dalam kulit ikut menurun. Elastisitas berkurang, kulit terasa lebih tipis, dan jika dicubit, waktu kembalinya lebih lama. Ini menandakan skin laxity atau penurunan kekencangan kulit.

dr. Irwan menyebut kondisi itu sering disertai munculnya bintik hitam atau pigmentasi yang terlihat lebih jelas saat kulit kering. "Pasien biasanya datang dengan keluhan kulit lebih kusam, ada flek, atau garis halus makin terlihat. Itu tanda hidrasi dan kolagen mulai menurun," katanya. 

Perawatan Skin Booster di Masa Ramadan

Selain itu, kebiasaan tidur yang berubah selama Ramadan juga berpengaruh. Kurang istirahat dapat memperburuk regenerasi kulit. Maka itu, perawatan kulit selama Ramadan sebaiknya difokuskan pada hidrasi, perbaikan tekstur, dan stimulasi kolagen secara bertahap tanpa downtime panjang.

Untuk kulit yang cenderung kering, dr. Lusiyanti menyarankan skin booster berbasis hyaluronic acid atau DNA salmon. Perawatan ini berfungsi menarik dan mengikat air di dalam kulit sehingga kelembapan lebih terjaga.

"Kalau kulit terlalu kering, kami tidak langsung rekomendasikan tindakan tightening seperti Oligio X. Biasanya kita perbaiki dulu dengan skin booster," jelas dr. Lusiyanti. 

dr. Lusiyanti menerangkan bahwa perawatan skin booster maupun DNA salmon memiliki downtime yang relatif minimal. Prosedur ini menggunakan alat bernama Derma Sinepro dengan jarum berukuran sangat kecil, sehingga bekas suntikan biasanya hanya tampak kemerahan ringan.

"Biasanya cuma pink sebentar, sekitar dua jam sudah hilang. Jadi pasien tetap bisa beraktivitas," jelasnya. 

Jenis Perawatan Kulit Lain yang Menunjang Kesehatan

Treatment ini umumnya dapat dilakukan mulai usia 20 tahun ke atas, terutama bagi mereka yang mulai mengalami kulit kering, dehidrasi, atau tanda penuaan dini. Kulit menjadi lebih lembap, kenyal, dan tampak lebih sehat dibandingkan sebelumnya. Idealnya, perawatan skin booster dilakukan dua minggu sebelum hari raya agar hasilnya optimal.

Setelah skin booster, dr. Lusiyanti juga merekomendasikan teknologi laser seperti Pico Majesty yang diperkenalkan sebagai solusi untuk pigmentasi dan tanda penuaan. Laser ini bekerja pada lapisan kulit untuk membantu mencerahkan noda tanpa downtime yang lama.

Umumnya, kulit akan mengalami kemerahan ringan setelah tindakan berlangsung sekitar dua jam sudah hilang, tergantung sensitivitas kulit masing-masing pasien. Maka itu, waktu perawatan berbasis laser atau tightening perlu disesuaikan dengan kondisi kulit dan waktu pemulihan.

"Untuk pigmentasi dan anti-aging, Pico Majesty cukup efektif. Glowing bisa didapat karena kulit lebih cerah dan bebas noda, tapi bukan untuk hidrasi. Jadi tetap perlu dikombinasikan dengan treatment lain," imbuhnya.  

Rekomendasi Perawatan Pengencangan Kulit Non-invasif

Bagi pasien yang ingin memperbaiki kekencangan wajah tanpa operasi, klinik itu menyediakan teknologi Oligio X, yakni sebuah perangkat skin tightening non-invasif tanpa pembedahan yang dapat membantu mengencangkan dan meremajakan kulit dengan teknologi yang aman dan nyaman dengan sistem cooling. Perawatan itu diklaim minim rasa sakit dan tanpa masa pemulihan panjang, sehingga pasien dapat langsung beraktivitas.

Hasilnya biasanya mulai terlihat bertahap dalam 2--4 minggu setelah tindakan seiring proses stimulasi kolagen, dan dapat bertahan hingga sekitar 6–12 bulan, tergantung kondisi kulit, usia, serta perawatan lanjutan masing-masing pasien. Dalam acara pembukaan tersebut, para founder menegaskan bahwa klinik ini tidak hanya fokus pada estetika, tetapi juga pengobatan berbagai masalah kulit dari usia dini hingga lansia.

"Harapan kami sederhana, semoga klinik ini bukan hanya tempat orang mempercantik diri, tetapi tempat di mana pasien merasa didengar dan dipahami dengan tulus," ujar dr. Lusiyanti dalam sambutan. Pendekatan personal menjadi kunci, karena tidak semua kulit bisa mendapatkan treatment yang sama.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |