Jam Gadang Bukittinggi Berusia 1 Abad pada Juni 2026, Bakal Dirayakan dengan Kegiatan Kebudayaan

1 week ago 38

Liputan6.com, Jakarta - Jam Gadang yang berada di tengah Kota Bukittinggi akan berusia genap satu abad pada Juni 2026. Untuk merayakan momen tersebut, Pemerintah Kota Bukittinggi berencana menggelar berbagai kegiatan kebudayaan dan kegiatan edukatif, termasuk seminar nasional dan internasional.

"Jam Gadang merupakan simbol sejarah. Hingga kini, jam gadang tetap berdiri kokoh tanpa mengalami pergeseran. Ini menjadi bukti nilai arsitektur dan keteknikan yang sangat tinggi," kata Wali Kota Bukittinggi Muhammad Ramlan Nurmatias saat beraudiensi dengan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026, mengutip rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com.

Ia menyatakan bahwa pihaknya telah meluncurkan logo Satu Abad Jam Gadang. Sementara, rangkaian kegiatan untuk memeriahkan peringatan tersebut masih terus digodok dengan melibatkan ilmuwan, budayawan, seniman, arsitek, serta insinyur sipil.

Selain itu, pihaknya juga berencana berkomunikasi dengan Duta Besar Belanda dan Jerman untuk Indonesia sebagai pembicara seminar. Itu mengingat Jam Gadang dibangun pada masa kolonial dan menggunakan mesin jam buatan Jerman yang hingga kini masih berfungsi dengan baik. Hasil seminar tersebut direncanakan akan dibukukan sebagai referensi pengembangan Jam Gadang ke depan.

Menanggapi hal tersebut, Menbud mendukung rencana peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional pada akhir 2025. Menurutnya, peringatan tersebut sejalan dengan upaya pemajuan kebudayaan dan penguatan sejarah nasional.

"Kami mendukung rencana peringatan 100 tahun Jam Gadang, apalagi dikaitkan dengan berbagai kegiatan kebudayaan yang juga penting di dalam pemajuan kebudayaan kita," kata Menbud.

Usulan Jadikan Bukittinggi Kota Perjuangan

Selain dukungan pemerintah, Menbud Fadli Zon juga mendorong Pemerintah Kota Bukittinggi membangun kolaborasi dengan pihak swasta, filantropis, serta anggota DPR yang mewakili daerah pemilihan Sumatera Barat, guna memperkuat realisasi kegiatan peringatan Satu Abad Jam Gadang.

"Dengan pembagian peran pada setiap kegiatan, dukungan akan lebih mudah dihimpun dan pelaksanaan peringatan satu abad Jam Gadang dapat berjalan lebih optimal," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Ramlan juga menyampaikan rencana menjadikan Bukittinggi sebagai kota perjuangan, mengingat peran strategis kota tersebut dalam sejarah bangsa Indonesia. Bukittinggi pernah menjadi pusat pemerintahan pada berbagai masa, termasuk sebagai ibu kota Provinsi Sumatera, Sumatera Tengah, Sumatera Barat, serta pusat pemerintahan pada masa pendudukan Belanda dan Jepang.

"Bukittinggi, Jakarta, dan Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dalam sejarah bangsa. Bukittinggi adalah salah satu dari tiga daerah penerima duplikat Bendera Pusaka dan memiliki peran penting dalam masa perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan," ucapnya.

Sejarah Awal Jam Gadang Bukittinggi

Mengutip kanal Regional Liputan6.com, Jam Gadang dibangun pada 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada controleur (semacam pejabat pengawas) di wilayah Fort de Kock, nama lama Bukittinggi saat masa kolonial. Arsitekturnya unik karena dibangun tanpa menggunakan besi penyangga dan semen, melainkan hanya menggunakan campuran kapur, putih telur, dan pasir.

Gaya bangunannya pun mengalami perubahan seiring waktu, mencerminkan dinamika sejarah bangsa. Awalnya, menara ini memiliki atap bergaya Eropa dengan ornamen khas kolonial.

Lalu, saat pendudukan Jepang, atapnya diubah menjadi menyerupai pagoda. Setelah Indonesia merdeka, bentuk atapnya kembali disesuaikan dengan budaya lokal, atap bergonjong empat seperti rumah adat Minangkabau.

Setiap perubahan bentuk arsitektur Jam Gadang mencerminkan kekuasaan yang tengah berkuasa pada zamannya sebuah transformasi yang membuat monumen ini tak hanya sebagai penjaga waktu, tetapi juga penanda perubahan zaman yang signifikan.

Nadi Kehidupan Masyarakat Bukittinggi

Pada masa agresi militer Belanda, kawasan sekitar Jam Gadang menjadi titik vital karena kedekatannya dengan pusat pemerintahan dan militer. Di masa revolusi fisik, suara lonceng Jam Gadang kerap dijadikan penanda waktu bagi para pejuang untuk menyusun strategi dan menyampaikan informasi.

Jam Gadang bahkan menjadi tempat pengibaran bendera merah putih pertama di Bukittinggi sesaat setelah berita proklamasi kemerdekaan tersiar. Lapangan di sekitarnya kerap digunakan untuk menggelar pidato-pidato perjuangan, rapat akbar, dan bahkan demonstrasi selama masa kolonial dan pascakemerdekaan.

Momen itu menjadikan menara jam ini sebagai simbol keberanian dan harapan masyarakat Minang dalam menyambut Indonesia yang merdeka. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Jam Gadang telah menjadi nadi kehidupan sosial dan politik Bukittinggi sejak awal pembangunannya hingga kini.

Bagi siapa pun yang berkunjung ke Bukittinggi, mampir ke Jam Gadang bukan sekadar aktivitas wisata, melainkan sebuah ziarah budaya dan sejarah perenungan akan masa lalu yang membentuk masa kini dan masa depan bangsa Indonesia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |