Diplomasi Budaya Lewat Seni, Irlandia Hadirkan Ireland’s Eye 2026 di Jakarta

5 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Kedutaan Besar Irlandia di Indonesia bekerja sama dengan ISA Art Gallery menghadirkan pameran seni tahunan Ireland’s Eye 2026 di Lobby WTC 2, Jakarta Selatan, Selasa, 31 Maret 2026. Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, pameran ini menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya Irlandia untuk memperkenalkan identitas, sejarah, serta lanskap negaranya kepada publik Indonesia melalui karya seni visual.

Pameran ini menampilkan karya dari enam seniman Irlandia, sebagian besar berasal dari Graphic Studio Dublin, sebuah institusi seni cetak ternama yang telah berdiri selama 65 tahun. Total terdapat 13 karya yang dipamerkan, didominasi teknik carborundum print, serta satu karya film dari seniman muda.

Tema utama yang diangkat adalah the imprint of Irish landscape, yang mengeksplorasi hubungan emosional, psikologis, dan spiritual masyarakat Irlandia dengan lanskap alam mereka. Duta Besar Irlandia untuk Indonesia, Sharon Lennon, menyampaikan dalam pidato, "This is a story about place and its spirit. Art is a way for us to stay connected to our roots, even when we are far from home."

Presiden Direktur ISA Art & Design, Deborah Iskandar, menambahkan bahwa pameran ini juga bertujuan memperluas akses publik terhadap seni. "Kami ingin membawa seni ke ruang publik sehingga bisa dinikmati lebih banyak orang yang mungkin tidak punya kesempatan mengunjungi galeri atau museum," ucapnya dalam bahasa Inggris. 

Melalui pendekatan visual yang kuat, Ireland’s Eye 2026 tidak hanya mengajak pengunjung “berkunjung” ke Irlandia secara imajinatif, tetapi juga menemukan kesamaan nilai antara Irlandia dan Indonesia, terutama dalam relasi masyarakat dengan alam dan identitas budaya.

Seni sebagai Jembatan Diplomasi Indonesia–Irlandia

Pameran Ireland’s Eye 2026 menjadi salah satu bentuk nyata diplomasi budaya yang dilakukan Irlandia di Indonesia. Melalui seni, kedua negara berupaya membangun koneksi yang lebih dalam, tidak hanya secara formal, tetapi juga emosional dan kultural.

Sharon Lennon menekankan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menghubungkan berbagai latar belakang budaya. Ia menilai, meskipun Irlandia dan Indonesia memiliki perbedaan geografis dan budaya, keduanya memiliki kesamaan dalam memaknai tanah dan lanskap sebagai bagian penting dari identitas.

"Banyak orang Indonesia juga memiliki keterikatan kuat dengan tanah dan asal-usul mereka. Di situlah kami menemukan kesamaannya,” ujarnya.

Pameran ini juga membuka peluang kolaborasi lebih lanjut, termasuk pertukaran seniman, kurator, hingga pendidikan seni antara kedua negara. Hal ini diperkuat dengan keterlibatan Graphic Studio Dublin sebagai institusi seni cetak yang mendorong eksplorasi lintas generasi dan teknik.

Lanskap sebagai Identitas dan Memori Kolektif

Tema the imprint of Irish landscape menjadi benang merah dalam pameran ini. Konsep ini mengacu pada bagaimana lanskap tidak hanya dipahami secara fisik, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan memori, emosi, dan identitas kolektif masyarakat Irlandia.

Dalam budaya Irlandia, dikenal konsep spirit of place atau jiwa dari suatu tempat. Setiap wilayah diyakini memiliki karakter dan cerita yang melekat, yang kemudian diterjemahkan melalui bahasa, seni, dan tradisi.

Karya-karya dalam pameran ini merefleksikan hal tersebut, mulai dari lanskap pesisir Atlantik yang keras, pedesaan yang sunyi, hingga taman urban di Dublin. Setiap seniman menghadirkan interpretasi personal terhadap lanskap, baik melalui pendekatan abstrak maupun dokumenter.

Pendekatan ini juga menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi medium untuk merekam perubahan sosial, sejarah kolonial, hingga upaya pelestarian bahasa dan budaya lokal Irlandia.

Eksplorasi Teknik Cetak dan Inovasi Seniman Irlandia

Salah satu daya tarik utama pameran ini adalah penggunaan teknik carborundum print, yang memungkinkan seniman menghasilkan tekstur dan efek visual menyerupai lukisan. Teknik ini menjadi ciri khas Graphic Studio Dublin dan banyak digunakan oleh seniman yang terlibat.

Selain itu, beberapa seniman juga menggabungkan teknik lain seperti etsa dan penggunaan bahan ramah lingkungan. Seniman seperti Cleona Doyle, misalnya, berfokus pada praktik seni yang berkelanjutan dengan mengeksplorasi material yang lebih aman bagi lingkungan.

Keberagaman teknik ini menunjukkan bahwa seni cetak tidak sekadar reproduksi, tetapi juga medium ekspresi yang kompleks dan inovatif. Para seniman diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi tekstur, pola, hingga jejak emosional yang ingin mereka tuangkan dalam karya. Hal ini juga menjadi bagian dari edukasi bagi publik Indonesia mengenai perkembangan seni cetak kontemporer di Irlandia.

Narasi Personal Seniman dalam Lanskap Irlandia

Setiap karya dalam pameran ini membawa cerita personal dari para senimannya. Misalnya, karya Tony O’Malley yang baru memulai perjalanan seninya di usia 50 tahun setelah mengalami sakit, menghadirkan interpretasi abstrak lanskap Irlandia yang sarat emosi.

Sementara itu, seniman muda seperti Charlie Denin menggunakan medium film analog untuk menangkap lanskap County Kerry yang kaya akan mitologi dan tradisi leluhur. Pendekatan ini menciptakan pengalaman visual yang lebih autentik dan mendalam.

Ada pula seniman yang mengangkat tema kehilangan dan kesedihan melalui lanskap pedesaan, menunjukkan bagaimana ruang fisik dapat menjadi refleksi kondisi batin seseorang. Melalui beragam pendekatan ini, Ireland’s Eye 2026 tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga memperlihatkan bagaimana lanskap dapat menjadi medium untuk menyampaikan cerita, memori, dan identitas manusia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |