Dr. Birute Mary Galdikas Meninggal Dunia, Selamat Jalan Ibu Orang Utan Kalimantan

2 days ago 17
  • Siapa Dr. Birute Mary Galdikas?
  • Kapan dan di mana Dr. Birute Mary Galdikas meninggal dunia?
  • Apa kontribusi utama Dr. Galdikas terhadap konservasi orang utan?

Baca artikel ini 5x lebih cepat

Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka datang dari dunia konservasi orang utan Indonesia. Dr. Birute Mary Galdikas yang berjuluk sebagai ibu orang utan Kalimantan meninggal dunia pada Selasa, 24 Maret 2026, di Los Angeles, California. Ia mengembuskan napas terakhirnya hanya tujuh minggu sebelum genap berusia 80 tahun, setelah melawan kanker paru-paru.

Dalam siaran pers resmi yang dirilis Orangutan Foundation International (OFI), dikutip Kamis (26/3/2026), kepergian Dr. Birute digambarkan menandai 'berakhirya era ikon konservasi legendaris'. Ia adalah satu-satunya yang masih hidup dari kelompok Trimates atau Leakey's Angels, sekelompok wanita peneliti perintis primata, termasuk Dr. Jane Goodall dan Dr. Dian Fossey, yang masing-masing mempelajari simpanse dan gorila.

Ketiganya merupakan anak bimbingan ahlo paleoantropologi terkenal Dr. Louis Leakey. Mereka dianggap merevolusi pemahaman umat manusia tentang kerabat terdekat kita yang masih hidup di kerajaan hewan, dan 'pada gilirannya tentang diri kita sendiri'.

"Dr, Galdikas akan dikenang karena tekad dan semangatnya yang luar biasa dalam melindungi satu-satunya kera besar di Asia, orang utan. Dr. Galdikas sering menekankan bahwa orang utan bukanlah nenek moyang kita sepenuhnya, tetapi hampir," bunyi pernyataan OFI.

Dr. Galdikas memulai studi longitudinalnya tentang orang utan Kalimantan pada 1971 di Camp Leakey, yang ia namai untuk menghormati mentornya, di tempat yang sekarang menjadi Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Penelitian perilaku dan ekologisnya merupakan studi yang dipimpin secara individual terpanjang pada satu spesies dalam sejarah.

Keluar Masuk Hutan Kalimantan demi Orang Utan

Pengabdian Dr. Birute pada orang utan tak main-main. Ia tak segan berjalan kaki menembus rawa setinggi pinggang dari sebelum fajar hingga setelah gelap untuk mengamati individu orang utan dalam empat tahun pertamanya di Camp Leakey. Penemuan-penemuan awalnya, termasuk mendokumentasikan beragam buah dan tumbuhan yang dimakan orang utan liar, mengamati interval kelahiran terpanjang yang pernah tercatat, dan menjelaskan perilaku sosial serta pola aktivitas harian, membentuk dasar pemahaman dunia tentang orangutan dan tempat unik mereka dalam pohon kehidupan.

Atas dedikasinya, Dr. Birute segera menjadi ahli de facto dan mitra tepercaya bagi pemerintah Indonesia dengan mendirikan upaya rehabilitasi orang utan skala besar dan jangka panjang pertama di Indonesia. Komitmen penuhnya untuk merawat orang utan yatim piatu yang seringkali trauma dan dianiaya yang telah ditahan di penangkaran memberi mereka kesempatan kedua untuk hidup di alam liar.

Kecintaannya yang tak pernah padam terhadap para individu orang utan itu memberinya akses yang belum pernah terjadi sebelumnya ke dalam pikiran orang utan. Saat ia merawat orang utan yatim piatu, seringkali secara bersamaan mengikuti dan mempelajari induk orang utan liar. 

Ibu Para Orang Utan

Hubungan intim ini memicu misi spiritual Dr. Galdikas untuk melindungi keberadaan primordial orangutan di alam liar. Liputan6.com berkesempatan melihat interaksi intim Dr. Birute saat menyambangi Tanjung Harapan di Kalimantan Tengah, pada September 2019.

Ada ketentuan bahwa setiap pengunjung wajib menjaga jarak dari orang utan liar minimal lima meter. Tapi, Dr. Birute ditemani rekannya duduk santai memandangi 'anak-anaknya' di bangku yang berjarak sekitar satu meter. Saat itu, ada induk orang utan dan bayinya serta orang utan jantan dewasa sedang menikmati sesi makan dari atas panggung.

Para individu orang utan itu tak merasa terganggu, apalagi terancam dengan kehadiran manusia tersebut. Sesekali terdengar Dr. Birute bersuara, mencoba berkomunikasi dengan orang utan di hadapannya yang direspons dengan santai.

Menurut Dr. Birute, pariwisata membantu menyelamatkan hidup orang utan dengan membantu menjaga tempat konservasi sekaligus menambah pemasukan untuk membiayai gaji para pekerja. Data kasar menyebut ada 25 ribu wisatawan berkunjung ke Tanjung Puting dalam sebulan. Sementara, terdapat 250 orang lokal bekerja di sana.

"Selama teratur, tidak ada dampak jelek pada orang utan. Kita pakai contoh Rwanda dan Uganda yang mendirikan pariwisata untuk gorila gunung. Mereka mulai berkembang biak setelah pariwisata berlangsung teratur," katanya.

Memimpin Penetapan Tanjung Puting Sebagai Taman Nasional

Semangat dan dedikasi Dr. Birute yang tak tergoyahkan selama lebih dari lima dekade di Indonesia telah menempatkannya sebagai pakar terkemuka dunia tentang orang utan dan memberinya platform untuk mengadvokasi dengan penuh semangat. Ia berhasil memimpin penetapan kembali Tanjung Puting sebagai Taman Nasional dan memimpin Konferensi Kera Besar Dunia pertama pada 1991, membawa orangutan ke panggung global dan mengukuhkan orangutan sebagai ikon dan harta karun Indonesia. 

Dr. Birute adalah Profesor Penuh di Universitas Simon Fraser di Burnaby, Kanada, sejak tahun 1981, dan Profesor Luar Biasa di Universitas Nasional di Jakarta, Indonesia, sejak 1970-an. Ia membimbing ratusan mahasiswa dari Indonesia, Kanada, dan seluruh dunia saat mereka melakukan penelitian lapangan mereka sendiri di Camp Leakey.

Ia mengajar mata kuliah tentang asal usul manusia, perilaku primata, dan kera besar kepada ribuan mahasiswa selama beberapa dekade. Dr. Birute berkeliling dunia untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya, serta menekankan pentingnya perlindungan hutan hujan tropis, yang merupakan satu-satunya habitat orang utan.

Ia telah menerima beberapa penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi, termasuk Tyler Award, Explorers Medal, Order of Canada, dan penghargaan Satya Lencana dan Kalpataru Indonesia atas pengabdiannya kepada negara, yang diberikan langsung oleh Presiden Indonesia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |