Jalan Hidup yang Tidak Selalu Siap, Mimpi Kuliah Gak Harus Tertunda

1 week ago 26

Di tengah hidup yang makin sibuk, keinginan kuliah sebenarnya nggak pernah benar-benar hilang. Tapi juga nggak pernah jadi prioritas utama. “Ada aja momennya kepikiran. Biasanya pas capek banget, atau pas lihat temen-temen upload wisuda. Tapi habis itu mikir lagi, kapan ya waktunya? Aku kerja, capek, hidup juga lagi padat. Kayaknya nggak mungkin,” kata Ayu.

Di kepalanya, kuliah identik dengan datang ke kampus, jadwal kaku, dan waktu yang susah dibagi sama kerjaan. Kalau harus seperti itu, Ayu ngerasa dia nggak bakal kuat. Akhirnya, niat kuliah itu disimpan lagi.. nanti dan nanti lagi, terus selalu begitu.

Di Jakarta, Hidup Terus Berjalan Tapi Satu Mimpi Terus Nanya

Setelah masa kerjanya selesai, Ayu pindah ke Jakarta. Bukan buat istirahat, bukan juga buat jeda. Di sana, dia bantu usaha tante dan omnya. Hidupnya tetap penuh tanggung jawab yang harus dijalanin tiap hari. Rutinitasnya nggak jauh beda: bantu usaha keluarga, pulang, istirahat, lalu ngulang lagi. Tapi justru di fase ini, pikiran soal kuliah makin sering datang.

“Di Jakarta itu aku makin kepikiran kuliah. Soalnya aku ngerasa hidupku tuh jalan terus, pindah kota terus, tapi ada satu hal yang selalu ketunda dan nggak pernah kesampaian,” katanya. Di titik ini, Ayu mulai mikir lebih serius. Bukan sekadar pengin, tapi pengin mulai. Cuma satu pertanyaannya masih sama: gimana caranya kuliah tanpa harus berhenti jalanin hidup yang udah kayak gini?

Bukan soal mau atau nggak mau. Tapi soal caranya. Soal waktu. Soal tenaga. Soal apakah mungkin ngejalaninnya tanpa harus mengorbankan hidup yang sudah berjalan saat ini. Ayu sempat nyari jawaban ke mana-mana. Dari mikir kuliah konvensional, sampai ngebayangin harus ngulang dari nol. Tapi semua opsi itu selalu mentok di satu hal yang sama: hidupnya nggak bisa berhenti.

Jawaban yang Datang Tanpa Dicari

Di tengah semua pertanyaan itu, perlahan niatnya pudar. Hidupnya sudah cukup penuh buat mikir terlalu jauh. Sampai suatu hari, Ayu ngobrol santai sama sepupunya. Obrolan biasa mengalir awalnya cuma cerita kerja, capek, dan hidup yang rasanya muter di situ-situ aja.

Dari situ, obrolannya pelan-pelan nyenggol ke soal kuliah. Sepupunya cerita pengalaman sendiri. Tentang gimana dia tetap kerja, tetap jalanin hidup, tapi kuliah masih bisa diurus tanpa harus ribet datang ke kampus tiap hari. Ayu lebih banyak denger. Nggak langsung nanya ini-itu. Tapi ceritanya nempel. Buat pertama kalinya, gambaran kuliah yang dia denger nggak berbenturan sama hidup yang lagi dia jalanin.

Ayu ninggalin obrolan itu tanpa kesimpulan apa-apa. Nggak ada keputusan, nggak juga rencana baru. Tapi sejak saat itu, pertanyaan soal kuliah jadi balik lagi ke kepalanya, dengan bentuk yang sedikit berbeda. Bukan lagi soal mau atau nggak mau, tapi soal mungkin atau nggaknya.

Dari cerita sepupunya, Ayu mulai sadar kalau ada orang yang bisa tetap kerja, tetap jalanin hidupnya, tanpa harus ninggalin rencana kuliah. Belakangan, baru dia tahu kalau pola kuliah yang diceritain itu datang dari Universitas Terbuka. Bukan jawaban instan, tapi cukup bikin Ayu berhenti mikir kalau kuliah berarti harus berhenti jalanin hidup.

Butuh waktu buat Ayu sampai benar-benar siap. Dia mikir, nimbang, dan nyesuaiin dengan hidup yang lagi dia jalanin. Sampai akhirnya, di satu titik, dia ngerasa yakin buat mulai.

Ayu pun memilih mendaftar di Universitas Terbuka Jakarta. Bukan karena semuanya sudah rapi. Tapi justru karena hidupnya belum rapi dan dia butuh cara kuliah yang bisa mengikuti jadwal hidupnya.

“Kalau harus nunggu hidup rapi dulu, kayaknya aku nggak bakal mulai. Jadi ya udah, mulai aja dulu,” ceritanya.

Beberapa waktu kemudian, Ayu pindah ke Ternate karena kesempatan kerja yang lebih baik. Di sana, dia bekerja sebagai ASN dan tetap bantu usaha keluarga bareng tantenya. Tapi satu hal nggak berubah: kuliahnya tetap jalan, tanpa harus dia bongkar ulang hidup yang sudah ada.

Ternyata yang Perlu Fleksibel Itu Kuliahnya, Bukan Hidupnya

Kuliah akhirnya nyelip di sela-sela hari Ayu. Tugas dikerjain pakai waktu yang ada malam hari, pas libur, atau sesekali kejar-kejaran sama tenggat. Semuanya jalan tanpa harus mikir bolak-balik ke kampus.

“Capek pasti. Tapi capeknya beda. Capek yang ada arahnya,” kata Ayu.

Buat Ayu, kuliah di UT bukan soal pilihan paling ideal, tapi yang paling mungkin dijalanin barengan sama hidupnya sekarang.

“Kalau nggak ada UT, aku kayaknya nggak bakal kuliah sampai sekarang. Waktu itu aku bingung, kuliah harus tatap muka tiap hari, sementara kerjaan juga nggak bisa ditinggal.”

“Universitas Terbuka hari ini bukan lagi sekadar opsi. Tapi jadi pilihan yang relevan dengan kondisi hidup banyak orang sekarang saat hidup menuntut terus jalan, tapi mimpi juga nggak boleh ditinggalin,” tutur Ayu.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |