Hari Puisi Nasional 2026, Fadli Zon Ungkap Rencana Kirim Patung Chairil Anwar ke Rusia

9 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Bertepatan dengan peringatan Hari Puisi Nasional 2026, Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon bersama sejumlah sastrawan berziarah ke makam Chairil Anwar di TPU Karet Bivak, Jakarta. Dalam kesempatan itu, terlontar niat Menbud untuk mengirimkan patung sang penyair angkatan 45 itu ke Rusia.

Rencana pemasangan patung Chairil Anwar di Rusia tersebut bukan tanpa sebab. Menurutnya, beberapa waktu lalu, negeri beruang merah telah menyumbangkan patung Leo Tolstoy ke Universitas Indonesia sehingga Indonesia dinilai perlu menyumbang patung yang merepresentasikan sastrawan Indonesia di Rusia.

"Nantinya patung tersebut akan ditempatkan di salah satu universitas yang memiliki kajian Bahasa Indonesia, seperti di St. Petersburg atau Moskow," kata Menbud, dikutip dari siaran pers yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Selasa, 28 April 2026.

Nama Chairil Anwar dinilai layak lantaran karya-karyanya berpengaruh besar dan tetap hidup hingga saat ini. Puisi Antara Karawang dan Bekasi dan Aku merupakan salah dua dari sederet karya yang dihasilkan sang pujangga dalam usia yang relatif singkat dan dikenang hingga generasi masa kini.

"Chairil Anwar yang wafat pada usia 27 tahun telah menghasilkan puluhan puisi yang terus menjadi inspirasi lintas generasi," kata Menbud. Tanggal wafatnya, yakni 28 April 1949, bahkan mendasari peringatan Hari Puisi Nasional.

Dalam kesempatan itu, Fadli Zon membacakan salah satu puisi Chairil Anwar berjudul 'Yang Terampas dan Yang Putus'. Puisi itu menjadi salah satu karya yang tercantum dalam buku Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus yang diterbitkan pada 1949, tahun wafatnya.

Putri Tunggal Chairil Anwar Hadiri Peringatan Hari Puisi Nasional

Acara peringatan itu digagas oleh keluarga Chairil Anwar, khususnya Evawani Aissa, putri tunggalnya. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan terima kasih dan rasa harunya karena 76 tahun sejak wafatnya Chairil Anwar, masyarakat masih terus mengenang dan menghormati karya-karyanya.

Selepas menaburkan bunga, beberapa penyair seperti Imam Ma'arif dan Jose Rizal Manua, membacakan beberapa puisi karya Chairil Anwar. Acara dilanjutkan dengan diskusi “Apa Pentingnya Chairil Anwar Bagi Indonesia,” yang menghadirkan akademisi dan kritikus sastra dari Universitas Indonesia, Maman Mahayana.

Maman menyampaikan bahwa upaya yang dirintis oleh para pegiat budaya yang tergabung dalam Komunitas Sastra Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) ini merupakan sesuatu yang penting dan menjadi investasi masa depan, terutama dalam menanamkan nilai-nilai yang membentuk cara berpikir dan bersikap.

Peran Chairil Anwar dalam sastra Indonesia telah membentuk identitas budaya Indonesia pasca-kemerdekaan yang dikenal sebagai Angkatan '45. Semangat dan keberanian Chairil dalam berkarya terus menginspirasi generasi demi generasi untuk merawat bahasa, menyalakan imajinasi, dan menyuarakan zamannya.

Peringatan Hari Puisi Lainnya

Ternyata, sosok Chairil Anwar tidak hanya menginspirasi peringatan Hari Puisi Nasional, tapi juga Hari Puisi Indonesia. Perbedaannya, perinngatannya merujuk pada tanggal kelahiran sang pujangga, yakni 26 Juli. Chairil lahir di Medan pada 26 Juli 1922.

Peringatan itu dilatari deklarasi Hari Puisi Indonesia oleh sekitar 40 penyair di Riau pada 22 November 2012. Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, mendeklarasikan teks penetapan Hari Puisi Indonesia tersebut.

Usai ditetapkan, Yayasan Hari Puisi didirikan. Yayasan ini terus mendukung Hari Puisi Indonesia agar tetap konsisten dan berkelanjutan hingga sekarang.

Didirikannya Yayasan Hari Puisi juga bertujuan sebagai wadah dan payung kreatif bagi kegiatan perpuisian di Indonesia. Festival Hari Puisi Indonesia menjadi salah satu program utama Yayasan Hari Puisi yang diusahakan dapat berlangsung setiap tahun.

Hari Puisi Nasional dan Hari Puisi Indonesia memiliki perbedaan dalam fokus peringatannya. Hari Puisi Nasional berfokus pada mengenang Chairil Anwar dan kontrobusinya terhadap sastra Indonesia, sementara Hari Puisi Indonesia berfokus pada pengembangan puisi modern dan penyair Indonesia di masa mendatang.

Sosok Chairil Anwar

Mengutip kanal Citizen Liputan6.com, Chairil Anwar mulai menapaki dunia sastra sejak usia 19 tahun. Ia mulai dikenal luas setelah puisinya dimuat dalam majalah Nisan pada 1942. Sejak saat itu, gaya puisinya yang lugas, berani, dan penuh semangat perlawanan menarik perhatian banyak orang. Ia dianggap membawa angin segar dalam dunia kepenyairan yang kala itu masih terikat pada gaya klasik.

Tak hanya menulis puisi, Chairil juga aktif sebagai jurnalis dan penulis naskah drama. Ia pernah menjadi redaktur di majalah Pujangga Baru yang merupakan wadah bagi para sastrawan muda saat itu. Melalui karya dan kiprahnya, ia turut membentuk identitas Angkatan '45—sebuah kelompok sastrawan yang lantang menyuarakan kritik terhadap kondisi sosial-politik di Indonesia.

Perjalanan hidup Chairil Anwar terhenti terlalu cepat. Ia meninggal dunia pada 28 April 1949 di usia yang baru menginjak 27 tahun. Namun, karya-karyanya seperti "Aku", "Karawang-Bekasi", dan "Derai-Derai Cemara" tetap hidup dan menjadi inspirasi lintas generasi. Hingga kini, Chairil Anwar dikenang bukan hanya sebagai penyair, tapi juga sebagai simbol semangat perjuangan lewat kata-kata.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |