Hibah Renovasi Toilet Kedai Kopi Senilai Total Rp 66,5 Miliar yang Menuai Pro Kontra

1 day ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Program hibah renovasi toilet untuk kedai kopi di Singapura menuai beragam respons dari para pengelola. Sebagian menyambut baik karena membantu meningkatkan standar kebersihan, sementara yang lain masih mempertimbangkan faktor biaya, keterbatasan ruang, serta potensi gangguan operasional.

Melansir CNA, Jumat, 20 Februari 2026, pemilik Coffee Sense, Ben Leem (48), menjadi salah satu pengelola yang memutuskan merenovasi toilet kedainya. Keputusan itu diambil setelah usahanya gagal memenuhi standar kebersihan yang ditetapkan Badan Pangan Singapura (SFA), sehingga dikenai denda dan poin penalti.

Menurut Leem, renovasi memang sudah lama diperlukan. Ia mengakui bahwa meski toilet dibersihkan dua kali sehari, penggunaan intensif menyebabkan ubin rusak dan muncul noda yang sulit dihilangkan.

"Kami menggunakan bahan pembersih yang cukup kuat, tapi justru beberapa di antaranya bersifat mengikis dan membuat ubin cepat rusak," ujarnya.

Ketika mengetahui adanya hibah renovasi toilet dari Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA), Leem segera mengajukan permohonan. Program tersebut menawarkan pendanaan hingga 95 persen dari biaya renovasi, dengan batas maksimal 50 ribu dolar Singapura (setara Rp 665 juta) per kedai kopi.

Selain itu, tersedia hibah pembersihan mendalam yang juga didanai bersama hingga 95 persen untuk kontrak dua tahun, dengan batas 25 ribu dolar Singapura (sekitar Rp 332,5 juta).

Dua skema hibah senilai total 5 juta dolar AS (setara Rp 66,5 miliar) ini diumumkan tahun lalu menyusul rekomendasi Satuan Tugas Toilet Umum Singapura, dengan tujuan meningkatkan standar kebersihan toilet di kedai kopi Negeri Singa.

Setelah Renovasi

Hingga 31 Januari 2026, NEA telah menerima 175 aplikasi sejak program dibuka pada 3 November 2025. Coffee Sense menjadi kedai pertama yang menyelesaikan renovasi di bawah skema tersebut.

Kini, toiletnya dilengkapi keran sensor, urinoir panjang penuh di area pria, serta perlengkapan baru. "Perbedaannya sangat signifikan. Tidak ada lagi bau tidak sedap,” kata Leem.

Beberapa pengelola lain juga mengajukan hibah dengan alasan serupa, toilet sudah tua dan mengalami keausan akibat penggunaan berat.

Seorang pengelola menyebutkan renovasi terakhir di kedainya dilakukan sekitar 10 tahun lalu dan hanya bersifat minor. Ia mengaku khawatir terhadap sistem demerit poin SFA, di mana akumulasi 12 poin dalam setahun dapat memicu penangguhan operasional selama satu hingga tiga hari.

Hindari Denda dan Penangguhan

"Jika ditangguhkan, bukan hanya penjualan kopi yang terdampak. Kami juga menyewakan kios. Jika harus tutup, semua kehilangan pendapatan," ujarnya.

Kenneth Lee, pemilik kedai Hai Fong di Toa Payoh, mengatakan, kedainya belum pernah didenda, tapi mengakui kondisi toiletnya belum sepenuhnya memenuhi standar.

Meski demikian, tidak semua pengelola tertarik mengikuti program hibah renovasi toilet. Beberapa menyampaikan kekhawatiran terkait biaya tambahan, gangguan bisnis selama renovasi, serta keterbatasan ruang.

Wong Kee Mee, pemilik Keng Wah Sung di Jalan Geylang, memilih tidak mengajukan hibah yang dimaksud. Kedainya yang bergaya lama hanya memiliki dua bilik toilet dan dua urinoir, sehingga ruang untuk peningkatan sangat terbatas, sebutnya.

Keterbatasan Ruang

"Karena ini kedai kopi gaya lama, tidak banyak yang bisa kami ubah. Ruangnya memang terbatas,” katanya.

Tahun lalu, kedainya didenda total 2.000 dolar Singapura (setara Rp26,6 juta) atas dua pelanggaran kebersihan. Meski begitu, Wong memilih fokus memperbaiki rutinitas pembersihan harian ketimbang melakukan renovasi besar.

Lembaga Asosiasi Toilet Singapura menilai upaya penegakan dan edukasi sudah menunjukkan dampak, tapi mengubah pola pikir pengelola tetap menjadi tantangan. Presiden asosiasi, Ho Chee Kit, mengatakan, sebagian pemilik belum melihat korelasi langsung antara toilet bersih dan peningkatan pendapatan.

"Berbeda dengan pusat perbelanjaan yang ingin pengunjung berlama-lama, di kedai kopi, orang biasanya datang, makan, lalu pergi. Jadi lebih sulit meyakinkan mereka," ujarnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |